Category Archives: HUDAYA

Jadwal kunjungan izroil

masih ingatkah kita ketika masih belajar di sekolah dasar, kita dikenalkan dengan rukun islam dan rukun iman, dikenalkan pula dengan neraka dan surga.dikenalkan dengan siapa tuhan, siapa malaikat dan siapa nabi, dengan sifat dan tugasnya yang mulia, kecuali tugasnya setan yang mengajak keneraka yang katanya penuh siksaan dan kepedihan. saat itu kita masih dikenalkan dan hanya sekedar tahu.

ketika saat itu masih dipenuhi keraguan tentang adanya mahluk tuhan itu, akan tetapi semakin dewasa,kita sedang berkenalan dengan malaikat secara lebih dekat, kita bisa mengetahui bagaimana malaikat izroil mencabut nyawa, bagaimana malaikat jibril menyampaikan ilham. dengan sekian banyaknya manusia mati dan menyisakan banyak kesedihan, merupakan sebuah bukti yang menguatkan bahwa izroil memang akan mencabut nyawa mahluk allah kapanpun dimanapun, baik maupun buruk kaya maupun miskin.

apakah anda tahu? bahwa malaikat izroil mengunjungi kita empat kali sehari, entah kapan waktunya, tidak ada penjelasan yang rijik tentang hal itu, mungkin saja disaat malaikat izroil mengunjungi kita,dalam keadaan yang membahayakan nyawa kita, karena dia (malaikat) selalu mengintai dan mengawasi gerak-gerik kita, dan siap mengambil nyawakita ketika waktunya sudah tiba. Read the rest of this entry

menawar takdir tuhan

saya ingin meluapkan cinta, amarah, kenikmatan, kesusahan, kebahagian dalam sebuah tulisan agar kalian dan kita tahu bahwa tulisan bisa menghiduokan yang mati mematikan yang hidup mewujudkan sesuatu yang takterwujud, membayangkan sesuatu yang tak terbayang

saya ingin membaca apa yang tidak terbaca bukan sekedar teks tetapi membaca sebuah konteks, karena kita saat ini sangat anti membaca, jika kita membacapun kita tidak faham apa yang kita baca, sekalipun kita faham, tetapi kita tidak menguasai apa yang kita kuasai, walaupun kita menguasai kita tidak mengamalkan apa yang kita ketahui kecuali kita dirahmati oleh allah SWT. Read the rest of this entry

Duham dan implikasinya di dunia

 

ghhhhhvuo

HARI itu, tahun 1948 di Kota San Francisco-Amerika Serikat (AS), Charles Malik, ketua delegasi Lebanon di Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengatakan: “Kini, manusia kembali bisa menyalakan api abadi peradaban, kebebasan, dan hukum.”

Malik mengemukakan itu menjelang penyusunan akhir naskah Deklarasi HAM Universal 1948, yang kelak disetujui semua wakil bangsa yang hadir dalam sidang PBB mengenai HAM (Morsink, Human Rights Quarterly 15, 1993). Malik adalah Ketua Komite Draf Hak Azasi Manusia yang membawahi 17 wakil negara, dalam sidang-sidang PBB yang khusus membahas Deklarasi HAM, yang diperingati lahirnya tiap 10 Desember.

Deklarasi HAM Universal 1948 adalah dokumen tertulis pertama tentang HAM yang diterima semua bangsa. Karena itu, Majelis Umum PBB menyebut Deklarasi HAM Universal 1948 sebagai a common standard of achievement for all peoples and nations (pencapaian yang jadi standar bersama bagi semua orang dan bangsa). Sejumlah naskah HAM tertulis memang pernah ada dan mendahului Deklarasi HAM Universal 1948. Magna Carta (Inggris, 1215), misalnya, telah berbicara tentang jaminan kebebasan individu untuk tidak dipenjarakan sewenang-wenang. Ia sudah berbicara tentang jaminan peradilan yang bebas dan fair. Bill of Rights tahun 1689 juga berbicara tentang hak-hak memilih secara bebas, kebebasan berbicara, dan hak untuk bebas dari penganiayaan Declaration of Rights 14 Oktober 1774, mengilhami Declaration of Independence Thomas Jefferson di AS yang juga telah berbicara tentang jaminan perlindungan untuk hidup, kebebasan, dan kebahagiaan. Namun, rentetan naskah itu belum menjadi naskah yang diterima secara universal (Robertson and Merrills, 1992).

Deklarasi HAM Universal 1948 diadopsi lewat Resolusi PBB No 217 (III) tahun 1948. Deklarasi HAM Universal 1948 dilahirkan di tengah reruntuhan peradaban manusia akibat Perang Dunia II dan kebrutalan monster-monster kemanusiaan, semisal Hitler, Mussolini, dan Jepang di Asia Pasifik. Selain itu, awal berlangsungnya perang dingin yang membuat polarisasi dunia yang kian menajam dan mengorbankan HAM, memicu semangat untuk membuat instrumen perlindungan HAM, yang kini kita kenal sebagai deklarasi HAM.

Sejalan dengan itu, PD II yang berahir tahun 1945, mengilhami dan memicu semangat dekolonisasi, khususnya di Asia dan Afrika. Seluruh kejadian ini membulatkan tekad warga dunia untuk membuat dataran yang bisa dipakai bersama guna menegakkan prinsip-prinsip HAM. Read the rest of this entry

Carut Marut Dunia Hukum di Indonesia

Penegakkan hukum di Indonesia sudah lama menjadi persoalan serius bagi masyarakat di Indonesia. Bagaimana tidak, karena persoalan keadilan telah lama diabaikan bahkan di fakultas-fakultas hukum hanya diajarkan bagaimana memandang dan menafsirkan peraturan perundang-undangan. Persoalan keadilan atau yang menyentuh rasa keadilan masyarakat diabaikan dalam sistem pendidikan hukum di Indonesia.

Hal ini menimbulkan akibat-akibat yang serius dalam kontek penegakkan hukum. Para hakim yang notabene merupakan produk dari sekolah-sekolah hukum yang bertebaran di Indonesia tidak lagi mampu menangkap inti dari semua permasalahan hukum dan hanya melihat dari sisi formalitas hukum. Sehingga tujuan hukum yang sesungguhnya malah tidak tercapai.

Sebagai contoh, seluruh mahasiswa hukum atau ahli-ahli hukum mempunyai pengetahuan dengan baik bahwa kebenaran materil, kebenaran yang dicapai berdasarkan kesaksian-kesaksian, adalah hal yang ingin dicapai dalam sistem peradilan pidana. Namun, kebanyakan dari mereka gagal memahami bahwa tujuan diperolehnya kebenaran materil sesungguhnya hanya dapat dicapai apabila seluruh proses pidana berjalan dengan di atas rel hukum. Namun pada kenyataannya proses ini sering diabaikan oleh para hakim ketika mulai mengadili suatu perkara. Penangkapan yang tidak sah, penahanan yang sewenang-wenang, dan proses penyitaan yang dilakukan secara melawan hukum telah menjadi urat nadi dari sistem peradilan pidana. Hal ini terutama dialami oleh kelompok masyarakat miskin. Itulah kenapa, meski dijamin dalam UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya, prinsip persamaan di muka hukum gagal dalam pelaksanaannya.

Kebenaran formil, kebenaran yang berdasarkan bukti-bukti surat, adalah kebenaran yang ingin dicapai dalam proses persidangan perdata. Namun, tujuan ini tentunya tidak hanya melihat keabsahan dari suatu perjanjian, tetapi juga harus dilihat bagaimana keabsahan tersebut dicapai dengan kata lain proses pembuatan perjanjian justru menjadi titik penting dalam merumuskan apa yang dimaksud dengan kebenaran formil tersebut. Namun, pengadilan ternyata hanya melihat apakah dari sisi hukum surat-surat tersebut mempunyai kekuatan berlaku yang sempurna dan tidak melihat bagaimana proses tersebut terjadi.

Persoalan diatas makin kompleks, ketika aparat penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, advokat) juga mudah atau dimudahkan untuk melakukan berbagai tindakan tercela dan sekaligus juga melawan hukum. Suatu tindakan yang terkadang dilatarbelakangi salah satunya oleh alasan rendahnya kesejahteraan dari para aparat penegak hukum tersebut (kecuali mungin advokat). Namun memberikan gaji yang tinggi juga tidak menjadi jaminan bahwa aparat penegak hukum tersebut tidak lagi melakukakn tindakan tercela dan melawan hukum, karena praktek-praktek melawan hukum telah menjadi bagian hidup setidak merupakan pemandangan yang umum dilihat sejak mereka duduk di bangku mahasiswa sebuah fakultas hukum.

Persoalannya adalah bagaimana mengatasi ini semua, tentunya harus dimulai dari pembenahan sistem pendidikan hukum di Indonesia yang harus juga diikuti dengan penguatan kode etik profesi dan organisasi profesi bagi kelompok advokat, pengaturan dan penguatan kode perilaku bagi hakim, jaksa, dan polisi serta adanya sanksi yang tegas terhadap setiap terjadinya tindakan tercela, adanya transparansi informasi hukum melalui putusan-putusan pengadilan yang dapat diakses oleh masyarakat, dan adanya kesejahteraan dan kondisi kerja yang baik bagi aparat penegak hukum.

Mari kita lihat, apakah kondisi yang sama pada saat ini masih akan kita temui dalam 20 tahun ke depan?

 

Kondisi Pendidikan Di Indonesia

Pendidikan adalah sebuah proses dealektika manusia untuk mengembangkan kemampuan akal pikirnya, menerapkan ilmu pengetahuan dalam menjawab problem-problem sosial, serta mencari hipotesa-hipotesa baru yang kontekstual terhadap perkembangan manusia dan zaman. Pendidikan merupakan media untuk mencerdaskan kehidupan rakyat dan bangsa sekaligus media merubah watak dan pola pikir dan tindakan, sehingga  pendidikan menjadi faktor pendorong kemajuan menuju masyarakat yang beriman, bertakwa, sejahtera secara ekonomi, demokratis secara politik, partisipatif secara budaya. (Muhammad Burhanuddin, 2005:09).

Kenyataan berkata lain, pendidikan Indonesia   tidak seperti yang diharapkan. Kondisi dunia pendidiakan masih menyisakan kabut gelap bagi rakyatnya sehingga Pendidikan Indonesia belum mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan rakyat. Berikut ini adalah beberapa persoalan pokok pendidikan Indonesia Read the rest of this entry