Budaya Akademik Ulul Albab

Budaya sebuah komunitas, tak terkecuali komunitas pendidikan, dapat Imagedilihat  dari dimensi lahir maupun batinnya. Budaya lahiriah meliputi hasil karya atau penampilan yang tampak atau yang dapat dilihat, misalnya penampilan fisik seperti gedung, penataan lingkungan sekolah, sarana pendidikan dan sejenisnya. Sedangkan yang bersifat batiniah adalah hasil karya yang tidak tampak, tetapi dapat dirasakan. Hal itu misalnya menyangkut  pola hubungan antarsesama, cara menghargai prestasi seseorang, sifat-sifat pribadi yang dimiliki baik kekurangan maupun kelebihannya, dan sebagainya. Budaya adalah sesuatu yang dianggap  bernilai tinggi, yang dihargai, dihormati dan didukung bersama. Budaya juga berstrata, oleh karena itu di tengah masyarakat terdapat anggapan budaya rendah, sedang  dan tinggi. Dilihat dari perspektif organisasi, budaya juga berfungsi sebagai instrumen penggerak dinamika masyarakat.

Tingkat perkembangan budaya sebuah komunitas masyarakat, dapat dilihat dari sisi yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lembaga pendidikan disebut berbudaya tinggi,   dari sisi lahiriahnya, ketika ia berhasil membangun penampilan  wajahnya sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya, lembaga pendidikan itu: memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, berhasil membangun gedung sebagai sarana pendidikan yang mencukupi –baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya, mampu menyediakan prasarana pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan bersih, rapi dan indah, memiliki jaringan atau network yang luas dan kuat, dan sebagainya. Sedangkan tingkat budaya batiniah dapat dilihat melalui cita-cita, pandangan tentang dunia kehidupan: menyangkut diri, keluarga dan orang lain atau sesama, apresiasi terhadap kehidupan spiritual dan seni, kemampuan mengembangkan ilmu dan hikmah.  Masih dalam lingkup budaya batin dapat dilihat pula dari bagaimana mereka membangun interaksi dan interrelasi di antara komunitasnya, mendudukkan dan menghargai orang lain dalam berbagai aktivitasnya, dan bagaimana mensyukuri nikmat serta karunia yang diperoleh.

Suasana yang dinamis, penuh kekeluargaan, kerjasama serta saling menghargai senantiasa  menjadi sumber inspirasi dan kekuatan penggerak menuju ke arah kemajuan, baik dari sisi spiritual, intelektual dan profesional. Sebaliknya, komunitas yang diwarnai oleh suasana kehidupan yang saling tidak percaya, sû’ al-zhann, tidak saling menghargai di antara sesama, kufur,  akan memperlemah semangat kerja dan melahirkan suasana stagnan. Pola hubungan sebagaimana disebutkan terakhir itu akan melahirkan atmosfir konflik yang tak produktif serta jiwa materialistik dan hubungan-hubungan transaksional  yang akan berakibat memperlemah kehidupan organisasi kampus itu sendiri. Sarjana Ulul Albab harus dijauhkan dari budaya seperti itu. Sebab, sebaik-baik fasilitas yang disediakan berupa kemegahan gedung  serta setinggi apapun kualitas tenaga pengajar, jika  lembaga pendidikan tersebut tak mampu mengembangkan budaya tinggi, maka pendidikan tak akan menghasilkan produk yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan. Bahkan sebaliknya, sekalipun  budaya lahiriah tak  berkategori tinggi, tetapi  jika budaya batiniah dapat dikembangkan setinggi mungkin, produk pendidikan masih dapat diharapkan lebih baik hasilnya. Sarjana Ulul Albab dalam menggapai tujuan pendidikan secara maksimal, mengembangan budaya lahiriah dan batiniah secara padu,  simultan dan maksimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang ada.

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
AR-SA

Budaya sebuah komunitas, tak terkecuali komunitas pendidikan, dapat dilihat  dari dimensi lahir maupun batinnya. Budaya lahiriah meliputi hasil karya atau penampilan yang tampak atau yang dapat dilihat, misalnya penampilan fisik seperti gedung, penataan lingkungan sekolah, sarana pendidikan dan sejenisnya. Sedangkan yang bersifat batiniah adalah hasil karya yang tidak tampak, tetapi dapat dirasakan. Hal itu misalnya menyangkut  pola hubungan antarsesama, cara menghargai prestasi seseorang, sifat-sifat pribadi yang dimiliki baik kekurangan maupun kelebihannya, dan sebagainya. Budaya adalah sesuatu yang dianggap  bernilai tinggi, yang dihargai, dihormati dan didukung bersama. Budaya juga berstrata, oleh karena itu di tengah masyarakat terdapat anggapan budaya rendah, sedang  dan tinggi. Dilihat dari perspektif organisasi, budaya juga berfungsi sebagai instrumen penggerak dinamika masyarakat.

Tingkat perkembangan budaya sebuah komunitas masyarakat, dapat dilihat dari sisi yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lembaga pendidikan disebut berbudaya tinggi,   dari sisi lahiriahnya, ketika ia berhasil membangun penampilan  wajahnya sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya, lembaga pendidikan itu: memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, berhasil membangun gedung sebagai sarana pendidikan yang mencukupi –baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya, mampu menyediakan prasarana pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan bersih, rapi dan indah, memiliki jaringan atau network yang luas dan kuat, dan sebagainya. Sedangkan tingkat budaya batiniah dapat dilihat melalui cita-cita, pandangan tentang dunia kehidupan: menyangkut diri, keluarga dan orang lain atau sesama, apresiasi terhadap kehidupan spiritual dan seni, kemampuan mengembangkan ilmu dan hikmah.  Masih dalam lingkup budaya batin dapat dilihat pula dari bagaimana mereka membangun interaksi dan interrelasi di antara komunitasnya, mendudukkan dan menghargai orang lain dalam berbagai aktivitasnya, dan bagaimana mensyukuri nikmat serta karunia yang diperoleh.

Suasana yang dinamis, penuh kekeluargaan, kerjasama serta saling menghargai senantiasa  menjadi sumber inspirasi dan kekuatan penggerak menuju ke arah kemajuan, baik dari sisi spiritual, intelektual dan profesional. Sebaliknya, komunitas yang diwarnai oleh suasana kehidupan yang saling tidak percaya, sû’ al-zhann, tidak saling menghargai di antara sesama, kufur,  akan memperlemah semangat kerja dan melahirkan suasana stagnan. Pola hubungan sebagaimana disebutkan terakhir itu akan melahirkan atmosfir konflik yang tak produktif serta jiwa materialistik dan hubungan-hubungan transaksional  yang akan berakibat memperlemah kehidupan organisasi kampus itu sendiri. Sarjana Ulul Albab harus dijauhkan dari budaya seperti itu. Sebab, sebaik-baik fasilitas yang disediakan berupa kemegahan gedung  serta setinggi apapun kualitas tenaga pengajar, jika  lembaga pendidikan tersebut tak mampu mengembangkan budaya tinggi, maka pendidikan tak akan menghasilkan produk yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan. Bahkan sebaliknya, sekalipun  budaya lahiriah tak  berkategori tinggi, tetapi  jika budaya batiniah dapat dikembangkan setinggi mungkin, produk pendidikan masih dapat diharapkan lebih baik hasilnya. Sarjana Ulul Albab dalam menggapai tujuan pendidikan secara maksimal, mengembangan budaya lahiriah dan batiniah secara padu,  simultan dan maksimal sesuai dengan potensi dan kekuatan yang ada.

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-ansi-language:IN;}

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on Januari 20, 2014, in edukasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: