Nasab tidak menentukan nasib

“Gus ojo gemagus lek pengen dadi wong bagus”

Jika kita menginginkan keberkahan dan kemanfaatan ilmu yang kita dapatkan maka kita harus tadim dan menghormati guru atau kiai kiat dimanapun, kapanpun sedekat papaun tetap harus tazim, karena dengan memulyakan orang alim maka insyaAllah kita akan ketularan alim dan menjadi orang yang sholih dan ahli ilmu. Itu merupakan rumus kemanfaatan ilmu yang didoktrinkan disetiap pesantren dan majlis ilmu.

 

Ketika seorang ulama meninggal maka perjuangannya diteruskan oleh putranya yang acapkali disebut gus bila orang jawa, aceng bila di masyarakat sunda, atau raden bila di masyarakat Madura,Kita harus menghormati seorang anak putra kiai karena secara tidak langsung kita hormat kepada yai pula dan sebaliknya bila kita mencelanya maka maka secara tidak langsung kita mencela yai, mencela yai sama dengan mencela guru kita, mencela guru sama dengan mengundang ketidak manfaatan pada ilmu kita, ingat kisah pengarang kitab alfiyah ibnu malik mengatakan bahwa alfiyahnya lebih dari pada ibnu mu’ti seketika apa yang ingin beliau tulis hilang karena menyombongkan diri.

 

Begitu pula dengan seorang gus, jangan menyombongkan diri karena seorang anak orang terhormat dan orang pintar, yang pintar itu ayahmu bukan kamu, kamu bukanlah siapa-siapa dan juga bukan orang terhormat, jadi jangan congkak, melakukan apapun semaunya sendiri, memerintah apapun semaunya, membenarkan segala tindakannya, celaka orang yang sombong dan congkak!, siapa kamu dengan sombongnya bertingkah semaumu, kamu orang alim? Bukan, yang alim itu ayah kamu, hargailah orang lain, jika kamu sudah alim dan pintar maka silahkan mau melakukan apapun, karna orang alim pasti melakukan hal baik tidak sombong dan tawadu’. “Wafillaldzuni laduni qolla wafi”

 

siapa yang meragukan kewalian syaikhona cholil bangkalan , beliau orang alim, gurunya para ulama, ulama yang melahirkan banyak ulama besar seorang yang luar biasa, akan tetapi apakan putra dan cucu cicitnya akan ikut alim juga? Belum tentu, karena “Wafillaldzuni laduni qolla wafi” masih ingatkah kejadian ketika KPK menangkap tangan Kh. Fuad Amin Imron manatan bupati, dan ketua DPRD Bangkalan pada bulan desember lalu, siapa beliu? Beliau adalah cucu dari syaikhona cholil bangkalan , cucu dari seorang ulama besar ulamanya para ulama, menjadi tersangka korupsi itu seorang cucu ulama besar, lalu siapa kita siapa kamu? Jadi jangan sombong.

“Gus ojo gemagus lek pengen dadi wong bagus”, itu menjadi pelajaran besar bagi kita bahwa Nasab tidak menentikan nasib, nasab bukan sebuah jaminan akan sebuah masa depan yang sama dengan pendahulunya, belum tentu masa depan seorang gus lebih baik dari pada santrinya atau murid ayahnya, karena saat ini masih berproses bukan sebuah final atau puncak dari proses, bisa jadi Nasab meperburuk nasib karena rasa congkak, sombong dan Gemagus, menganggap dirinya akan seperti ayahnya kelak. Bisa jadi karena nasab dan kesombongannya dia menjadi lebih buruk dan generasi payah di masa depan kelak. Itu saja.

 

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on Januari 16, 2015, in Cerita, DIALEKTIKA and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: