mengenalii Inteligensia dan Intelektual (Muslim) Indonesia

sangat disayangkan danYang mengejutkan, belum ada satu pun studi sistematis di bawah rubrik ‘inteligensia (Muslim) Indonesia dalam dunia akademik, Tulisan-tulisan mengenai hal ini hanya muncul dalam teks pidato, antologi, bagian-bagian dari buku, dan artikel-artikel di media massa dan jurnal.

Dalam semua kasus itu, istilah ‘inteligensia’ dipergunakan secara saling dipertukarkan dengan istilah ‘intelektual’. Ketiadaan sebuah studi sistematis mengenai inteligensia (muslim) Indonesia mencerminkan bias Weberian dalam memahami masyarakat pemikir Indonesia. Pendekatan ini tak peka terhadap konteks sosio-historis dan formasi sosial dari masyarakat pemikir.

Sebagai akibatnya, perhatian diberikan kepada ide-ide dari individu-individu intelektual ketimbang kepada posisi struktural dan representasi kolektif dari beragam kelompok inteligensia Indonesia. Konsepsi intelektual dari Julien Benda seringkali dipakai dalam wacana intelektual Indonesia dan dalam analisis terhadap para intelektual Indonesia, sementara dalam ke- nyataannya, masyarakat pemikir dalam sebagian besar kasus dan dalam sebagian besar sejarah Indonesia telah menjadi bagian integral dari komunitas sosial dan kolektivitas-kolektivitas politik

mereka sendiri. Sementara itu, hanya ada sedikit sekali studi sistematis mengenai ‘intelektual/cendekiawan (Muslim) Indonesia’. Di antaranya ialah karya J.D. Legge (1988), Daniel T. Sparingga (1997), dan Daniel Dhakidae (2003) mengenai intelektual Indonesia secaras umum;28 dan karya-karya Mohammed Kamal Hassan (1980), Howard M. Federspiel (1992), dan M. Syafi’i Anwar (1995) mengenai intelektual Muslim Indonesia.29 Karya- karya yang lain mengenai intelektual (Muslim) Indonesia hanya berupa karya-karya minor, antologi-antologi, dan ribuan artikel yang dimuat dalam majalah-majalah dan koran-koran.

dengan kata lain aksi lebih penting dari pada sebuah teori, dan kebanyakan manusia penghuni negri indonesia lebih suaka berteori dari pada langsung praktik. pelajaran bagi kita untuk terus berkarya, jangn hiraukan orang yang banyak bicara tapi tidak ada aksi.

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Juli 20, 2013, in edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: