Monthly Archives: April 2015

Daulat Desa

Indonesia pernah menjadi sangat menarik ketika budaya desa masih berada di puncak kedaulatannya. Orang­orang tertua di dunia yang umurnya di atas seratus tahun dan masih hidup sehat hingga kini, kebanyakan adalah para orang yang hidup dalam kebudayaan desa. Di Okinawa Jepang, di Roseto, Pennsylvania Amerika, di Tengger, Bromo Jawa Timur dan di Dieng Wonosobo dan di Gunung Kidul Yogyakarta dan juga di Kudus Jawa Tengah.


Tak peduli betapa buruk pengetahuan mereka atas dunia medis, higienitas mereka pada makanan, tak peduli apa jenis olah raga mereka dan adakah mereka sarapan tepat waktu, seperti tak besar pengaruhnya pada orang­orang pendaulat budaya desa itu. Bapak saya, simbah dan buyut saya adalah orang­orang agraris dan saya selalu takjub pada kesehatan mereka. Ayah saya malah nyaris tak pernah mondok di rumah sakit karena sakit berat.

Tradisi rumah sakit semacam itu jauh lebih sering dilakukan oleh anak­anak dan cucunya, generasi orang kota baru yang hidup dengan tradisi baru: aneka imunisasi dan antibiotik. Tak sabar lagi tubuh demam hanya dilawan dengan air kendi yang didinginkan semalam suntuk di lapangan terbuka untuk menginduksi embun pagi. Kita sekarang sudah sulit percaya.pada kualitas embun pagi karena sebelah rumah sudah penuh cerobong industri. Read the rest of this entry

Pemahaman Latar Belakang Kontrak

Setiap kontrak sebenarnya merupakan pencerminan maksud/kepentingan dari para pihak untuk mewujudkan tujuan bersama. Oleh karena itu dapat ditemukan keanekaragaman maksud/kepentingan para pihak yang dapat melatarbelakangi suatu transaksi yang dirumuskan dalam bentuk kontrak. Sebagai seorang perancang kontrak berkemampuan untuk memahami apa yang dikendaki para pihak sebagai latar belakang suatu transaksi yang dapat dirumuskan dalam bentuk kontrak. Pemahaman arti pentingnya latar belakang transaksi adalah untuk menetapkan judul atau title dari suatu kontrak yang mencerminkan esensi ketentuan-ketentuan dari kontrak yang bersangkutan.

Pemahaman latar belakang transaksi bagi perancang kontrak tidak hanya bergantung pada pengetahuan hukum dan berkemampuan berpikir secara yuridis normatif, tetapi juga secara empiris membutuhkan wawasan bidang transaksi yang hendak dirumuskan itu. Apabila perancang kontrak tidak memenuhi persyaratan pengetahuan hukum dan wawasan transaksi yang akan disusunnya maka tujuan para pihak tidak terselenggarakan dengan baik sekaligus menimbulkan kerugian bagi para pihak. Misalkan, kontrak jual beli, kontrak jual beli dengan hak membeli kembali, kontrak pinjam uang maupun kontrak sewa beli akan menunjukkan latar belakang transaksi tertentu sehingga dapat ditentukan judulnya dan diderivasi menjadi ketentuan-ketentuan dari kontrak yang bersangkutan. Read the rest of this entry