Sebaiknya Memperhatikan Stabilitas Emosi Isteri

jjjjj

Sebagian ulama berpendapat, makrûh hukumnya apabila seorang suami menyetubuhi sang isteri tanpa kemauan dan kehendak tulusnya. Demikian pula menyetubuhi isterinya di saat ia tidak mau. Sebab, memaksa untuk menyetubuhi sang isteri yang sedang tidak enak hati, justru malah menyakiti dirinya. Perilaku demikian akan membuat sang isteri benci terhadap suaminya.

Sebagaimana diketahui bersama, soal stabilitas emosi ini merupakan unsur terpenting jauh sebelum persetubuhan dilakukan. Mesti diingat, hubungan biologis termasuk salah satu unsur penentu kebahagiaan hidup berumah-tangga. Tanpa itu, kehidupan rumah tangga akan terasa hambar tanpa makna.

Menurut seorang psikolog kenamaan, Watson, hubungan biologis tidak disangsikan lagi merupakan urusan paling mendasar dalam kehidupan berumah tangga. Persoalan inilah yang selanjutnya akan menentukan bahagia atau tidaknya kehidupan berumah tangga, baik bagi suami maupun isteri.

Hubungan biologis tidaklah bisa dipaksakan atau dilakukan dengan tanpa sepenuh hati. Hal itu jelas tidak bisa diterima akal sehat. Namun, kebutuhan seksual ternyata kerap mendesak sang suami untuk tetap melakukannya. Terlebih godaan syahwat dewasa ini semakin merajalela. Sementara di pihak lain, pada saat yang sama sang isteri terkadang tengah tidak stabil emosinya. Lantas, apa yang semestinya dilakukan oleh sang suami? Harus kemana lagi ia menyalurkan syahwat biologisnya selain kepada isterinya sendiri?

Darisinilah ajaran Islam tetap mewajibkan seorang isteri untuk tetap memenuhi ajakan bersetubuh dari suaminya tersebut. Berdasarkan sebuah hadits sahîh:

Demi diriku yang berada dalam genggaman-Nya, tidaklah seorang suami mengajak isterinya untuk bersetubuh kemudian isterinya menolak ajakannya tersebut hingga sang suami tertidur dalam keadaan menggerutu kepadanya, maka malaikat akan melaknatnya hinga tibanya waktu pagi.[1]

Dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda:

Apabila seorang suami mengajak isterinya bersetubuh, maka penuhilah keinginannya sekalipun terasa terbakar (Maksudnya: di atas tungku perapian).[2]

Hal di atas disebabkan manakala sang suami melihat sesuatu yang membangkitkan nafsu birahinya, sang isteri wajib memadamkannya. Saat itulah bersetubuh dengan isterinya merupakan upaya efektif dalam meredakan syahwatnya yang tengah menggebu-gebu itu sehingga akhirnya sang suami dapat menghalau pikiran-pikiran jahat dari dalam dirinya.

Dalam sebuah hadits ditegaskan:

Sesungguhnya bagian depan seorang perempuan itu sosok syetan, demikian bagian belakangnya (juga) merupakan gambar syetan. Apabila seseorang melihat seorang perempuan (Maksudnya: hingga membuat hatinya berdebar-debar), maka bersegeralah ia menyetubuhi isterinya, karena hal itu akan menghalau gejolak birahi dalam dirinya.[3]

Hendaklah sang isteri mengetahui secara mendalam seputar hal ini. Menjadi tugas mereka berikutnya untuk bisa memadamkan gejolak birahi sang suami dari berbagai godaan syahwat yang dewasa ini semakin merajalela. Bahkan kerap disuguhkan hampir di setiap siang dan malam hari.

Dalam hal ini Nabi Saw. memperingatkan kita dari godaan syahwat kaum wanita yang tergolong raja dari segala godaan (ummul fitan). Beliau bersabda:

Waspadailah (godaan) dunia, waspadai pula (godaan) kaum wanita, karena sesungguhnya godaan pertama yang menghancurkan kaum Bani Israil tiada lain adalah godaan kaum wanita.[4]

Dalam hadits lain beliau juga bersabda:

Tidak aku tinggalkan setelah jamanku sebuah cobaan yang paling berbahaya bagi kaum laki-laki selain (godaan) kaum wanita.[5]

Pada dasarnya, stabilitas emosi sang isteri memang merupakan persoalan yang teramat penting untuk diperhatikan sebelum akhirnya menyetubuhinya. Namun, di sisi lain ajaran Islam justru mewajibkan pada seorang isteri untuk senantiasa memenuhi hasrat biologis sang suami terlebih saat ia menginginkannya. Hal ini tiada lain untuk menjauhkan dirinya dari segala godaan.

Seorang isteri setidaknya bakal mampu untuk lebih menstabilkan diri dan meredam emosinya hingga ia bisa memenuhi hasrat biologis suaminya dengan penuh kenikmatan. Dengan sendirinya sang isteri akan merasa tentram, begitu pula dengan suaminya. Namun seandainya hal itu tidak dilakukan, maka sama saja dengan menantang murka Allah karena selanjutnya bisa menyebabkan sang suami terjerumus pada godaan yang tidak diketahui kemadaratannya selain oleh Allah sendiri. Ini pulalah yang barangkali menjadi salah satu faktor penyebab kian merajalelanya berbagai bentuk kemaksiatan di belahan dunia Barat.

Syekh Muhammad Al-Ghazali (1917-1996 M./1335-1416 H.) –rahimahullah—pernah berkomentar:

Saya pernah membaca sebuah berita yang sama sekali tidak masuk akal; seputar hukuman bagi seorang suami yang ‘dituduh’ memperkosa isterinya. Saat saya bertanya kepada sahabat-sahabat saya, mereka hanya menjawab, ‘Itulah yang terjadi di Amerika.’ Saya lalu kembali mengamati surat kabar itu seraya berkata, ‘Apakah benar hal itu tidak boleh dilakukan di Amerika sana!’ Hubungan seksual suami isteri yang jelas-jelas sah malah dianggap sebagai sebuah kejahatan? Jika demikian adanya, maka timbul persoalan, seandainya sang isteri jelek perangainya (baca: pembangkang) maka pada saat birahi si suami benar-benar terangsang, kemanakah lagi ia harus pergi untuk menyalurkan syahwatnya? Apakah ketika sang suami menginginkan untuk bersetubuh dengan isterinya namun ditolak, dan jika ia terus memaksa isterinya, apakah isterinya itu berhak melapor kepada polisi? Jenis kriminal apakah yang akan dituduhkan sang isteri pada suaminya itu? Apakah termasuk jalan keluar yang terpuji seandainya menyuruh sang suami untuk menyalurkannya pada seorang pelacur?

Memang, hukum dan undang-undang buatan manusia itu seringnya terkadang melecehkan dirinya sendiri! Memangnya, apa kira-kira bahayanya seandainya sang isteri –dengan penuh ketulusan—menyelamatkan suaminya melalui donor tubuhnya untuk memadamkan dan meredam nafsu syahwatnya.

Dalam sebuah hadits ditegaskan:

Apabila salah seorang di antara kalian tertarik oleh seorang perempuan hingga membuat gundah hatinya, maka bersegeralah menemui isterinya dan bersetubuhlah dengannya karena hal itu akan memadamkan gejolak yang tengah membakar dirinya.

Jelaslah, perempuan Muslimah dewasa ini benar-benar tertuntut untuk bisa meredam berbagai gejolak syahwat yang tengah dipertontonkan peradaban manusia kini terutama dalam mengeksploitasi hubungan seksual secara bebas dan liar.Ì


[1]     HR. Bukhârî-Muslim.

[2]     HR. Ahmad dan Imam Tirmidzî.

[3]     HR. Muslim.

[4]     HR. Muslim.

[5]     HR. Bukhârî-Muslim dan juga yang lainnya.

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Maret 15, 2014, in SUAMI ISTRI and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: