Arsip Blog

Nasab tidak menentukan nasib

“Gus ojo gemagus lek pengen dadi wong bagus”

Jika kita menginginkan keberkahan dan kemanfaatan ilmu yang kita dapatkan maka kita harus tadim dan menghormati guru atau kiai kiat dimanapun, kapanpun sedekat papaun tetap harus tazim, karena dengan memulyakan orang alim maka insyaAllah kita akan ketularan alim dan menjadi orang yang sholih dan ahli ilmu. Itu merupakan rumus kemanfaatan ilmu yang didoktrinkan disetiap pesantren dan majlis ilmu.

 

Ketika seorang ulama meninggal maka perjuangannya diteruskan oleh putranya yang acapkali disebut gus bila orang jawa, aceng bila di masyarakat sunda, atau raden bila di masyarakat Madura,Kita harus menghormati seorang anak putra kiai karena secara tidak langsung kita hormat kepada yai pula dan sebaliknya bila kita mencelanya maka maka secara tidak langsung kita mencela yai, mencela yai sama dengan mencela guru kita, mencela guru sama dengan mengundang ketidak manfaatan pada ilmu kita, ingat kisah pengarang kitab alfiyah ibnu malik mengatakan bahwa alfiyahnya lebih dari pada ibnu mu’ti seketika apa yang ingin beliau tulis hilang karena menyombongkan diri. Read the rest of this entry