Pengertian Filsafat

  Kata filsafat atau falsafah berasal dari perkataan Yunani Philosophia yang berarti cinta kebijaksanaan (philein = cinta, dan Sophia = hikmah, kebijaksanaan).  Ada yang mengatakan bahwa filsafat itu berasal dari kata philos (keinginan) dan Sophia (hikmah, kebijaksanaan), dan ada juga yang mengatakan berasal dari kata phila (mengutamakan, lebih suka) dan Sophia (hikmah, kebijaksanaan).[1]  Jadi kata filsafat berarti mencintai atau lebih suka atau keinginan kepada kebijaksanaan.  Dan orangnya disebut philosophos yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.

Sutan takdir Alisyahbana mengatakan bahwa filsafat berarti alam pikiran, dan berfiksafah adalah berpikir.  Tetapi tidak semua kegiatan berfikir disebut berfilsafat.  Berfikir yang disebut berfilsafat adalah berpikir dengan insaf, yaitu berpikir dengan teliti dan menurut suatu aturan tertentu yang pasti.[2]  harun Nasution mengatakan bahwa intisari filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai kepada dasar-dasar persoalan.[3] dan sesuai dengan tugas filsafat yaitu mengetahui sebab-sebab sesuatu, menjawab pertanyaan foundamental, dan pokok serta bertanggung jawab, sehingga dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.

Kata hikmah yang terdapat dalam artian etimologis dari filsafat cukup populer di kalangan Arab.  Kata hikmah itu terdapat dalam 20 ayat Al Quran.  10 ayat menempatkan kata hikmah beriringan langsung sesudah kata al-Kitab (Al Quran) yang berarti Al Quran memberikan kedudukan yang tinggi kepada hikmah.

Para ahli memahami hikmah itu sebagai “paham yang mendalam tentang agama”.  Hikmah ini pulalah yang diberikan Allah kepada filosof yang bernama Luqman.  (Luqman: 12).  Penggunaan kata hikmah dalam berdakwah sebagaimana dikehendaki Allah dalam surat An Nahl: 125 berarti keterangan (burhan) yang kuat yang dapat menimbulkan keyakinan  (Ali Sayis III : 56).  Pengarang Al Manar mencoba memberikan suatu definisi yang sederhana yaitu: “Ilmu yang sahih yang akan menimbulkan kehendak untuk berbuat yang bermanfaat, karena padanya terdapat pandangan dan paham yang dalam tentang hukum-hukum dan rahasia persoalan” (Al Manar III : 310).

Ta’rif yang disebutkan di atas ada kesejajarannya dengan ta’rif filsafat yaitu “cara berfikir menurut logika dengan bebas sedalamnya sampai ke dasar persoalan”.  Dari penjelasan tersebut dapat diambil intisarinya bahwa falsafah tentang sesuatu berarti pengetahuan yang mendalam tentang rahasia dan tujuan dari sesuatu itu.

Arti hikmah menurut Ibnu Sina dalam risalah Ath thabi’iyyat_nya adalah :

الحكمة: استكمال النفس النسانية بتصور الآمور والتصديق بالحقائق والعملية على قدر الطاقة الانسانية

“Hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik menurut kadar kemampuan manusia.”[4]

Kemudian Ibnu Sina menerangkan, bahwa hikmah yang berpautan dengan hal-hal yang harus diketahui tanpa kita amalkan dinamakan hikmah nadhariyah.  Sedangkan hikmah yang berpautan dengan hal yang harus diketahui dan kita amalkan disebut hikmah Amaliyah.

Hikmah Nadhariyah dibagi tiga:

a)      Hikmah yang berpautan dengan alam kebendaan yang bergerak dan berubah-ubah dinamakan hikmah Tabi’iyah.

b)      Hikmah yang tidak berubah-ubah yang merupakan ketetapan yang tidak berganti-ganti dinamakan hikmah Riyadhiyah.

c)      Hikmah yang berpautan dengan sesuatu yang sama sekali tidak bisa berubah-ubah karena dzatnya dikehendaki kepada adanya oleh wujud ini, yaitu mengetahui tentang hal ketuhanan dinamakan pokok falsafah atau falsafah Ilahiyah.

 

Hikmah amaliyah dibagi tiga juga:

a)      Hikmah Madaniyah,

b)      Hikmah Manziliyah, dan

c)      Hikmah khulqiyah.[5]

Rumusan di atas mengisyaratkan bahwa hikmah sebagai paradigma keilmuan yang mempunyai tiga unsur utama yaitu ;

  1. Masalah
  2. Fakta dan data
  3. Analisis ilmuwan sesuai dengan teori.

Hikmah dipahami pula sebagai “paham yang mendalam tentang agama”.  Hikmah dapat berdakwah sebagaiman dikehendaki Allah dalam surat an-Nahl : 125 berarti keterangan (burhan) yang kuat yang dapat menimbulkan keyakinan.[6]

Sedangkan definisi yang diberikan al-Manar yaitu ilmu yang shahih yang akan menimbulkan kehendak untuk berbuat yang bermanfaat, karena terdapat pandangan dan paham yang dalam tentang hukum-hukum dan rahasia-rahasia persoalan.[7]

Pemakaian oleh Fuqoha’ :  Apabila para Filosof islam memakai kata hikmah sebagai Murodhif bagi kata falsafah, maka para Fuqoha’ , demikian pula penyusun kitab asrarus syari’ah kata hikmah sebagai julukan sebagai asrarul ahkam atau rahasia hokum.  Karenanya kebanyakan kita sekarang disebutkan falsafah hokum islam langsung terbayang diruang mata kita hikmah shalat,puasa dan sebagainya.  Para fuqoha’ menta’rifkan hikmah dengan :

Illat-Illat(hikmah-hikmah) yang ditetapkan oleh akal( atau yang berpadanan dengan hukum)

Menurut Ahli Tafsir: hikmah atau falsafah adalah memperoleh kebenaran dengan perantara ilmu dan akal.  Maka hikmah dari Allah ialah mengetahui segala benda dan mewujudkan segala benda dengan benda-benda dengan seteguh-teguhnya.


[1] Lihat K.Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, cet. XI, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), h.13. Lihat pula Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, cet III, (Jakarta: UI Press dan Tintamas, 1986), h.3. Kemudian lihat Dr. Muslehuddin, Philosophy of Islamic Law and the Orientalists, cet. II, (Lahore: Islamic Publications Ltd., 1980), h.3

[2] Ahmad chotib, filsafat hukum islam, fakultas syariah IAIN Jakarta – Surabaya, 1989, h. 4.

[3] Harun Nasution, Filsafat Agama, cet. VI, (jakarta :bulan bintang, 1987), h.3.

[4] Muhammad hasbi ash shiddiqiy, falsafah hukum islam, cet. V, (jakarta: bulan bintang, 1993), h. 21.

[5] Fuad Hasbi ash Shidiqi, falsafah hokum islam, cet. 1(Pustaka risky Putra:Semarang, 2001) hal. 6-7.

[6] Amir syarifudin, pengertian dan sumber hukum islam (dalam falsafah hukum islam), departemen agama, bumi aksara dan DEPAG, ed. 1, cet. II, jakarta 1992, h. 15.

[7] Muhammad rasyid ridha, tafsir al-qur’an al-hakim al masyhur bi ‘’tafsur al manar’’. Cet. II,Jilid III, (Beirut: dar al’rif, t.th.), h. 310.

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on Oktober 26, 2013, in edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: