IJMA’ SEBAGAI PRINSIP TEORI HUKUM ISLAM

A.    Dasar Pemikiran

Harus diketahui sejak awal bahwa berbeda dengan Al-Qur’an dan Sunnah, Ijma tidak secara langsung bersumber dari wahyu. Sebagai doktrin dan dalil syariah, Ijma’ pada dasarnya merupakan dalil yang mengikat. Tetapi tampaknya status yang tinggi diberikan kepada Ijma’ ini menuntut bahwa hanya consensus mutlak yang universal sajalah yang memenuhi syarat, sekalipun consensus mutlak mengenai Ijma’ yang bersifat rasional sering kali sulit terjadi. Wajar dan masuk akal untuk hanya menerima Ijma’ sebagai  realitas dan konsep yang valid dalam pengertian relatif, tetapi bukti factual tidak cukup menentukan universilitas Ijma’ devinisi klasik dan syarat esensial Ijma’ sebagaimana ditetapkan ulama-ulama dahulu (usul).

Kesengajaan antara teori dan prakek Ijma’ tergambar dalam kesulitan yang diakui oleh banyak fuqoha’ tentang penerapan syarat-syarat teoritisnya. Syarat-syarat mutlak devinisi Ijma’klasik sulit dipenuhi dengan bukti factual yang menyakinkan meninimalkan semua bentuk ikhtilaf. Satu-satunya bentuk Ijma’ yang umumnya diterima adalah Ijma’ para sahabat, yang sebagian dikarenakan status mereka. Dengan butir-butir pengantar ini maka, kami dapat memulai untuk menjelaskan makna dan devinisi Ijma’.

  1. B.     Devinisi Ijma

Ijma nenurut istilah para ahli Ushul Fiqh adalah: Kesepakatan seluruh para Mujtahid dui kalangan umat Islam pada suatu masa setelah Rasullullah SAW wafat atas mengenai hukum syara’ mengenai suatu kejadian.

Dalam devinisi itu hanyalah disebutkan sesudah wafat Rasullullah saw. karena pada masa hidup Rasulllullah, beliau merupakan rujukan pembentukan hukum Islam satu-satunya, sehingga tidak terbayangkan adanya perbedaan dalam hukum Syar’i. Dan tidak pula terbayangkan adanya kesepakatan, karena kesepakatan tidak akan terwujud kecuali dari beberapa orang.[1]

Sedangkan menurut Abdul Karim Zaidah: Ijma’ adalah kesepakatan dari para mujtahid umat Islam pada suatu masa tentang hukum syara’ setelah wafatnya Nabi SAW. Setelah mencermati devinisi di atas Ijma’ dalah menyangkut masalah ijtihadiyah dan hal ini berkatn dengan aktifitas para mujtahid dalam urusan hukum. Kegiatan ijtihad tidak dapat dilakukan oleh semua umat atau orang-orang awwam kecuali para mujtahid yang mempunyai otoritas berdasarkan devinisi yang telah dikemukakan diatas maka Ijma’ tersebut harus berpijak kepada sejumlah unsur yang menjadi dasar pijakan Ijma’.

  1. C.    Unsur-unsur/Rukun Ijma’

Tentang rukun Ijma’ ini, dikalangan ulama’ ushul ada yang mengatakan empat dan ada yang menyebutkan lima unsur.

Menurut Prof. Abdul Wahhab Khallaf dan Safi Hasan Talib Unsur Ijma’ ada empat:

  1. Adanya kesepakatan sejumlah mujtahid pada suatu masa tentang suatu peristiwa yang terjadi. Kesepakatan ini harus dari sejumlah mujtahid.
  2. Kesepakatan para mujtahid itu harus berasal dari semua tempat dan golongan. Tidak dipandang Ijma’ jika kesepakatan tersebut hanya berasal dari satu tempat saja.
  3. Kesepakatan para mujtaid harus nyata.
  4. Kesepakatan itu adalah kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. Tidak dipandang Ijma’ jika kesepakatan itu hanya berasal dari sebagian besar mujtahid.

Memperhatikan rukun-rukun Ijma’ diatas, sebetulnya mencakup juga ketentuan-ketentuan yang menjadi persyaratan di terimanya kesepakatan mujjtahid sebagai Ijma’

Apabila Ijma’ memenuhi syarat di atas, maka ia menjadi mengikat (wajib) bagi setiap orang. Sebagai akibatnya mujtahid masa sesudahnya tidak bebas lagi melakukan ijtihad baru terhadap masalah yang sama. Ijma’ tidak dapat menghapus dan tidak dapat dihapus.[2]

Bila kita perhatikan kitab-kitab ushul-fiqh baik yang klasik maupun yang kontemporer, maka ulama ushul ,membagi Ijma’ menjadi dua macam:

  1. Ijma’ ekplisit (Ijma’ Sarih), dimana setiap mujtahid mengemukakan pendapatnya baik secara lisan maupun tulisan yang menerangkan persetujuannya atas pendapatnya.
  2. Ijma’diam-diam (Ijma Sukuti), dimana beberapa mujtahid suatu masa mengemukakan pendapat suatu peristiwasementara yang lain tetap diam.

Dengan dasar Al-Quran (An-Nisa’ 59) jumhur telah sepakat bahwa Ijma’ Sarih itu merupakan hujjah secara Qoth’i wajib mengamalkannya dan haram menentangnya. Bila sudah terjadi Ijma’ pada suatu permasalahan maka ia menjadi hukum Qoth’i yang tidak boleh ditentang. Dan menjadi masalah yang tidak boleh di ijtihadi lagi[3].

Sementara Ijma’ Sukuti bersifat dugaan yang hanya menciptakan kemungkinan (dhanni) tetapi tidak menutup kemungkinan dilakukannya ijtihad baru tentang masalah yang sama. Oleh karna itu Ijma’ Sukuti tidak menunjukan adanya kesepakatan dari seluruh mujtahid (pendukungnya), maka jumhur ulama’, termasuk Syafi’i, berpendapat bahwa Ijma Sukuti bukan merupakan dalil[4].

Para ulama’ berbeda pendapat tentang kemungkinan adanya Ijma’ dan kewajiban melaksanakannya jumhur berkata ” Ijma itu bisa terjadi bahkan telah terlaksana. Abdul Karim Zaidan menjelaskan bahwa kalangan jumhur ulama menolak pendapat yang mengatakan Ijma’ tidak mungkin terjadi. Kalangan jumhur beralasan bahwa kemungkinan terjadinya Ijma’ itu memang telah terjadi atau terbukti dalam perbuatan nyata. Menurut kalangan jumhur ini , tidak sulit membuktikan bahwa Ijma’ itu memang telah ada. Misalnya kesepakatan mujtahid tentang bagian waris nenek sebesar 1/6 bagian dari harta.

Menurut An-nazm, bahwa Ijma’ itu tidak mungkin terjadi dalam kenyataan. Abu Zahra menjelaskan bahwa kesepakatan yang menghendaki seluruh mujtahid itu tidak pernah ada, lebih-lebih pada masa tabi’in umumnya para mujtahid telah terpencar diberbagai daerah dan kesepakatan ketika ini sulit untuk didapatkan, berbeda pada masa sahabat para mujtahid belum banyak dan jarak mereka tidak jauh atau mereka berbeda pada satu tempat yang mudah untuk di capai dan dapat mengetahui pendapat mereka serta tidak sulit untuk terjadi Ijma’.

  1. D.    Kesimpulan:

Jika kita cermati secara jelas, akar perbedaan kedua golongan diatas terletak pada rumusan Ijma’ dan kenyataan praktis yang di hadapi. Lebih-lebih umat Islam dan ulama telah menyebar keseluruh penjuru dunia. Secara otomatis, Ijma’ dengan kebulatan pendapat dari seluruh mujtahid dapat saja terjadi. Akan tetapi bagi ulama yang menolak tidak mungkin terjadi Ijma’ karena secara praktis memang sulit mencapai kata sepakat karena banyaknya mujtahid.

Dalam keadaan seperti ini, Prof.Dr. Amir Syarifuddin menjelaskan bahwa satu hal yang dapat diterima oleh semua belah pihak tentang Ijma’ itu ialah bila ia diartikan dengan tidak adanya pendapat lain yang menyalahinya, dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa Ijma’ dapat terjadi sepanjang tidak di tolak oleh ulama’ lainnya.

  1. E.     Referensi
    1. Prof. Abdul Wahhab Khallaf. Ilmu Ushul Fiqh. Semarang; Dina Utama. 1994.
    2. 2.      Dr. Muhammad Hashim Kamali, Prinsip dan Teori Hukum Islam. Yogyakarta ; Pustaka Pelajar. 1996.
    3. 3.      Dr. H.Rahmad Syafi’I, M.A. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung ;CV.Pustaka Setia. 1999.                                  

[1]Prof. Abdul Wahhab Khallaf. Ilmu Ushul Fiqh.Semarang; Dina Utama, Cet 1. 1994, Hal 56

[2] Dr. Muhammad Hashim Kamali. Prinsip dan teori-teori hukum islam. Yogyakarta: Pustaka pelajar, cet.1, 1996, hal 225

[3] Dr. H. Syafi’i, M.A. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung ;CV. Pustaka Setia, Cet.1, 1999, hal 73-74.

[4] Dr.Muhammad Hashim Kamali. Prinsip dan Teori-teori hukum. Yogyakarta; Pustaka Pelajar, cet.1. 1996, hal 239.

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on November 10, 2013, in edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: