Tidak Malu Belajar Agama

images

jangan malu belajar karna udah nikah

Di antara salah satu tradisi para sahabat Nabi Saw. adalah, mereka tidak merasa sungkan untuk bertanya seputar ilmu agama. Terlebih dalam urusan ibadah yang masih belum jelas hukumnya. Begitu juga dengan kaum perempuan di jaman Nabi. Mereka pun tidak merasa malu untuk bertanya. Misalnya, bertanya kepada Nabi Saw. seputar kaefiat (cara) mandi junub[1] atau membersihkan badan setelah haid.

Diriwayatkan dari Aisyah Ra. Bahwa Asma pernah bertanya kepada Nabi Saw. seputar cara bersuci setelah haid? Nabi Saw. menjawab:

Hendaklah kalian (para wanita) menceduk air lalu meratakannya (ke seluruh tubuh) lalu bersihkanlah sebersih-bersihnya. Cucurkanlah air ke atas kepala dan sisirlah hingga (air itu) merembes ke akar-akar rambut. Kemudian bersihkanlah kembali dengan cucuran air. Setelah itu, ambillah handuk yang wangi[2], dan bersihkanlah (badan) dengannya.” Asma bertanya, “Bagaimana aku membersihkannya?” Aisyah lalu menjawab (seolah-olah ia berbisik), “Gosoklah bekas darah itu.

Kemudian Asma juga bertanya seputar mandi junub? Nabi Saw. Menjawab:

Ceduklah air dan bersihkanlah sebersih mungkin hingga benar-benar bersih. Lalu cucurkanlah air ke atas kepala dan gosoklah hingga ke akar-akar rambut, dan cucurkanlah air atasnya.” Aisyah lalu berkata, “Wanita paling bahagia adalah wanita kaum Anshar. Sungguh mereka tidak merasa malu dalam mempelajari ilmu-ilmu agama.[3]

Ummu Sulaim binti Mulhan pernah datang kepada Nabi Saw. guna bertanya seputar mimpi junub. Ia kemudian mengajukan pertanyaan disertai Aisyah yang berada di sampingnya:

Wahai Rasulullah, bagaimana jika seorang perempuan bermimpi dalam tidurnya seperti halnya seorang laki-laki, ia lalu mendapatinya (baca: keluar air) sebagaimana yang dirasakan oleh seorang laki-laki? Aisyah menjawab, “Wahai Ummu Sulaim, sungguh engkau membuka rahasia kaum wanita. Terbelenggulah kedua tangan kananmu!” Rasulullah Saw. pun berkata kepada Aisyah, “Justru engkaulah yang terbelenggu kedua tangan kananmu! Ya, engkau wajib mandi wahai Ummu Sulaim jika memang mengalaminya (Maksudnya: keluar air mani).”[4]

Dalam hadits pertama, Nabi Saw. menjelaskan kepada Asma bagaimana cara-cara bersuci setelah haid. Beliau bersabda, “Ambillah handuk wangi untuk membersihkannya.” Asma pun kemudian bertanya kepada Nabi Saw. tentang bagaimana cara membersihkannya (baca: alat kelamin). Rasulullah pun merasa malu untuk menjelaskan kepadanya seputar hal itu hingga kemudian Aisyah yang menjawabnya dengan suara agak tertahan, “Gosoklah sekeliling bekas darah itu!

Sebenarnya, bukan karena merasa malu Nabi Saw. tidak menjelaskan secara rinci bagaimana cara bersuci dari haid itu. Beliau semata merasa risih untuk menjelaskan sebagian kecil dari jawaban yang kemudian dapat diwakili oleh Aisyah. Sebab Aisyah mungkin dapat dianggap mewakili apa yang dimaksud beliau dengan bahasanya sendiri (baca: seorang wanita). Namun demikian, Nabi Saw. tetap mengajarkan kepada kita agar tidak sungkan dan malu dalam mempelajari ilmu-ilmu  agama.

Sebuah pepatah mengatakan, “Ilmu itu sia-sia oleh dua perkara: oleh rasa sombong dan malu!” Bagaimana mau paham ilmu agama seandainya seseorang itu merasa malu untuk menanyakan perkara-perkara terutama yang masih belum jelas status dan kedudukan hukumnya? Akibat malu bertanya, seseorang bisa saja terjerumus melakukan apa yang diharamkan Allah disebabkan ia tidak tahu hukumnya. Misalnya, bisa saja seseorang tidak akan bersuci (mandi) dengan benar-benar bersih disebabkan ia tidak paham bagaimana batasan kewajiban dalam mandi junub tersebut.

Dulu orang-orang Muhâjirîn[5] pernah berbeda pendapat dengan orang-orang Anshâr[6] seputar mandi junub ini. Menurut kaum Anshâr, tidak wajib mandi dari junub kecuali jika ada air (baca: keluar air mani). Sementara menurut kaum Muhâjirîn, jika seseorang bersetubuh maka wajib mandi baginya.

Abu Musa berkata:

Saya merasa ragu tentang soal ini.” Ia kemudian berkata, “Aku lalu datang ke rumah Aisyah untuk menanyakannya. Beliau pun memperkenankanku. Aku lalu bertanya kepadanya, ‘Wahai bunda atau wahai Ummul Mukminin,[7] aku sebenarnya hendak bertanya kepadamu tentang suatu perkara yang aku malu untuk menanyakannya.” Beliau pun menjawab, “Janganlah sungkan untuk bertanya kepadaku apabila engkau memang bertanya kepada ibumu yang telah melahirkanmu. Aku itu ibarat ibumu!” Aku lalu bertanya, “Sebatas apakah kewajiban mandi (junub) itu?” Abu Musa kemudian berkata: “Berdasarkan riwayat yang aku terima, Rasulullah Saw. bersabda,Apabila duduk di antara empat cabang (wanita)[8] dan yang sama-sama dikhitan itu (kelamin) saling bertemu,  maka ia wajib mandi.[9]Ì

 


[1]     Mandi setelah bersetubuh dengan isteri, [Penj.].

[2]     Maksudnya: sepotong kain yang telah diberi pewangi.

[3]     HR. Muslim.

[4]     HR. Muslim.

[5]     Kaum Muhâjirîn adalah kaum pendatang yang berasal dari Bangsa Quraisy Mekkah yang kemudian berhijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah) bersama Nabi Muhammad Saw. guna menghindari gangguan orang kafir Quraisy, [Penj.].

[6]     Kaum Anshâr adalah kaum pribumi penduduk kota Yatsrib yang menyambut kedatangan dan hijrah Nabi bersama rombongan beliau (Muhâjirîn) dari Mekkah, [Penj.].

[7]     Artinya, Ibunya orang-orang Mukmin [Penj.].

[8]     Empat cabang wanita itu maksudnya, antara dua tangan dan dua paha. Ada juga yang mengatakan dua pasang kaki dan dua pasang bibir kemaluan.

[9]     HR. Muslim.

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Maret 11, 2014, in SUAMI ISTRI and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: