Harapan Terhadap Hati Nurani

sakit.hati.putus.cintaKebetulan tanpa sengaja, saya ketemu dengan seseorang  yang sedang terkena kasus di pengadilan. Orang dimaksud sekalipun sudah menjadi tersangka, tetapi ia tidak merasa bersalah. Ia menjadi  tersangka oleh karena kesalahan  prosedur administrasi dan juga perbuatan orang lain yang tidak mungkin diketahui sejak awal. Atas kejadian yang menimpa dirinya itu, ia pasrah, dengan mengatakan,  semoga hati nurani masih bisa berbicara.

Dari mendengar keluhan itu, saya membayangkan bahwa ternyata  orang tatkala menghadapi problem yang terkait dengan keadilan, kebenaran, dan kejujuran, maka harapannya bukan pada bunyi aturan, undang-undang,  dan logika hukum, melainkan pada hati nurani. Suara hati nurani lebih dianggap sebagai sesuatu yang terbaik, bersih, benar, adil,  dan jujur. Pertanyaannya adalah, apakah setiap hati nurani seseorang selalu bersih sebagaimana yang diharapkan itu. Jawabnya, tentu  tidak.

Hal yang perlu direnungkan secara mendalam, bahwa dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, tidak semua orang menggunakan hati nurani. Sudah menjadi hal biasa, tatkala orang  menyelesaikan masalah dan apalagi berambisi untuk menang dan lebih beruntung, mereka menggunakan undang-undang, peraturan,  dan akal. Padahal siapapun tahu,  bahwa piranti itu begitu mudah dibolak balik hanya sebatas untuk memperoleh kemenangan dan keuntungan belaka itu.

Tatkala kebenaran hanya mendasarkan  pada peraturan, undang-undang,  dan kekuatan akal, maka belum tentu kebenaran dan keadilan yang  diperoleh bersifat obyektif dan apa adanya. Bisa saja keadilan yang dihasilkan itu hanya bersifat normatif. Bahwa bisa jadi, secara undang-undang, peraturan, dan akal sesuatu dianggap benar, tetapi  kebenarannya itu hanya bersifat formal saja.  Berbeda dengan ketika kebenaran itu juga  mendasarkan pada hati nurani.  Hasilnya akan lebih obyektif dan bersifat manusiawi. Sebaliknya, keadilan dan kebenaran yang didapatkan dari peraturan,  undang-undang,  dan atau kekutan akal belaka, maka hasilnya  tidak jarang  masih  jauh dari harapan  orang.

Atas dasar kenyataan itulah maka banyak orang berharap agar hati nurani para penguasa, pemimpin,  dan apalagi para penegak hukum senantiasa hidup dan sehat.  Siapapun yang hati nuraninya masih sehat, maka yang bersangkutan akan  mampu melihat sesuatu secara jernih, jujur, adil,  dan konprehesif. Itulah sebabnya, banyak orang lebih mempercayai suara hati nurani dibanding suara lainnya.

Sementara itu untuk menghidupkan hati nurani bukan perkara mudah. Banyak sekali orang yang hati nuraninya sakit dan bahkan mati. Seseorang yang hatinya sakit maka perilakunya akan selalu membuat orang lain terganggu, dan apalagi bagi orang yang hatinya telah mati. Bagi mereka itu, sesuatu yang baik malah dinilai jelek dan sebaliknya,  yang jelek dinilai baik. Agar hati seseorang  tetap hidup,  maka  yang bersangkutan harus bisa memeliharanya, misalnya harus selalu selektif dalam mengkunsumsi apa saja, yaitu memilih yang halal dan baik. Selain itu, harus selalu mendekatkan diri  pada Allah,  pada sesama manusia, dan selalu berpegang teguh pada ajaran-Nya. Wallahu a’lam.

write by : Prof. Dr. Imam Suprayogo

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on Januari 22, 2014, in edukasi, Motivasi, mutiara motivasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: