Daulat Desa

Indonesia pernah menjadi sangat menarik ketika budaya desa masih berada di puncak kedaulatannya. Orang­orang tertua di dunia yang umurnya di atas seratus tahun dan masih hidup sehat hingga kini, kebanyakan adalah para orang yang hidup dalam kebudayaan desa. Di Okinawa Jepang, di Roseto, Pennsylvania Amerika, di Tengger, Bromo Jawa Timur dan di Dieng Wonosobo dan di Gunung Kidul Yogyakarta dan juga di Kudus Jawa Tengah.


Tak peduli betapa buruk pengetahuan mereka atas dunia medis, higienitas mereka pada makanan, tak peduli apa jenis olah raga mereka dan adakah mereka sarapan tepat waktu, seperti tak besar pengaruhnya pada orang­orang pendaulat budaya desa itu. Bapak saya, simbah dan buyut saya adalah orang­orang agraris dan saya selalu takjub pada kesehatan mereka. Ayah saya malah nyaris tak pernah mondok di rumah sakit karena sakit berat.

Tradisi rumah sakit semacam itu jauh lebih sering dilakukan oleh anak­anak dan cucunya, generasi orang kota baru yang hidup dengan tradisi baru: aneka imunisasi dan antibiotik. Tak sabar lagi tubuh demam hanya dilawan dengan air kendi yang didinginkan semalam suntuk di lapangan terbuka untuk menginduksi embun pagi. Kita sekarang sudah sulit percaya.pada kualitas embun pagi karena sebelah rumah sudah penuh cerobong industri.


Daulat desa itu sebenarnya tak harus berbenturan dengan kedaulatan kota karena keduanya saling
menyangga. Tetapi kini benturan desa­kota itu keras sekali. Kini penembak spesies burung­burung liar itu sudah tak perlu orang­orang kota melainkan sudah cukup pemuda­pemdua desa sendiri. Persoalannya, merekalah sesungguhnya adalah penjaga garis depan kesehatan ekologi desa.

Infiltrasi kota akan menepi jika para penjaga desa masih siaga di barak sambil mengolah industri pertanian. Industri harus hidup di desa tetapi harus industri pertanian, bukan yang lain. Tapi kini barak itu kosong. Para penjaga tradisi desa itu bergerak ke kota menjadi buruh pabrik, pengojek dan pekerja serabutan. Desa sunyi oleh tradisi sang penyokong umur.panjang manusia yang ajaib itu.


Apa inti kebudayaan desa yang menyebabkan kesehatan lahir batin itu? Ternyata ini: tegur sapa dan silaturahmi. Di rumah, di luar rumah, di ladang, di sawah, di pagi, siang dan malam, jadwal desa padat tegur sapa lewat berbagai ekspresi. Tradisi itu membuat jiwa masyarakat aktual karena saling mengapresiasi. Itulah kenapa mereka mudah sekali merasa penuh walau sejatinya sangat kurang, mudah merasa sebagai orang penting tanpa harus memiliki kedudukan penting.


Lihatlah krisis eksistensi itukini. Puncak krisis itu justru terjadi ketika tersedia begitu banyak alat eksistensi dan sarana foto selfie. Kini manusia disediakan seluruh alat untuk menjadi populer tetapi kebutuhan untuk menjadi lebih dan lebih populer adalah dahaga yang makin sulit dipenuhi.

tulisan:: prie GS

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on April 26, 2015, in DIALEKTIKA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: