Category Archives: Kumpulan makalah-makalah

AL-MASLAHAH AL-MURSALAH

Secara etimologi, kata “Maslahah” adalah bentuk masdar dari kata kerja yang berarti manfa’at, faedah, bagus atau berguna. Dengan demikian, dari sisi ilmu shorof (mortologis) mempunyai wazan (pola) yang sama dengan kata “manfa’at”, yang dalam bahasa ‘Arab berarti hal yang mendorong kkepada kebaikan atau membawa manfa’at bagi manusia.

Selanjunya dihubungkan dengan kata “mursalah” maka dalam kata “Al-Maslahah al-Murasalah” terda[pat hubungan kata sifat dan yang disifati, kata “Al-maslahah” sebagai kata sifat, sedangakan kata”Al-Mursalah” sebagai kata yang disifati

Sedangkan kata “Al-Mursalah”  menurut ilmu shorof (mortologis) adalah isim maf’ul dari kata kerja yang semakna dengan kata yang berarti “sesuatu yang terlepas atau sesuatu yang dilepaskan. Dengan demikian  kata “Al-Maslahah Al-Mursalah” secara etimologi dapat diartikan “suatu kebaikan, suatu manfa’at  atau suatu faedah yang dilepaskan”. Artinya suatu kebaikan, manfa’at, atau faedah dari suatu perbuatan yang tidak ada penjelasan secara fisik dari Nash mengenai boleh tidaknya perbuatan itu dikerjakan.[1] Read the rest of this entry

sebab dan Sejarah Munculnya Teologi islam

Sedikit Sejarah Munculnya Teologi –teologi islam, Sebenarnya ikhtilaf telah ada di masa sahabat, hal ini terjadi antara lain karena perbedaan pemahaman di antara mereka dan perbedaan nash (sunnah) yang sampai kepada mereka, selain itu juga karena pengetahuan mereka dalam masalah hadis tidak sama dan juga karena perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hukum dan berlainan tempat. Sebgaimana di ketahui, bahwa ketika agama Islam telah tersebar meluas ke berbagai penjuru, banyak sahabat Nabi yang telah pindah tempat dan berpencar – pencar ke negara yang baru tersebut.

Dengan demikian, kesempatan untuk bertukar pikiran atau bermusyawarah memecahkan sesuatu masalah sukar dilaksanakan sejalan dengan pendapat diatas, Qasim Abdul Aziz Khomis menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ikhtilaf di kalangan sahabat ada tiga yakni :

1. Perbedaan para sahabat dalam memahami nash-nash Al-Qur’an

2. Perbedaan para sahabat di sebabkan perbedaan riwayat

3. Perbedaan para sahabat di sebabkan karena ra’yu.

Read the rest of this entry

TEOLOGI FEMINISME

TEOLOGI FEMINISME

  1. A.   Pengertian Feminisme

Istilah “Feminisme” berasal dari kata Latin : Femina yang artinya wanita. Gerakan feminisme bermaksud mengkritik struktur patriarkhat yang berada dalam masyarakat dan berusaha untuk mengadakan suatu struktur masyarakat yang lebih adil.  Dalam patriarki (pater: bapak, arkhe : asal mula yang menentukan) laki-laki berkuasa atas semua anggota masyarakat yang lain dan mempertahankan kuasa itu sebagai milik yang sah. Dalam masyarakat semacam ini, pandangan androsentris (andros : laki-laki,sentris :berhubung dengan inti ) menentukan budaya, yakni segala peristiwa dilihat dari sudut laki-laki.

Sebagaimana dikemukakan (Fitalay:1997:19) bahwa feminisme yang berasal dari kata latin femina yang berarti memiliki sifat keperempuanan diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan laki-laki di masyarakat. Akibat persepsi ini, timbul berbagai upaya untuk mengkaji penyebab ketimpangan tersebut untuk mengeliminasi dan menemukan formula penyetaraan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang, sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia

. Read the rest of this entry

Nasahk dan permasalahannya

PENDAHULUAN 

Dalam kaitannya terhadap ilmu Ushul Fiqh terdapat begitu banyak pemahaman dari para ulama terhadap pengambilan hukum fiqh itu sendiri. Sehingga tidak mengherankan ditengah pemahaman mereka yang kontraversial itu, begitu banyak melahirkan qoidah ushuliyyah yang tentunya mengarah pada pandangan masing-masing golongan ulama itu sendiri.

Maka pada pembahasan ini hanya sedikit membahas tentang problematikan nasakh yang mana dalam masalah ini ada di antara mereka yang menerima nasakh dan bahkan adapula yang mengingkari nasakh itu sendiri baik terhadap dalil yang qot’i maupun yang dzonni.

  1. 1.      Pengertian

Dalam kajian ushul fiqh, masalah nasakh ini menjadi salah satu topik yang hangat dibicarakan oleh para ulama ushul. Oleh karena itu, uraian berikut ini akan menjelaskan bagaimana sesungguhnya masalah nasakh ini dalam kaitanya dengan Hukum Islam.

Secara etimologi, kata nasakh di dalam bahasa Arab diartikan dengan التبدل ” ” (mengubah, mengganti), الرفع ” ” (penghapusan) atau disebut dengan الإزالة ” ” (menghilangkan) dan sama pula artinya dengan الإبطال ” ”  (pembatalan). Dan adapula yang mengartikan nasakh dengan النقل ” ”  yaitu, memeindahkan atau mengganti.

Kemudian, nasakh menurut istilah syara’ atau yang diartikan oleh para ulama ushul fiqh terdapat beberapa definisi yang pada dasarnya tidak terdapat perbedaan prinsipil, kecuali berbeda dalam redaksional. Di antara definisi tersebut dapat dikemukakan pada uraian berikut ini: Read the rest of this entry

SIKAP PROFESIONAL GURU

BAB I

PENDAHULUAN

           

Berbicara seputar profesi pendidikan dan problemnya, tentu tidak akan pernah selesai masalah demi masalah akan terus muncul seiring bergulirnya dinamika sosial yang melingkarinya dan pelajar adalah sosok personal yang tergolong rentan terhadap pengaruh-pengaruh di lingkungannya. Akhir-akhir ini kasus yang menyangkut kenakalan siswa atau pelajar hampir setiap saat, bahkan dalam kapasitas kasus yang hampir menyamai kriminalitas kelas kakap.

Dan setiap problematika seputar ketidak berhasilan, selalu merujuk kepada argumentasi-argumentasi yang klasik. Yakni masalah kekurangan tenaga pendidik, terutama kekurang mampuan guru dalam mengajar dalam kata lain seorang guru tidak memiliki profesionalitas dalam mengajar. Guru saat ini bukan saja tidak mampu untuk mencegah semakin menyebarnya tindakan-tindakan tidak bermoral pelajar, tidak jarang guru yang berperan sebagai agent, bahkan teladan-teladan amoral. Guru yang telah terlanjur mengklaim dan memerankan diri sebagai figur tauladan akan didik tidak jarang menjadi pelaku-pelaku utama tindakan asusila dan amoral.

Tetapi sangat disayangkan jarang sekali guru yang menyadari persoalan ini. Sering ketika murid melakukan kesalahan guru justru lepas tanggung jawab. Dalam hal “Moralitas etik” seharusnya para guru tidak selalu didengungkan dengan istilah “Pembinaan kembali” apalagi terjadi penyimpangan moral – guru sebagai pintu kedua tauladan moral (yang pertama adalah keluarga) merupakan hal yang tidak dapat diganggu oleh kepentingan yang lain. Karenanya, perlu sekali untuk ditingkatkan kinerja dan professionalisme guru.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian

Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apabila memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara sera cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, seiring menjadi perhatian masyarakat luas.

Walaupun segala prilaku guru selalu di perhatikan masyarakat, tetapi akan dibicarakan dalam bagian ini adalah kasus prilaku guru yang berhubungan dengan profesinya. Hal ini berhubungan dengan bagaimana pola tingkahlaku guru dalam memahami, menghayati, serta mengamalkan sikap kemampuan dan sikap profesionalnya. Pola tingkah laku guru yang berhubungan dengan itu akan dibicarakan sesuai dengan sasarannya, yakni sikap profesional keguruan terhadap:

  1. Peraturan perundang-undangan
  2. Organisasi profesi
  3. Teman sejawat
  4. Anak didik
  5. Tempat kerja
  6. Pemimpin
  7. Pekerjaan

 

  1. B.     Sasaran Sikap Profesional
    1. Sikap Terhadap Peraturan Perundang-Undangan

Pada butir sembilan kode etik guru Indonesia disebutkan bahwa: “guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan”. (PGRI, 1973). Kebijaksanaan pendidikan dinegara kita dipegang oleh pemerintah, dalam hal ini oleh departemen pendidikan dan kebudayaan. Dalam rangka pembangunan dibidang pendidikan di Indonesia, departemen pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang merupakan kebijaksanaan yang akan dilaksanakan oleh aparatnya, yang meliputi antara lain : Pembangunan gedung-gedung pendidikan, pemerataan kesempatan belajar antara lain dengan melalui kewajiban belajar, peningkatan mutu pendidikan, pembinaan generasi muda dengan menggiatkan kegiatan karang taruna, dan lain-lain.

Guru merupakan unsur aparatur negara dan abdi negara. Karena itu, guru mutlak perlu mengetahui kebijaksanaan-kebijaksanaan  pemerintah dalam bidang pendidikan, sehingga dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan yang merupakan kebijasanaan.

Untuk menjaga agar guru Indonesia tetap melaksanakan keentuan-ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan, kode etik guru Indonesia mengatur hal tersebut, seperti tertentu dalam dasar ke sembilan sari kode etik guru. Dasar ini juga menunjukan bahwa guru Indonesia harus tunduk dan taat kepada pemerintah Indonesia dalam menjalankan tugas pengabdiannya, sehingga guru Indonesia tidak mendapatkan pengaruh  yang negativ dari pihak luar, yang ingin memaksakan dengan melalui dunia pendidikan.

 

  1. Sikap Terhadap Organisasi Propesi

Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Dasar ini menunjukan kepada kita betapa pentingnya peranan organisasi profesi sebagai wadah dan sarana pengabdian. PGRI sebagai organisasi profesi memerlukan pembinaan, agar lebih berdayaguna dan berhasil guna sebagai wadah usaha untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Keberhasilan usaha tersebut sangat bergantung kepada kesadaran para anggotanya, rasa tanggung jawab dan kewajiban para anggotanya. Organisasi PGRI merupakan suatu sistem, dimana unsur pembentuknya adalah guru-guru.

Organisasi profesional harus membina mengawasi para anggotanya. Siapakah yang dimaksud dengan organisasi itu ? jelas yang dimaksud bukan hanya ketua, sekretaris, atau beberapa orang pengurus tertentu saja, tetapi yang dimaksud dengan organisasi di sini ialah semua anggota dengan seluruh pengurus dan segala perangkat dan alat-alat perlengkapannya.

Setiap anggota harus memberikan sebagaian waktunya untuk kepentingan pembinaan profesinya, dan semua waktu dan tenaga yang diberikan oleh para anggota ini dikordinasikan oleh para pejabat organisasi tersebut, sehingga pemanfaatanya menjadi efektif dan efisien. Dengan perkataan lain setiap anggota profesi, apakah  ia sebagai pengurus, atau anggota biasa, wajib berpartisifasi guna memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi profesi, dalam rangka mewujudkan cita-cita organisasi.

Peningkatan mutu profesi keguruan dapat pula direncanakan dan dilakukan secara bersama atau berkelompok. Kegiatan berkrelompok ini dapat berupa penataran, lokakarya, seminar, simposium, atau bahkan kuliah disuatu lembaga pendidikan yang diataur secara tersendiri. Misalnya program penyetaraan program D2 guru-guru sekolah dasar, dan program penyetaraan D3 guru-guru SLTP, adalah contoh-contoh kegiatan berkelompok yang diatur tersendiri.

 

  1. Sikap Terhadap Teman Sejawat

Dalam ayat 7 kode etik guru di sebutkan bahwa guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial. Ini berarti bahwa :

  1. Guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesama guru dalam lingkungan kerjanya.
  2. Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar kerjanya.

Dalam hal ini kede etik guru Indonesia menunjukan kepada kita betapa pentingnya hubungan yang harmonis perlu diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama anggota profesi.

  1. Hubungan Guru Berdasarkan Lingkungan Kerja

Seperti di ketahui, dalam setaip sekolah terdapat seorang kepala sekolah dan beberapa guru di tambah dengan beberapa orang personel sekolah lainya sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut. Berhasil tidaknya sekolah membawa misinya akan banyak bergantung kepada semua manusia yang terlibat di dalamnya. Agar setiap personel sekolah dapat berfungsi sebagaimana mestinya, mutlak adanya hubungan yang baik dan harmonis di antara sesama personel.

Setiap profesional lain yang perlu ditumbuhkan oleh guru adalah sikap ingin bekerja sama, saling harga menghargai, saling pengertian dan tanggung jawab. Jika ini sudah berkembang, akan tumbuh rasa senasib sepenanggungan serta menyadari akan kepentingan bersama, tidak mementingan kepentingan diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain (Hermawan, 1979).

Adalah kebiasaan kita pada umumnya untuk kadang-kadang bersikap kurang sungguh-sungguh dan kurang bijaksana, sehingga hal ini menimbulkjan keretakan diantara sesama kita. Oleh sebab itu, agar jangan terjadi keadaan yang berlarut-larut, kita perlu saling memaafkan dan memupuk suasana kekeluargaan yang akrab antara sesama guru dan aparatur di sekolah.

  1. Hubungan Guru Berdasarkan Lingkungan Keseluruhan

Kalau kita ambil sebagai contoh profesi kedokteran, maka dalam sumpah dokter yang diucapkan pada upacara pelantikan dokter baru, antara lain terdapat kalimat yang menyatakan bahwa setiap dokter akan memperlakukan teman sejawatnya sebagai saudara kandung.

Sebagai saudara mereka wajib membantu dalam kesukaran, saling mendorong kemajuan dalam bidang profesinya, dan saling menghormati hasil-hasil karyanya. Mereka saling memberitahukan penemuan-penemuan baru untuk meningkatkan profesinya.

Sekarang apa yang terjadi pada profesi kita, profesi keguruan? Dalm hal ini kita harus mengakui dengan jujur vbahwa sejauh ini perofesi keguruan masih memerlukan pembinaan yang sungguh-sunguh. Rasa persaudaraan seperti tersebut, bagi kita masih perlu ditumbuhkan sehingga kelak akan dapat kita lihat bahwa hubungan guru dengan temannya berlangsung seperti halnya dengan profesi kedokteran.

 

  1. Sikap Terhadap Anak Didik

Dalam kode etik guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa : Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila.dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yakni : Tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

Prinsip manusia seutuhnya dalam kode etik ini memandang manusia sebagai kesatuan yang bulat, utuh, baik jasmani maupun rohani, tidak hanya berilmu tinggi tapi juga bermoral tinggi pula. Guru dalam mendidik seharusnya tidak hanya mengutamakan pengetahuan atau perkembangan intelektual saja. Tetapi juga harus memperhatikan perkembangan seluruh pribadi peserta didik, baik jasmani maupun rohani.

 

  1. Sikap Terhadap Tempat Kerja

Sudah menjadi perkembangn umum bahwa suasana yang baik ditempat kerja akan meningkatkan produktifitas. Hal ini disadari dengan sebaik-baiknya oleh setiap guru, dan guru berkewajiban menciptakan suasana yang demikian dalam lingkungannya. Untuk menciptakan suasana kerja yang bauk ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Guru sendiri
  2. Hubungan guru dengan orang tua dan masyarakat sekeliling

Terhadap guru sendiri dengan jelas juga dituliskan dalam salah satu butir dari kode etik yang berbunyi : “Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang keberhasilan proses belajar mengajar”. Oleh sebab itu, guru harus aktif mengusahakan suasana yang baik itu dengan berbagai cara, baik dengan penggunaan metode mengajar sesuai, maupun dengan penyediaan alat belajar yang cukup, serta pengaturan organisasi kelas yang mantap, ataupun pendektan lainnya yang diperlukan.

Suasana yang harmonis disekolah tidak akan terjadi bila personil yang terlibat didalannya, yakni kepala sekolah, guru, staf administrasi dan siswa tidak menjalin hubungan yang baik diantara sesamanya. Penciptaan suasana kerja yang menantang harus dilengkapi denga  terjalinya hubungan yang baik dengan orang tua dan masyarakat sekitarnya. Ini dimaksudkan untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidiknya.

 

  1. Sikap Terhadap Pemimpin

Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru maupun organisasi yang lebih besar guru akan selalu berada dalam bimbingan dan pengawasan pihak atasan. Dari organisasi guru, ada strata kepemimpinan mulai dari pegurus cabang, daerah, sampai kepusat. Begitu juga sebagai anggota keluarga besar DEPDIKBUD, ada pembagian pengawasan mulai dari kepala sekolah, kakandep, dan seterusnya sampai kementri pendidikan dan kebudayaan

  1. Sikap Terhadap Pekerja

Profesi guru berhubungan dengan anak didik, yang secara alami mempunyai persamaan dan perbedaan. Tugas melayani orang yang beragam sangat memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi, terutama bila berhubungan dengan peserta didik yang masih kecil. Barang kali tidak semua orang dikarunia sifat seperti itu, namun bila seseorang telah memilih untuk memasuki profesi guru, ia dituntut untuk belajar dan berlaku seperti itu.

Untuk meningkatkan mutu profesi secara sendiri-sendiri, guru dapat melakukannya secara formal maupun informal. Secara formal, artinya guru mengikuti berbagai pendidikan lanjutan atau kursus yang sesuai dengan bidang tugas, keinginan, waktu, dan kemmapuannya.

Secara informal guru dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya melalui media masa seperti televisi, radio, majalah ilmiah, Koran, dan sebagainya.

 

  1. C.    Pengembangan Sikap Profesional
    1. Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan

Dalam pendidikan pra jabatan, calon guru didik dalam berbagai pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan dalam pekerjaanya nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik, guru selalu menjadi panutan bagi sisiwanya, bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Oleh sebab itu, bagaimana bersikap terhadap pekerjaan yang dijabatnya selalu menjadi perhatian siswa di masyarakat

  1. Pengembangan Sikap Selam dalam Jabatan

Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan sikap profesional keguruan dalam masa pengabdiannya sebagai guru. Seperti telah disebut, peningkatan ini dapat dilakukan secara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, loka karya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainya, ataupun secara informal malalui media Massa televisi, Radio, Koran, dan majalah maupun publikasi lainya. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan sikap professional keguruan.

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Sebagai profesional, guru harus selalu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terus menerus. Sasaran penyikapan itu meliputi penyikapan terhadap perundang-undangan, organisasi profesi, teman sejawat, peserta didik, tempat kerja, pemimpin dan pekerjaan.

Sebagai jabatan yang harus dapat menjawab tantangan perkembangan masyarakat, jabatan guru harus selalu dikembangkan dan dimutakhirkan. Dalam bersikap guru harus selalu mengadakan pembaharuan sesuai dengan tuntutan tugasnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Majalah Mimbar, Edisi 240 Seftember 2006, PT. Antar Surya Jaya. Jawa timur
  2. M. Uzer Usman, Drs. Menjadi Guru Profesional, Bandung, Remaja Rosda Karya
  3. Wasty Soemanto. Drs. Psikologi Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta