Category Archives: SUAMI ISTRI

Hukum Suami Melihat Kemaluan Isteri atau Sebaliknya

images

Yang perlu dicatat, secara umum persoalan-persoalan seputar hak wanita ini memang banyak terabaikan dalam berbagai kajian buku-buku yang ditulis umat Islam selama ini. Tak jarang yang mereka sodorkan adalah hadits-hadits yang lemah (dla’îf),[1] bahkan terkadang kedudukannya maûdlu’[2] ketimbang mendahulukan hadits-hadits yang sahîh.

Syekh Muhammad Al-Ghazali (1917-1996 M./1335-1416 H.) –rahimahullâh—berkomentar:

Saya menilai, pembatasan peran sosial kemasyarakatan kaum perempuan itu selama ini hanya didasarkan pada dua sumber yang berkaitan dengan hal itu dengan mengabaikan yang sahîh dan mendahulukan yang dla’îf…[3]

Kerap tersebar di seluruh dunia Islam, orang-orang berfatwa mengenai segala persoalan dan kemudian mengambil pendapat yang paling rumit (karena seolah dianggap paling utama, Penj.) yang terkadang justru berdasarkan dalil dan hujjah yang lemah. Alasannya, tindakan mereka itu tiada lain sebagai sikap kehati-hatian (preventifitas/ahwath aw ihtiyâth). Read the rest of this entry

Sebaiknya Memperhatikan Stabilitas Emosi Isteri

jjjjj

Sebagian ulama berpendapat, makrûh hukumnya apabila seorang suami menyetubuhi sang isteri tanpa kemauan dan kehendak tulusnya. Demikian pula menyetubuhi isterinya di saat ia tidak mau. Sebab, memaksa untuk menyetubuhi sang isteri yang sedang tidak enak hati, justru malah menyakiti dirinya. Perilaku demikian akan membuat sang isteri benci terhadap suaminya.

Sebagaimana diketahui bersama, soal stabilitas emosi ini merupakan unsur terpenting jauh sebelum persetubuhan dilakukan. Mesti diingat, hubungan biologis termasuk salah satu unsur penentu kebahagiaan hidup berumah-tangga. Tanpa itu, kehidupan rumah tangga akan terasa hambar tanpa makna.

Menurut seorang psikolog kenamaan, Watson, hubungan biologis tidak disangsikan lagi merupakan urusan paling mendasar dalam kehidupan berumah tangga. Persoalan inilah yang selanjutnya akan menentukan bahagia atau tidaknya kehidupan berumah tangga, baik bagi suami maupun isteri.

Hubungan biologis tidaklah bisa dipaksakan atau dilakukan dengan tanpa sepenuh hati. Hal itu jelas tidak bisa diterima akal sehat. Namun, kebutuhan seksual ternyata kerap mendesak sang suami untuk tetap melakukannya. Terlebih godaan syahwat dewasa ini semakin merajalela. Sementara di pihak lain, pada saat yang sama sang isteri terkadang tengah tidak stabil emosinya. Lantas, apa yang semestinya dilakukan oleh sang suami? Harus kemana lagi ia menyalurkan syahwat biologisnya selain kepada isterinya sendiri? Read the rest of this entry

Etika Bersetubuh

kkkk

  1. Mulailah dengan Kata-kata Canda dan Mesra.

Adalah suami yang tidak romantis manakala ia bersetubuh dengan isterinya tanpa pendahuluan apa-apa. Padahal, seorang isteri adalah makhluk yang mempunyai perasaan sensitif. Ia sangat benci jika hanya dijadikan sebagai tempat melampiaskan hawa nafsu belaka. Ia justru membutuhkan pujian, kelembutan, kata-kata canda dan mesra. Ia juga menginginkan cumbu rayu, tatapan penuh kasih sayang, dan ciuman hangat.

Ibnu Al-Qayyim (1292-1350 M./691-751 H.) dalam hal ini berkomentar:

Sebelum bersetubuh, hendaknya sang suami bercanda terlebih dahulu dengan isterinya; menciumnya, dan mempermainkan lidahnya.” “Rasulullah Saw. juga sering mencium Aisyah dan memutar-mutar lidahnya.[1]

Dalam hadits yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah, Rasulullah bahkan memperingatkan:

Rasulullah melarang bersetubuh sebelum bercanda terlebih dahulu.

Dalam hadits lain ditegaskan:

Hendaknya seseorang di antara kalian tidak menyetubuhi isterinya sebagaimana persetubuhan binatang. Hendaklah ada perantara di antara keduanya.” Beliau pun ditanya, “Apakah yang disebut perantara itu?” Beliau menjawab, “Ciuman (al-qublah) dan kata-kata mesra (al-kalâm).[2]

Rasulullah juga bersabda:

Tiga perkara yang merupakan kelemahan seorang lelaki (beliau diantaranya menyebut); seorang suami yang mendekati isterinya lalu langsung melakukannya (menyetubuhinya) sebelum berbincang-bincang, merayunya, dan memanjakannya terlebih dahulu. Ia langsung melampiaskan hasrat pada isterinya sebelum sang isteri tertutupi hasratnya darinya.[3]

  1. Mulailah dengan Ucapan Basmalah dan Berdo’a. Read the rest of this entry

manfaat syahwat dan Bersetubuh

index

  1. Komentar Imam Ibnu Al-Qayyim (1292-1350 M./691-751 H.) tentang faedah bersetubuh:

Dalam kitab, “Raudlat-u ‘l-Muhibbain” (Surga Dua Pasangan Kekasih), beliau berkomentar:

Nabi Saw. menegaskan agar mempergunakan obat ini (bersenggama atau bersetubuh) dan bahkan menganjurkannya. Terdapat pahala di dalamnya, dan menjadikan sedekah bagi para pelakunya. Inilah kenikmatan sempurna, dan kebajikan paripurna bagi seorang isteri karena dijamin mendapatkan ganjaran, pahala sedekah, membahagiakan batin, menghilangkan pikiran-pikiran sumpek, menentramkan hati, meredakan emosi, memperoleh ketenangan jasmaniah, meredakan kegundahan, menyehatkan, dan mencegah zat-zat makanan dalam tubuh yang merusak. Janganlah engkau kurangi kenikmatan ini sehingga seluruh anggota tubuh bisa menikmati kelezatan itu. Kelezatan pandangan saat memandangi pasangannya, kelembutan pendengaran dengan kata-kata mesra, penciuman hidung dengan aroma wangi, mulut dengan menciumnya, dan tangan dengan menyentuhnya. Apabila salah satu dari itu semua hilang, maka jiwa sama sekali tidak akan mendapatkan ketenangan sedikitpun. Selamanya hati tidak akan tentram. Demikianlah kenapa seorang isteri dikatakan sebagai penyejuk jiwa. Allah Swt. berfirman:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.[1] Read the rest of this entry

Tidak Malu Belajar Agama

images

jangan malu belajar karna udah nikah

Di antara salah satu tradisi para sahabat Nabi Saw. adalah, mereka tidak merasa sungkan untuk bertanya seputar ilmu agama. Terlebih dalam urusan ibadah yang masih belum jelas hukumnya. Begitu juga dengan kaum perempuan di jaman Nabi. Mereka pun tidak merasa malu untuk bertanya. Misalnya, bertanya kepada Nabi Saw. seputar kaefiat (cara) mandi junub[1] atau membersihkan badan setelah haid.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra. Bahwa Asma pernah bertanya kepada Nabi Saw. seputar cara bersuci setelah haid? Nabi Saw. menjawab:

Hendaklah kalian (para wanita) menceduk air lalu meratakannya (ke seluruh tubuh) lalu bersihkanlah sebersih-bersihnya. Cucurkanlah air ke atas kepala dan sisirlah hingga (air itu) merembes ke akar-akar rambut. Kemudian bersihkanlah kembali dengan cucuran air. Setelah itu, ambillah handuk yang wangi[2], dan bersihkanlah (badan) dengannya.” Asma bertanya, “Bagaimana aku membersihkannya?” Aisyah lalu menjawab (seolah-olah ia berbisik), “Gosoklah bekas darah itu.

Kemudian Asma juga bertanya seputar mandi junub? Nabi Saw. Menjawab:

Ceduklah air dan bersihkanlah sebersih mungkin hingga benar-benar bersih. Lalu cucurkanlah air ke atas kepala dan gosoklah hingga ke akar-akar rambut, dan cucurkanlah air atasnya.” Aisyah lalu berkata, “Wanita paling bahagia adalah wanita kaum Anshar. Sungguh mereka tidak merasa malu dalam mempelajari ilmu-ilmu agama.[3]

Ummu Sulaim binti Mulhan pernah datang kepada Nabi Saw. guna bertanya seputar mimpi junub. Ia kemudian mengajukan pertanyaan disertai Aisyah yang berada di sampingnya:

Wahai Rasulullah, bagaimana jika seorang perempuan bermimpi dalam tidurnya seperti halnya seorang laki-laki, ia lalu mendapatinya (baca: keluar air) sebagaimana yang dirasakan oleh seorang laki-laki? Aisyah menjawab, “Wahai Ummu Sulaim, sungguh engkau membuka rahasia kaum wanita. Terbelenggulah kedua tangan kananmu!” Rasulullah Saw. pun berkata kepada Aisyah, “Justru engkaulah yang terbelenggu kedua tangan kananmu! Ya, engkau wajib mandi wahai Ummu Sulaim jika memang mengalaminya (Maksudnya: keluar air mani).”[4] Read the rest of this entry