Etika Bersetubuh

kkkk

  1. Mulailah dengan Kata-kata Canda dan Mesra.

Adalah suami yang tidak romantis manakala ia bersetubuh dengan isterinya tanpa pendahuluan apa-apa. Padahal, seorang isteri adalah makhluk yang mempunyai perasaan sensitif. Ia sangat benci jika hanya dijadikan sebagai tempat melampiaskan hawa nafsu belaka. Ia justru membutuhkan pujian, kelembutan, kata-kata canda dan mesra. Ia juga menginginkan cumbu rayu, tatapan penuh kasih sayang, dan ciuman hangat.

Ibnu Al-Qayyim (1292-1350 M./691-751 H.) dalam hal ini berkomentar:

Sebelum bersetubuh, hendaknya sang suami bercanda terlebih dahulu dengan isterinya; menciumnya, dan mempermainkan lidahnya.” “Rasulullah Saw. juga sering mencium Aisyah dan memutar-mutar lidahnya.[1]

Dalam hadits yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah, Rasulullah bahkan memperingatkan:

Rasulullah melarang bersetubuh sebelum bercanda terlebih dahulu.

Dalam hadits lain ditegaskan:

Hendaknya seseorang di antara kalian tidak menyetubuhi isterinya sebagaimana persetubuhan binatang. Hendaklah ada perantara di antara keduanya.” Beliau pun ditanya, “Apakah yang disebut perantara itu?” Beliau menjawab, “Ciuman (al-qublah) dan kata-kata mesra (al-kalâm).[2]

Rasulullah juga bersabda:

Tiga perkara yang merupakan kelemahan seorang lelaki (beliau diantaranya menyebut); seorang suami yang mendekati isterinya lalu langsung melakukannya (menyetubuhinya) sebelum berbincang-bincang, merayunya, dan memanjakannya terlebih dahulu. Ia langsung melampiaskan hasrat pada isterinya sebelum sang isteri tertutupi hasratnya darinya.[3]

  1. Mulailah dengan Ucapan Basmalah dan Berdo’a.

Sebelum mulai bersetubuh, kita selanjutnya dianjurkan untuk membaca basmalah dan berdo’a terlebih dahulu. Dalam sebuah hadits ditegaskan:

Apabila seseorang di antara kalian menyetubuhi pasangannya, hendaklah berdo’a, ‘Allahumma jannibnâ ‘l-syaithânâ wa jannib-I ‘l-syaithânâ mâ razaqtanâ’ (Ya Allah, jauhkanlah syetan dari kami berdua dan jauhkan pula ia dari apa yang kelak kau berikan kepada kami; maksudnya anak, Penj.). Apabila keduanya kelak melahirkan seorang anak, maka ia tidak akan digoda oleh syetan.[4]

Bagi seorang pengantin yang hendak menyetubuhi isterinya, hendaklah ia terlebih dahulu mengelus dahi isterinya dan berdo’a dengan do’a yang disebutkan dalam sebuah hadits Nabi Saw.:

Apabila seseorang di antara kalian hendak menyetubuhi isterinya, maka eluslah dahinya, bacalah basmalah, harapkanlah keberkatan, dan berdo’alah, ‘Allahumma innî as-‘aluka khaira-hâ wa khaira mâ jabalat-hâ ‘alaihi wa a’ûdzubi-ka min syarri-hâ wa syarri mâ jabalat-hâ ‘alaihi’ (Ya allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan darinya dan kebaikan apa yang kelak dikandungnya. Aku juga berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang kelak dikandungnya).[5]

Setelah kemudian ia menyetubuhinya, maka pada saat hendak keluar air mani, hendaklah ia berdo’a dalam hatinya:

Alhamdulil-Lâh al-ladzî khalaqa min-a ‘l-mâ-i basyar-an fa ja’alahu nasab-an wa shihr-an wa kâna rabbuk-a qadîr-an (Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan beranak-pinak dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa).[6]

  1. Hendaknya Tidak Menyetubuhi Isteri Dalam Keadaan Masih Berpakaian.

Syarih Manzhumah bin Yamun berkata:

Beliau (Manzhumah bin Yamun) memberitahukan –semoga Allah merahmatinya—bahwasannya termasuk salah satu etika bersetubuh jika sang suami tidak menyetubuhi isterinya sementara dia masih berpakaian lengkap. Seyogianya (bersetubuh) dilakukan setelah semua pakaian terlepas lalu tidur bersamanya dalam satu selimut. Sebab, termasuk sunnah, bersetubuh tanpa pakaian yang menempel di badan…Terlepasnya pakaian di saat tidur memiliki banyak faedah di antaranya, untuk menuaikan badan dari panasnya udara di siang hari, mudahnya berganti posisi ke arah kiri dan kanan, serta dapat mendatangkan kebahagiaan karena mampu menambah kenikmatan…

  1. Hendaknya Tidak Dulu Keluar Sebelum Sang Isteri Mencapai Klimaks.

Imam Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111M./450-505 H.) dalam kitab “Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn” berkata:

Apabila sang suami mencapai orgasme, hendaknya ia memperhatikan juga saat-saat orgasme pasangannya. Sebab, orgasme seorang wanita itu biasanya lebih lama daripada seorang laki-laki hingga sang suami mampu merangsangnya. Menyetubuhinya dalam keadaan tidak terangsang tentu akan menyakitkan baginya. Soal ketidakpuasan orgasme ini kerap mengundang pertengkaran. Sekalipun kebanyakan suami tetap bisa menikmati puncak orgasmenya itu. Sama-sama keluar dengan berbarengan, merupakan cara yang paling nikmat baginya. Namun sang suami kebanyakan tidak memedulikan hal ini. Sementara sang isteri, merasa malu untuk mengungkapkannya.[7]

Adapun di antara tanda-tanda orgasme seorang wanita ialah jika berkeringat kedua dahinya atau memeluk erat suaminya, serta jika ia mulai menggelinjang-gelinjang.

  1. Hendaknya Mandi atau Berwudlu Jika Hendak Mengulangi Persetubuhan.

Ajaran Islam menganjurkan bagi orang yang hendak menyetubuhi isterinya kemudian bermaksud untuk mengulanginya lagi, agar berwudu terlebih dahulu. Rasulullah Saw. bersabda:

Apabila salah seorang di antara kalian menyetubuhi isterinya kemudian hendak mengulanginya lagi, sebaiknya keduanya berwudlu satu kali, karena hal itu akan mengembalikan kekuatan.[8]

Inilah yang sering dilakukan Rasulullah saat beliau menggilir isteri-isterinya pada suatu waktu. Beliau selalu mandi setelah itu. Abu Rafi’ berkata:

Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak cukup dengan satu kali mandi saja?” Beliau menjawab, “Karena lebih bersih, lebih harum, dan menyucikan.[9]

Mandi setelah bersetubuh hukumnya wajib. Mereka disyaratkan agar membersihkan badannya. Namun kewajiban ini tidak perlu dilakukan segera (langsung setelah bersetubuh, karena bersuci ini dilakukan jika hendak salat, Penj.). Karenanya, hukumnya boleh jika setelah bersetubuh ia tidur terlebih dahulu kemudian bangun sebelum shubuh lalu mandi dan berwudu untuk menunaikan shalat. Yang lebih utama memang mandi sebelum tidur atau berwudu dulu kemudian tidur. Terlebih jika dalam perkiraanya, ia tidak akan kuat mandi pada waktu pagi sebelum subuh tiba. Dengan begitu, maka ia tidak akan malas untuk mengerjakan salat tepat pada waktunya.

Aisyah pernah ditanya tentang hal itu:

Bagaimana yang dilakukan Rasulullah saat junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur? Ataukah tidur dulu kemudian mandi?” Aisyah menjawab, “Semua itu pernah dilakukan Nabi. Terkadang mandi kemudian tidur, atau berwudu dulu kemudian tidur.[10]

Sebagaimana diketahui, Rasulullah sering bangun malam untuk melaksanakan salat tahajjud hingga kemudian tiba waktu subuh. Dalam selang waktu itu terdapat waktu yang cukup untuk mandi. Sementara kita, seandainya tidak mandi terlebih dahulu sebelum tidur, dikhawatirkan malas bangun malam dan mandi di malam hari hingga akhirnya waktu salat subuh terlewatkan. Apabila kita merasa sering berbuat demikian, sebaiknya kita mandi terlebih dahulu sebelum tidur.

  1. Hendaknya Sang Isteri Berhias dan Memakai Wangi-Wangian.

Etika selanjutnya dalam bersetubuh adalah berhias dan mempercantik diri bagi sang isteri sesuai yang dikehendaki oleh suaminya sehingga dapat membangkitkan gairah kelelakian sang suami.

Ali bin Abu Thalib Ra. berkata:

Sebaik-baik wanita di antara kalian adalah yang berbau wangi dan harum masakannya. Apabila ia memberi, maka memberi penuh arti. Dan jika ia menolak, maka menolak sepenuh hati…[11]

Aisyah Ra. berkata:

Kami senantiasa memoles dahi kami dengan wangi-wangian…apabila salah seorang di antara kami berkeringat, maka melelehlah (wangi-wangian itu) ke wajah-wajah kami dan hal itu pernah dilihat oleh Nabi Saw. namun beliau tidak melarangnya.

Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib Ra. pernah berwasiat kepada puterinya, beliau berkata:

…pakailah selalu celak matamu karena itu adalah perhiasan paling indah. Dan, sebaik-baik pewangi adalah air.

Anjuran berhias di antaranya mencakup kebersihan pakaian, badan, gigi, dan wangi bau mulut. Orang-orang dulu pernah berwasiat, hendaknya sang suami merawat mulutnya dengan anyelir agar berbau wangi dan selalu membersihkannya (baca: bersikat gigi).

Begitu pula dianjurkan pada sang isteri agar ia selalu bisa tampil cantik di depan suaminya. Berhiaslah secantik mungkin selama tetap berada dalam batas-batas yang diperbolehkan. Sang isteri yang tampil cantik di depan suaminya, tentu saja dapat menggairahkan birahi suaminya sehingga membuat sang suami semakin menyayanginya. Untuk menghargai upaya seorang wanita dalam memperhatikan kecantikan ini, sebuah hadits Rasul menyebutkan:

Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.[12]

Begitu pula bagi seorang suami. Hendaknya ia juga bisa tampil mengesankan di depan isterinya. Ibnu Abbas dalam hal ini berkata:

Sesungguhnya aku senantiasa tampil mengesankan di depan isteriku, sebagaimana aku juga senang saat ia tampil cantik di depanku.

Apabila sang isteri melihat suaminya tampak berantakan, hendaklah ia segera merapikannya. Terlebih mendapatkan baju suaminya itu lusuh dengan rambutnya yang acak-acakan. Rapihkanlah pakaiannya dan tatalah rambutnya serapih mungkin, sehingga ia bisa tampil bersih di depanmu. Dengan begitu, sang suami akan semakin menyayangi dan merasa berhutang budi atas segala apa yang diperbuatnya untuk sang raja. Tentu, dengan penuh curahan kasih dan sayang.”Ì


[1]     HR. Abû Dâwûd.

[2]     HR. Al-Dailamî dalam kitabnya, “Musnad Al-Firdaus.” Dr. Yusuf Qardlawi berkata: “Sekalipun Hadits tersebut dla’if (lemah kedudukan sanadnya), namun etika yang terkandung di dalamnya merupakan ajakan yang sesuai dengan fitrah manusia,” (Fatâwâ Mu’âshirah, Jilid I, hal. 487, Dâr-u ‘l-Qalam).

[3]     Ibid.

[4]     HR. Bukhârî-Muslim.

[5]     HR. Bukhârî.

[6]     QS. Al-Furqân, [25]: 54.

[7]     Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn, Jilid III, hal. 66, Dar-u Mishr li ‘l-Thibâ’.

[8]     HR. Muslim.

[9]     HR. Abû Dâwûd dan Al-Nasâ-’î.

[10]    HR. Muslim.

[11]    Maksudnya: seorang perempuan salehah itu jika memberi akan sepenuh hati, namun jika menolak, akan menolak dengan halus, [Penj.]

[12]    HR. Muslim.

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on Maret 14, 2014, in SUAMI ISTRI and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: