Arsip Blog

tokoh Mu’tazilah beserta pendapatnya

 

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Peristiwa Tahkim yang terjadi dalam perang Siffin antara pihak Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah merupakan tonggak munculnya perpecahan dikalangan kaum Muslim menjadi beberapa golongan (mazhab). Perpecahan terjadi pada pihak Ali hal tersebut didasarkan atas kekecewaan sebagian pengikut Ali atas sikap Ali yang menerima tipu muslihat ‘Amr al-As untuk mengadakan Arbitrasi, sungguhpun dalam keadaan terpaksa tidak boleh disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka yang tidak setuju berpendapat bahwa hal serupa tidak dapat diputuskan oleh arbitrasi manusia, putusan hanya dapat diambil dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Quran. Mereka yang menganggap Ali telah berbuat dosa keluar dari barisan Ali dan golongan tersebut dinamakan golongan Khawarij[1], serta golongan yang tetap setia dipihak Ali menamakan dirinya sebagai golongan Syi’ah

Perpecahan umat muslim di atas ternyata memberikan implikasi pada munculnya perbedaan pemikiran tentang akidah yaitu teologi (kalam), dan mereka telah membuat mazhab sendiri, mereka adalah mazhab Mu’tazilah, Jabbariyah, dan Ahlussunah[2]

Kaum mu’tazilah muncul sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dengan Murji’ah berkenaan tentang orang mukmin yang berdosa besar. Golongan ini membawa persoálan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan yang dibawa oleh kaum Khawarij dan Murji’ah. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama “kaum rasionalis Islam”[3]

Orang-orang mu’tázilah adalah pendiri yang sebenarnya ilmu kalam (teologi Islam). Mereka telah membahas sebagian dari problematika ilmu kalam ini pada tahun-tahun pertama abad ke-2.[4] Mu’tazilah merupakan aliran rasional dalam Islam yang paling banyak punya teori dan tokoh, diantara tokoh mu’tazilah yang terkenal adalah Abu Huzail Al-’Allaf (849M/228H), Al-Nazzam (845M/231H) dan Abu Hasyim al-Jubba’I (932M/321H)[5].

Mu’tazilah lahir pada masa bani Umayyah tanpa mendapatkan tantangan dari pihak penguasa, karena mereka tidak menimbulkan gangguan dan memerangi bani Umayyah akan tetapi bani Umayyah tidak memberikan bantuan serta dukungan. Keeksistensian golongan Mu’tazilah berlanjut sampai pada pemerintahan Bani Abbasiah, mereka membiarkan dan tidak membasmi bahkan merangsang golongan tersebut untuk mempertahankan pahamnya. Khalifah al-Ma’mun mengakui dirinya sebagai salah seorang penganut paham Mu’tazilah. Banyak tokoh Mu’tazilah yang diangkat sebagai pengawal dan menterinya. Ia mengadakan diskusi antara Mu’tazilah dengan para ulama’ fuqaha’ untuk mencari persamaan pandangan. Keadaan tersebut berjalan terus sampai wafatnya al-Ma’mun. Diskusi-diskusi ilmiah ini berubah menjadi arena ancaman penyiksaan yang pedih, yang dimaksudkan untuk menarik massa agar menganut paham Mu’tazilah[6]. Peristiwa tersebut muncul sebagai akibat dari pemberlakuan politik Al-Mihna (ujian keyakinan) terhadap para ulama’ fiqih dan hadits. Read the rest of this entry