Arsip Blog

Hukum ‘Azl dan Keluarga Berencana

index

 Para ulama berbeda pendapat dalam soal ‘azl ini. Adalah Hujjatul Islam, Imam Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111M./450-505 H.) dalam kitabnya, “Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn” telah meringkas dan merinci perbedaan pendapat para ulama dalam soal tersebut sebagai berikut:

Dalam soal ‘azl ini, para ulama ada yang membolehkan dan juga yang memakruhkannya dalam empat tempat: (1) ada yang membolehkan secara mutlak dalam keadaan apapun; (2) ada yang mengharamkan secara mutlak; (3) ada yang membolehkan dengan seizin isteri dan tidak boleh jika tanpa izinnya –pokok yang diharamkan dalam pendapat ini adalah haramnya menyakiti isteri, bukan ‘azl; (4) ada pula yang membolehkan jika dilakukan pada hamba sahaya yang dimiliki, dan bukan pada orang yang merdeka. Menurut hemat kami, yang benar hal itu hukumnya mubâh (boleh)…Menurut hemat kami, hal itu tidaklah terlarang dalam arti arti haram maupun keji. Sebab, memutuskan suatu perkara itu terlarang mesti berdasarkan pada keterangan dalil nash atau qiyâs atas suatu nash. Namun, tidak ada nash yang khusus menjelaskan hal ini, begitu pula asal nash untuk meng-qiyâs-kan persoalan tersebut. Bahkan kasus ini menjadi asal masalah dalam qiyâs, di antaranya yaitu untuk kasus seseorang yang tidak menikah, tidak menyetubuhi setelah nikah, atau tidak mengeluarkan air mani (baca: di dalam rahim, Penj.) setelah penetrasi. Jika semua itu dilakukan tiada lain demi salah satu alasan prioritas misalnya, maka hal itu bukan termasuk sebuah pelanggaran maupun penyimpangan. Ketahuilah, seorang anak itu terwujud dari air mani yang masuk ke dalam rahim melalui empat proses; pernikahan, bersetubuh, tidak buru-buru mengeluarkan air mani saat bersetubuh, dan berhenti sejenak untuk memasukkan air mani ke dalam rahim. Empat proses ini saling berkaitan satu sama lain. Maka, menahan diri dari proses keempat misalnya, hal tersebut tentu saja sama halnya dengan menahan diri dari proses yang ketiga, demikian seterusnya yang ketiga seperti yang kedua, dan yang kedua seperti proses yang pertama. Hukum ‘azl tidaklah sama dengan hukum aborsi maupun operasi pengguguran kandungan yang jelas-jelas termasuk perbuatan kriminal pada makhluk hidup yang telah bernyawa. Dalam proses kandungan ini terdapat beberapa tahapan. Tahap pertama ialah, masuknya air mani ke dalam rahim kemudian bercampur dengan sel telur perempuan (baca: ovarium) untuk selanjutnya siap hidup. Menggugurkan dalam tahap ini adalah dosa. Terlebih ketika sudah berujud segumpal darah dan daging, dosanya sangat keji. Adapun jika dilakukan sesudah mulai ditiupkan ruh (nyawa) dan sudah berbentuk makhluk, maka dosanya tentunya lebih keji lagi…[2]

Kesimpulan pendapat Imam Al-Ghazali di atas adalah sebagai berikut: Read the rest of this entry