Pemahaman Latar Belakang Kontrak

Setiap kontrak sebenarnya merupakan pencerminan maksud/kepentingan dari para pihak untuk mewujudkan tujuan bersama. Oleh karena itu dapat ditemukan keanekaragaman maksud/kepentingan para pihak yang dapat melatarbelakangi suatu transaksi yang dirumuskan dalam bentuk kontrak. Sebagai seorang perancang kontrak berkemampuan untuk memahami apa yang dikendaki para pihak sebagai latar belakang suatu transaksi yang dapat dirumuskan dalam bentuk kontrak. Pemahaman arti pentingnya latar belakang transaksi adalah untuk menetapkan judul atau title dari suatu kontrak yang mencerminkan esensi ketentuan-ketentuan dari kontrak yang bersangkutan.

Pemahaman latar belakang transaksi bagi perancang kontrak tidak hanya bergantung pada pengetahuan hukum dan berkemampuan berpikir secara yuridis normatif, tetapi juga secara empiris membutuhkan wawasan bidang transaksi yang hendak dirumuskan itu. Apabila perancang kontrak tidak memenuhi persyaratan pengetahuan hukum dan wawasan transaksi yang akan disusunnya maka tujuan para pihak tidak terselenggarakan dengan baik sekaligus menimbulkan kerugian bagi para pihak. Misalkan, kontrak jual beli, kontrak jual beli dengan hak membeli kembali, kontrak pinjam uang maupun kontrak sewa beli akan menunjukkan latar belakang transaksi tertentu sehingga dapat ditentukan judulnya dan diderivasi menjadi ketentuan-ketentuan dari kontrak yang bersangkutan.

  1. Pengenalan dan Pemahaman Para Pihak

Para pihak akan berupaya saling mengetahui situasi dan kondisinya. Proses pemahaman diantara para pihak ini berjalan secara intensif dan responsif. Perilaku para pihak secara linear akan dijalankan pula oleh perancang kontrak dalam mengidentifikasi kedua belah pihak yang telah mengungkapkan kepentingan masing-masing dalam mencapai tujuan bersama.

Di dalam proses identifikasi ini, akan diperoleh pemahaman identitas para pihak yang berupa nama, tempat tinggal dan profesinya. Di dalam hubungan bisnis yang baru dilakukan dengan mitranya (counter part) akan mencari pemahaman yang mendalam tentang bonafiditas profesi yang dijalankannya yang meliputi kegiatan usaha yang telah dimiliki, kemampuan modalnya, teknologi yang dipakai, pangsa pasar yang dikuasainya dan lamanya berkecimpung dalam bisnisnya itu.

  1. Pengenalan dan Pemahaman Obyek Transaksi

Para pihak akan berupaya memahami esensi dari transaksi yang hendak dijalankannya. Maksud/kepentingan yang telah diungkapkan dan sehaluan dalam pencapaian tujuan bersama akan memahami secara mendalam obyek transaksi. Secara substansial dan prosedural obyek transaksi akan dikaji oleh para pihak dari berbagai pandangannya. Apa dan bagaimana obyek yang hendak ditransaksikannya. Tingkat keberhasilan dalam pencapaian tujuan bersama yang didasarkan waktu, modal yang ditanam atau tenaga/ pikiran yang dicurahkan akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan hak dan kewajiban para pihak dalam melaksanakan transaksi yang dirumuskan dalam kontrak. Pertimbangan waktu dalam pencapaian tujuan bersama itu dapat terwujud pada waktu/jangka pendek atau panjang. Hal ini juga terkait dengan bagaimana tingkat pengembalian modal yang telah ditanamkan.

  1. Penyusunan Garis Besar Transaksi

Para pihak akan berupaya dan menyusun garis besar transaksi yang akan dilakukannya. Garis besar transaksi merupakan akumulasi maksud/kepentingan para pihak dalam pencapaian tujuan bersama. Kemampuan para pihak sangat diyakini dan menentukan dalam mengelola obyek transaksi sampai dalam pencapaian tujuan bersama. Garis besar transaksi merangkum apa yang dikehendaki, dirumuskan dan dilaksanakan oleh para pihak.

Penyusunan skema transaksi yang transparan dan konklusif akan mengantarkan para pihak pada pemahaman dalam mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam pencapaian tujuan bersama (analisis SWOT). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari pertimbangan bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisa SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities)yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.

  1. Perumusan Pokok-Pokok Kontrak

Dengan pemahaman para pihak dalam mengidentifikasi transaksi yang akan dilakukannya maka akan mengantarkan para pihak untuk penyusunan pokok-pokok kontrak. Kata kunci dalam pokok-pokok kontrak adalah pesan yang menonjol yang seringkali menjadi pokok kepentingan para pihak yang diharapkan menjadi pokok dari suatu kontrak. Pesan yang menonjol sekaligus menjadi pokok kepentingan ini bersifat komplementer dalam arti akan dipertemukan dengan pihak lain yang akan mengimbangi dengan pesan pokoknya yang sekaligus kepentingan pokoknya. Penyampaian pesan pokok secara transparan dan konklusif dalam konteks konstruktif akan menjadi pangkal tolak dalam perumusan pokok-pokok kontrak.

Pokok-pokok kontrak harus dirumuskan dengan cermat dan akurat dengan alasan sebagai berikut:Yang pertama, rumusan tentang pokok-pokok kontrak itu menentukan keruntutan (kesinambungan logis) dari ketentuan ketentuan pelaksanaan kontrak. Berikutnya, keruntutan itu menentukan apakah hubungan timbal balik dari berbagai hak dan kewajiban yang akan berlaku bagi para pihak telah ditentukan secara adil dan rasional. Keruntutan ini perlu diperhatikan para pihak maupun perancang kontrak. Hal ini untuk menghindari terjadinya kemauan dan perilaku salah satu pihak yang hendak menpecundangi pihak lain jauh hari sebelum mereka benar-benar saling mengikatkan diri. Moralitas para pihak menjadi pertaruhan dalam penyusunan kontrak yang hendak mereka laksanakan bersama. Contra bono mores berarti maksud, tujuan dan pelaksanaan tidak boleh bertentangan dengan moral yang baik.

Moral hazard para pihak akan mengrongrong kesepakatan yang telah dibuat para pihak sehingga semakin menjauhkan dari tujuan bersama. Dengan demikian kalau ada salah satu pihak berkepentingan untuk menaruh kepemilikan sahamnya berbanding 50:50, akan tetapi dia hanya mau membayar 30% dari modal ditempatkan dan sisanya harus dibayar tunai mitra bisnisnya dengan alasan pembayaran 20 % dari modal ditempatkan akan ditunaikan untuk pembiayaan pemasaran produk. Pemikiran yang demikian ini tidak logis menyetarakan modal perusahaan dengan pembiayaan perusahaan dan bertentangan secara yuridis normatif. Seorang drafter kontrak harus bertolak dari sikap win-win, yang bersikap kritis terhadap pesan-pesan pokok para pihak yang tidak rasional untuk menghindari absurditas kontrak.Moral hazard para pihak akan mengantarkan pada kegagalan dan pekerjaan yang sia-sia.

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on April 2, 2015, in edukasi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: