HUKUM PERJANJIAN

  1. 1.      Perihal Perikatan Dan Sumber-SumbernyA

Perkataan  “perikatan” (verbintenis) mempunyai arti yang lebih luas dari perkataan “ perjanjian “ sebab dalam buku III BW itu. Alatur juga perihal hubuangan hukum yang  sama sekali tidak bersumber pada suatu persetujuan atan perjanjian. Yaitu perihal perikatan yang timbul dari pebuatan yang melanggar hukum (onrechtmatigedaaa) dan perihal perikatan yang timbul dari penelurusan kepentingan orang lain. Yang tidak berdasarkan persetujuan (zaak waar nemung).

Adapun yang dimaksud dengan ”perikatan” itu ialah: suatu hubungan hukum (mengenai  kekayaan harta benda) antara dua orang yang memberi hak pada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya, sedangkan orang-orang yang lainnya ini diwalikan memenuhi tuntutan itu.

Dan buku III BW juga dinamakan “hukum perhutangan“, pihak yang berhak menuntut dinamakan pihak berpiutang atau “kreditur” sedangkan pihak yang wajib memenuhi tuntutan dinamakan “prestasi” yang menurut undang-undang dapat berubah:

  1. Meyerahkan suatu barang
  2. Melakukan suatu perbuatan
  3. Tidak melakukan suatu perbuatan

Mengenai sumber-sumber perikatan oleh undang-undang diterangkan, bahwa suatu perikatan dapat lahir dari suatu persetujuan (perjanjian) atau dari undang-undang dapatdibagi lagi atas perikatan-perikatan yang lahir dari saja dan  yang lahir dari undang-undang karena suatu perbuatan orang yaitu yang lahir dari perbuatan yang diperbolehkan dan perbuatan yang berlawanan dengan hukum.

 

 

 

  1. 2.      Sistem Buku III BW

Buku III BW terdiri atas suatu bagian dan suatu bagian khusus. Bagian umum memuat peraturan-peraturan yang berlaku bagi perikatan umumnya. Bagian khusus memuat peratuan-peraturan mengenai perjanjian-perjanjian yang banyak dipakai dalam masyarakat dan yang sudah mempuyai nama-nama terentu.

Buku III itu menganut asas “kebebasan” dalam hal membuat perjanjian (beginsel der contractsvri). Asas ini dapat disimpulkan dari pasal 1338, yang menerangkan bahwa segala perjanjian yang dibuat secara sah, berlaku sebagai undang-undang  bagi mereka yang membuatnya.

Dan sistem yang dianut oleh buku III BW, itu juga lazimnya dinamakan sistem “terbuka” yang merupakan sebaliknya dari yang dianut oleh buku II prihal hukum perbendaan.

 

  1. 3.      Macam-Macam Perikatan
  1. Perikatan bersyarat (voorwaardelijk)

Perihal bersyarat adalah suatu perikatan yang digantungkan pada suatu kejadian dikemudian hari, yang masih belum tentu akan atau tidak terjadi.

  1. Perikatan yang digantungkan pada suatu ketetapan waktu (tijds pepaling).

Perbedaan antara suatu syarat dengan suatu ketetapan waktu ialah yang pertama berupa suatu kejadian atau peristiwa yang belum tentu atau tidak akan terlaksana, sedangkan yang kedua adalah suatu hal yang akan pasti akan datang, meskipun mungkin belum dapat ditentukan kapan datangnya, misalnya meninggalkan seseorang.

  1. Perikatan yang membolehkan memilih (alternatif)

Ini adalah suatu perikatan, dimana terdapat dua macam atau lebih prestasi, sedangkan kepada si berhutang diserahkan yang mana akan dia lakukan misalnya, menyerahkan kuda atau mobil atau uang satu juta rupiah.

 

  1. Perikatan tanggung-menanggung (hoofdelijk atau solidair).

Ini adalah suatu perikatan dimana beberapa orang bersama-sama sebagai pihak yang berhutang berhadapan dengan satu orang yang menghutangkan atau sebaliknya.

  1. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tidak dapat dibagi.

Apakah suatu perikatan dapat dibagi atau tidak tergantung pada kemungkinan tidaknya membagi prestasi. Pada hakikatnya tergantung pula dari kehendak atau maksud kedua belah pihak yang membuat suatu perjanjian.

  1. Perikatan dengan penetapan hukuman (straf  beding)

Untuk mencegah jangan sampai si berhutang dengan mudah melalaikan kewajibannya, dalam praktek banyak dipakai perjanjian dimana si berhutang dikenakan suatu hukuman apabila ia tidak menepati kewajibannya

About Luxman Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fakultas hukum yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah kalian dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar &a punya konsep masa depan. okee :) salam dialektika

Posted on September 19, 2013, in edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: