Arsip Blog

ANALISIS HADIST

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       LATAR BELAKANG

 

Islam adalah agama yang komplek dan sempurna tentang konsep dasar agamanaya dan menyeluruh kepada aspek ketuhanan dan kemanusiaan sehingga amaliayah lan larangan yang telah di atur oleh islam mempunyai manfaat dan maslahat.

Ada berbagai macam sumber hokum yang digunakan dalam islam yang pertama adalah a-quran dan yang kedua adalah hadist.  Hadist merupakan salah satu sumberhukum yang terkadang menimbulkan polemic dalam istimbat hokum karna ketidak jelasan status hadist , baik dalam segi periwayatan, matan hadist dan perowi hadist,  diperlukan sebuah ketelitian dalam menggunakan hadist karna hal tersebut  akan mempengaruhi status hokum yang  di hasilkan.

Maka dari itu  diperlukannya penelitian hadist yang meliputi perowi hadist, matan hadist, tahrij hadist  dan aspek lainnya yang terdapat dalam hadist  sehingga kita mengetahui bagaimana status dan siapa yang meriwayatkan dan menghasilkan hokum yang benar-benar sohih dan di dasarkan pada landasan hokum yang jelas dan valid,

Besar harapan pada akhir semester ini kami bisa meneliti hadist dan mengetahui pelbagai hal tentang hadist sehingga istimbat yang di lakukan tidak cacat hokum, dan menggunakan hadist yang benar-benar shohih dan dapat dijadikan sebagai hujjah landasan hokum doruriyah

1.2  Rumusan Masalah

Semakin kompleknya masyarakat Indonesia yang mengakibatkan permasalahanpun semakin komplek pula yang menuntut kita untuk lebih pintar dalam menanggapi masalah dalah kehidupan ini, dalah pernikahan terdapan perbedaan antara gadis dan janda dan apa perbedaan tersebut?,dalam hal apa yang membedakan antara keduanya?, dan dalam konsep pernikahan apakah yang yang membedakan? Dan bagaimana peran hokum dalam mengurai masalah ini? Serta bagaimana aplikasi hadist tentang “konsultasi”  dalam kehidupan sehari-hari? Sehingga kita bisa beristimbat dengan benar.

1.3  Tujuan

Menegetahui perbedaan status gadis dan janda menurut istilah dan dalam konsep pernikahan dan mengenai cara peminangan serta kedudukan dalam pernikahan yang berbeda, serta mengetahui diijinkan atau tidaknya seorang dinikahi antara janda dan gadis yang mempunyai perbedaan yang signifikan. Hal yah seperti ini yang dipandang mulai luluh dimasyarakat yang pada dasarnya urgensinya sangat penting.

BAB    II

Penelitian Sanad

 

1.       Hadist fi Sunan abi daud

 

باب فى لأستأمار

حدثنا مسلم بن ابراهيم, حدثنا أ بان, حدثنا يحيى, عن ابى سلمه,عن أبى هريره أن النبيى صلى الله عليه و سلم :(( لا تنكح الثيب حتى تستأمر ولا البكر ألا بأ دنها, قالو: يا رسؤالله ؤم أدنها؟ قال: ان تسكت)). رواه:ابو داود

 

BAB

 PERSETUJUAN (DALAM PERNIKAHAN)

 

Diceritakan pada kami  dari muslim bin ibrohim, diceritakan pada kami  dari abann, diceritakan dari yahya, dari abi salamah, dari abi huraoiroh bahwasanya rosululullah SAW telah bersabda “Janda, tidak boleh dinikahi sampai diminta persetujuannya. Anak perawan tidak boleh dinikahi sampai diminta izinnya. Mereka bertanya; “bagaimana izinnya? Jawab rasul; anak gadis itu diam” (HR. abu daud).[1]

2.      Al-Mu’jam Al-mufarros li Al-fadz Al-hadist Al-nabawi

لا تنكح الأيتم, الثيب حتى تستأمر ولا (تنكح) البكر حتى تستأدن  خ نكح 41 ,حيل11

,م نكح 64 ,د نكح 23 ,ت نكح 17 ,ن نكح 33 ,جة نكح 11 ,دى نكح 13 حم 2 434[2]

 

 

3.       Silsilatu ruwat Al-hadist

 قال صلى الله عليه و سلم :(( لا تنكح الثيب حتى تستأمر ولا البكر ألا بأ دنها, قالو: يا رسؤالله ؤم أدنها؟ قال: ان تسكت))

 

أبى هريره

ابى سلمه

يحيى