Batas Minimal usia nikah Aspek Psikologis

Sesungguhnya makna keluarga bagi wanita adalah memberikan arena bermain dan jaminan sekuritas untuk melaksanakan fungsi-fungsi kewanitaannya, selanjutnya memainkan berbagai peranan sosial (sebagai isteri, ibu dan anggota masyarakat), sehingga menjadikan wanita tersebut semakin positif dan semakin produktif. Kesuksesan dalam memainkan peranan-peranan tersebut memberikan rasa bahagia dan puas, dan kestabilan jiwa dalam hidupnya. Oleh karena itu, sesungguhnya status perkawinan lebih banyak memberikan kesempatan untuk memperkaya kehidupan psikis wanita, daripada wanita tersebut tidak kawin.

Tetapi, dalam kenyataannnya ada banyak wanita yang tidak bahagia dengan perkawinannya, sebenarnya bukan disebabkan oleh status perkawinan itu an sich. Akan tetapi disebabkan oleh tidak siap dan kurangnya kemampuan wanita tersebut memainkan beberapa peranan atau peranan ganda yang berbeda-beda dalam status perkawinan.

Dengan demikian, dalam kasus pernikahan di bawah umur yang sering terjadi adalah faktor ketidak-siapan mental dan belum adanya kedewasaan psikis untuk mampu melaksanakan macam-macam peranannya, meskipun seiring berjalannya waktu dan pengaruh kehidupan serta lingkungan, kedewasaan tersebut akan tumbuh dengan sendirinya Namun kemampuan tersebut tidak hanya diperlukan dalam kondisi perkawinan saja, akan tetapi juga berlaku pada setiap kondisi kehidupan manusia. 

 Ketidak-siapan mental tersebut merupakan indikasi usia responden yang pada saat menikah baru berusia sekitar 14-18 tahun. Pada usia seseorang baru dapat dikatakan pada tahap remaja. Periode remaja adalah waktu untuk tumbuh dan dan berkembang serta bergerak dari ketidak-matangan masa kanak-kanak menuju ke arah kematangan pada usia dewasa.

Periode remaja ini adalah masa transisi secara biologis, psikologis, sosiologis dan ekonomi pada individu. Pada anak perempuan, masa transisi secara biologis ini ditandai dengan haid (menarche, menstruasi pertama), namun menurut Dadang Hawari bukan berarti anak tersebut telah siap untuk kawin. Perubahan biologis tadi baru merupakan pertanda bahwa proses pematangan organ reproduksi mulai berfungsi, namun belum siap untuk bereproduksi (hamil dan melahirkan).Apalagi bila ditinjau dari aspek kejiwaan/psikologik, anak remaja masih jauh dari kematangan dan kemantapan berpikir serta bertindak. Kondisi kejiwaannya masih labil dan masih belum bisa dipertanggungjawabkan sebagai

suami-isteri, apalagi sebagai orang tua (ayah/ibu),

Masa remaja baru berhenti pada usia 19 tahun dan kestabilan emosi umumnya terjadi pada usia 24 tahun. Dan pada usia 20-24 tahun, baru dikatakan usia dewasa muda. Masa ini adalah masa transisi dari gejolak remaja ke masa dewasa yang lebih stabil. Maka jika pernikahan dilakukan di bawah umur 20 tahun secara emosi si remaja masih ingin berpetualang.

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Agustus 17, 2016, in edukasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: