Menyikapi Polemik Kewarganegaraan Menteri ESDM

Menteri ESDM Archandra Tahar berpose sebelum mengikuti pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (27/7). Presiden Joko Widodo melakukan penggantian terhadap 12 menteri dan satu kepala badan dalam Kabinet Kerja. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/pd/16.

Menteri ESDM Archandra Tahar berpose sebelum mengikuti pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (27/7).

Selama hari Sabtu-Minggu kemarin kita diramaikan isu yang menerpa bapak Archandra Tahar. Menteri ESDM yang bisa dibilang belum lama menjabat ini sudah mendapati ganjalan. Entah hal ini ganjalan atau sesuatu yang benar terjadi sehingga pak Archandra Tahar harus bermanuver dengan baik.

Semuanya berawal dari broadcast di grup-grup Whatsapp yang mengatakan bahwa Archandra Tahar memiliki dua kewarganegaraan, Amerika dan Indonesia. Broadcast tersebut langsung ramai di media maupun timeline media sosial. Bagi haters pemerintah, isu ini adalah hal empuk untuk menyerang. Tetapi bagi pendukung pemerntah, isu ini adalah ujian apakah mereka mendukung dengan waras atau tidak? Berani mengkritisi atau tidak? Keriuhan ini makin diperparah dengan jawaban pak Archanda Tahar yang mengambang.

Tidak menjelaskan tetapi menimbulkan polemik tersendiri. “Saya tuh orang Padang Asli, istri saya juga orang Padang asli, lahir dan besar di Padang Cuma pas kuliah S2 dan S3 saya kuliah di Amerika,” ujar Arcandra (Tribunnews.com, 14 Agustus 2016).

Keriuhan tersebut menjadi semakin ramai dengan masuknya Luhut dan Hendropriyono yang membela Archandra. Kedua mantan Jendral tersebut semakin memperparah, memperkeruh dan menurunkan pandangan positif terhadap pemerintah. Misalnya ucapan Luhut yang mengatakan bahwa dirinya akan mem-buldozer siapa pun yang mengganggu Archandra Tahar. Melihat hal ini, banyak sekali pendapat yang seharusnya dipikirkan pak Jokowi dan Archandra Tahar.

Hal yang paling logis adalah pak Archandra harus mundur. Menhumkam pun sudah mengkonfirmasi bahwa Archandra Tahar memiliki paspor Amerika. “Kalau itu iya iya (punya paspor AS) tapi legal formalnya (status WNI) belum dicabut,” kata Yasonna (Detik.com, 15 Agustus 2016).

Tentu kehadiran isu pak Archandra Tahar yang memiliki dua kewarganegaraan menjadi skandal baru. Penegakan hukum harus dikedepankan dalam hal ini. Jokowi harus tegas dan menjadi contoh bahwa hukum adalah hukum. Tidak boleh ada standar ganda atau sesuatu yang bisa menambah polemik ke depannya dengan hadirnya Archandra Tahar di kursi pemerintahan

Iklan

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Agustus 15, 2016, in kabar terkini and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: