Monthly Archives: Maret 2014

Duham dan implikasinya di dunia

 

ghhhhhvuo

HARI itu, tahun 1948 di Kota San Francisco-Amerika Serikat (AS), Charles Malik, ketua delegasi Lebanon di Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengatakan: “Kini, manusia kembali bisa menyalakan api abadi peradaban, kebebasan, dan hukum.”

Malik mengemukakan itu menjelang penyusunan akhir naskah Deklarasi HAM Universal 1948, yang kelak disetujui semua wakil bangsa yang hadir dalam sidang PBB mengenai HAM (Morsink, Human Rights Quarterly 15, 1993). Malik adalah Ketua Komite Draf Hak Azasi Manusia yang membawahi 17 wakil negara, dalam sidang-sidang PBB yang khusus membahas Deklarasi HAM, yang diperingati lahirnya tiap 10 Desember.

Deklarasi HAM Universal 1948 adalah dokumen tertulis pertama tentang HAM yang diterima semua bangsa. Karena itu, Majelis Umum PBB menyebut Deklarasi HAM Universal 1948 sebagai a common standard of achievement for all peoples and nations (pencapaian yang jadi standar bersama bagi semua orang dan bangsa). Sejumlah naskah HAM tertulis memang pernah ada dan mendahului Deklarasi HAM Universal 1948. Magna Carta (Inggris, 1215), misalnya, telah berbicara tentang jaminan kebebasan individu untuk tidak dipenjarakan sewenang-wenang. Ia sudah berbicara tentang jaminan peradilan yang bebas dan fair. Bill of Rights tahun 1689 juga berbicara tentang hak-hak memilih secara bebas, kebebasan berbicara, dan hak untuk bebas dari penganiayaan Declaration of Rights 14 Oktober 1774, mengilhami Declaration of Independence Thomas Jefferson di AS yang juga telah berbicara tentang jaminan perlindungan untuk hidup, kebebasan, dan kebahagiaan. Namun, rentetan naskah itu belum menjadi naskah yang diterima secara universal (Robertson and Merrills, 1992).

Deklarasi HAM Universal 1948 diadopsi lewat Resolusi PBB No 217 (III) tahun 1948. Deklarasi HAM Universal 1948 dilahirkan di tengah reruntuhan peradaban manusia akibat Perang Dunia II dan kebrutalan monster-monster kemanusiaan, semisal Hitler, Mussolini, dan Jepang di Asia Pasifik. Selain itu, awal berlangsungnya perang dingin yang membuat polarisasi dunia yang kian menajam dan mengorbankan HAM, memicu semangat untuk membuat instrumen perlindungan HAM, yang kini kita kenal sebagai deklarasi HAM.

Sejalan dengan itu, PD II yang berahir tahun 1945, mengilhami dan memicu semangat dekolonisasi, khususnya di Asia dan Afrika. Seluruh kejadian ini membulatkan tekad warga dunia untuk membuat dataran yang bisa dipakai bersama guna menegakkan prinsip-prinsip HAM. Read the rest of this entry

Hukum Sewa Rahim

kdbcws

Yaitu kesepakatan suami isteri untuk menyewa rahim wanita lain dalam memproses air mani sang suami dengan sel telur isterinya. Diproseslah janin itu di dalam rahim wanita tersebut berikut pemberian makanan dari darahnya sendiri. Setelah melahirkan, bayi itu harus diserahkan kepada pemilik yang menyewanya. Ia selanjutnya hanya berhak mendapatkan upah dalam jumlah tertentu. Sewa rahim ini biasanya dilakukan jika sang isteri mandul atau kerentanan rahimnya saat harus mengandung, dan terjadi juga dengan sebab-sebab yang lainnya. Para ulama telah mengharamkan cara ini. Dr. Yusuf Qardlawi pun memfatwakan demikian dalam soal ini.[2]

Di antara yang dikatakan Syekh Qardlawi kurang lebih sebagai berikut:

Syari’at Islam telah menggariskan dua kaidah utuh yang saling menyempurnakan satu sama lain. Pertama, kemadaratan itu mesti dihilangkan sesuai kemampuan maksimal. Kedua, kemadaratan itu tidak bisa hilang dengan melahirkan kemadaran baru. Apabila dua kaidah itu menjadi landasan dasar pada persoalan yang tengah kita bicarakan ini, maka kita akan mendapatkan kesimpulan, kita dapat menghilangkan kemadaratan sang isteri –yang notabene paling berhak untuk mengandung—dengan menimpakan kemadaran pada wanita yang lain. Sebab, dialah yang kemudian harus mengandung dan melahirkan tanpa menikmati hasil dari apa yang dikandungnya, kelahirannya, maupun pengasuhannya. Kita sesungguhnya tengah memecahkan suatu masalah justru dengan menimbulkan masalah yang baru.Read the rest of this entry

Cara Lain Mencegah Kehamilan

kscjsac

Yaitu dengan cara sang suami menjauhi isterinya selang beberapa waktu atau sang isteri menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilannya pada waktu-waktu tertentu. Ini baru salah satu cara. Sementara itu, ada juga cara lain yang terpaksa melakukan pencegahan kehamilan ini karena kebijakan pemerintah yang tengah gencar menggalakan program Keluarga Berencana (KB; restriction of procreation) bagi semua warga negara. Barulah ini sebuah persoalan.

Program Keluarga Berencana (KB) hampir pada kebanyakan negara-negara Islam maupun negara-negara dunia ketiga (baca: negara berkembang, Penj.), pada umumnya disokong besar-besaran secara finansial oleh negara-negara asing. Mereka itulah orang-orang yang membantu musuh-musuh umat Islam yang hendak mencaplok tanah milik umat Islam di Palestina. Sesungguhnya dalam benak mereka sebenarnya masih menyembunyikan rasa permusuhan pada umat Islam. Jadi, apakah rasional jika negara-negara asing itu memang memiliki niat yang benar-benar tulus menyokong kemakmuran negeri-negeri umat Islam di balik program tersebut?Ì

 

Apakah Spiral Termasuk Alat Kontrasepsi ataukah Aborsi Dini?

kb

Salah satu alat yang banyak dipergunakan kaum wanita dalam mencegah kehamilan dalam sementara waktu itu diantaranya ialah spiral.

Telah terjadi polemik pendapat seputar penggunaan alat spiral ini. Apakah spiral ini termasuk alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan ataukah justru termasuk cara dalam menggugurkan kandungan atau janin sejak dini? Bentuk spiral yang kini banyak berkembang adalah mengandung zat besi tembaga yang terbungkus, di mana di dalamnya terkandung unsur hormon brogesteron yang memanjang sepanjang lubang leher rahim. Fungsinya adalah untuk mencegah air mani melewati dan masuk ke dalam rahim yang berikutnya akan mencari sel telur (ovum egg). Unsur yang melekat dalam tembaga itu akan membunuh sel-sel yang hidup dalam air mani. Inilah alat yang dirancang Organisasi Kesehatan Internasional (World Health Organization) sebagai salah satu alat pencegah kehamilan (baca: kontrasepsi) dan bukan alat aborsi.[1]

Sebelumnya orang-orang menggunakan spiral plastik yang cara kerjanya jelas berbeda dengan yang baru yang banyak beredar kini. Spiral yang dulu, menurut pendapat Dr. Hissan, bisa saja disebut sebagai alat aborsi dini. Oleh karena itu, sebelum memakaikan alat spiral ini sang isteri hendaknya mengetahui terlebih dahulu bentuk spiral yang hendak dipergunakan berikut cara kerja serta pengaruhnya sehingga menjadi jelas kegunaannya.Ì


[1]     Dalam buku “Risâlah ilâ ‘l-‘Aql-i ‘l-‘Arâb-î al-Muslim,” salah satu karya penting ilmuwan Sastra terkemuka, Dr. Hissan Hathut, Dâr-u ‘l-Ma’ârif.

Hukum ‘Azl dan Keluarga Berencana

index

 Para ulama berbeda pendapat dalam soal ‘azl ini. Adalah Hujjatul Islam, Imam Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111M./450-505 H.) dalam kitabnya, “Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn” telah meringkas dan merinci perbedaan pendapat para ulama dalam soal tersebut sebagai berikut:

Dalam soal ‘azl ini, para ulama ada yang membolehkan dan juga yang memakruhkannya dalam empat tempat: (1) ada yang membolehkan secara mutlak dalam keadaan apapun; (2) ada yang mengharamkan secara mutlak; (3) ada yang membolehkan dengan seizin isteri dan tidak boleh jika tanpa izinnya –pokok yang diharamkan dalam pendapat ini adalah haramnya menyakiti isteri, bukan ‘azl; (4) ada pula yang membolehkan jika dilakukan pada hamba sahaya yang dimiliki, dan bukan pada orang yang merdeka. Menurut hemat kami, yang benar hal itu hukumnya mubâh (boleh)…Menurut hemat kami, hal itu tidaklah terlarang dalam arti arti haram maupun keji. Sebab, memutuskan suatu perkara itu terlarang mesti berdasarkan pada keterangan dalil nash atau qiyâs atas suatu nash. Namun, tidak ada nash yang khusus menjelaskan hal ini, begitu pula asal nash untuk meng-qiyâs-kan persoalan tersebut. Bahkan kasus ini menjadi asal masalah dalam qiyâs, di antaranya yaitu untuk kasus seseorang yang tidak menikah, tidak menyetubuhi setelah nikah, atau tidak mengeluarkan air mani (baca: di dalam rahim, Penj.) setelah penetrasi. Jika semua itu dilakukan tiada lain demi salah satu alasan prioritas misalnya, maka hal itu bukan termasuk sebuah pelanggaran maupun penyimpangan. Ketahuilah, seorang anak itu terwujud dari air mani yang masuk ke dalam rahim melalui empat proses; pernikahan, bersetubuh, tidak buru-buru mengeluarkan air mani saat bersetubuh, dan berhenti sejenak untuk memasukkan air mani ke dalam rahim. Empat proses ini saling berkaitan satu sama lain. Maka, menahan diri dari proses keempat misalnya, hal tersebut tentu saja sama halnya dengan menahan diri dari proses yang ketiga, demikian seterusnya yang ketiga seperti yang kedua, dan yang kedua seperti proses yang pertama. Hukum ‘azl tidaklah sama dengan hukum aborsi maupun operasi pengguguran kandungan yang jelas-jelas termasuk perbuatan kriminal pada makhluk hidup yang telah bernyawa. Dalam proses kandungan ini terdapat beberapa tahapan. Tahap pertama ialah, masuknya air mani ke dalam rahim kemudian bercampur dengan sel telur perempuan (baca: ovarium) untuk selanjutnya siap hidup. Menggugurkan dalam tahap ini adalah dosa. Terlebih ketika sudah berujud segumpal darah dan daging, dosanya sangat keji. Adapun jika dilakukan sesudah mulai ditiupkan ruh (nyawa) dan sudah berbentuk makhluk, maka dosanya tentunya lebih keji lagi…[2]

Kesimpulan pendapat Imam Al-Ghazali di atas adalah sebagai berikut: Read the rest of this entry