Arsip Blog

EPISTIMOLOGI KHITAN

Khitan (sunat) bagi wanita dalam komunitas muslim mempunyai ragam pemahaman yang berbeda-beda, ada yang menganggap bahwa itu wajib, ada yang sunnah. Sunat merupakan tradisi yang cukup tua dan hampir dapat dijumpai di semua kebudayaan dan agama manapun.[1]

Sebelum islam, tradisi sunat dipraktekkan di mesir, Israel dan Afrika. Dari empat mazhab yang populer, hanya Mazhab Syafi’i yang menegaskan kewajiban bersunat bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan Imam Hanafi justru berpendapat sebaliknya, yaitu berkhitan bagi laki-laki sunah hukumnya sementara bagi perempuan tidak perlu kecuali untuk kehormatan.[2] Tradisi selanjutnya yang hidup dimasyarakat mewajibkan sunat bagi laki-laki dan sunat bagi perempuan. Praktek ini selanjutnya menjadi salah satu rite of passage yang penting dalam masyarakat  muslim. Di Afrika sunat perempuan lebih mengarah pada genital mutilation, sedangkan di Indonesia sunat perempuan diyakini sebagai sunnah[3]. Sunat bagi perempuan tersebar di beberapa daerah seperti Betawi, Jawa Barat, NTB, Madura, dll. Gradasi pola penyutananya juga beragam, dari yang memotong sedikit ujung klitoris, melukai ujung klitoris, hingga menggores klitoris dengan batang sirih. Apapun bentuknya yang terpenting adalah argument dibaliknya, sunat bagi laki-laki dapat bermanfaat untuk kesehatan, namun mungkin tidak pada sunat perempuan, sunat perempuan biasanya disandarkan pada argumentasi teologis yaitu penaklukan kebinalan peremuan.

Sehingga pemahaman terhadap ajaran islam yang bercampur dengan budaya lokal yang banyak mengaburkan pemikiran dan perbedaan pendapat  maka untuk itulah penulis ingin menyingkap khitan perempuan dalam pandangan dan tinjauan hadits dalam koleksi hadits Imam Ahmad

Dalam makalah ini sistematika yang penulis pakai yang pertama penulis mengambil sampel tema hadits dan sawahidnya melalui beberapa mukhorrijul hadits sebagai subtansi dan esensinya. Kedua penulis menelaah mencermati mengurai sampel hadits dan menganalisisnya. Ketiga penulis mengambil orang yang mempunya otoritas dalam jarkhu wa ta’dil dalam sanad hadits


[1] Menara Tebuireng. hal 258

[2] Ibid 258

[3] Ibid 258