PERBEDAAN POKOK ANTARA ISLAM DAN TASAWWUF

dialektika loverz.. mungkin kita tau dan sering mendengar kata tasawuf, tapi belum semua oarang tau mengenai tasawuf itu apa, dan apa saja aliran tasawuf.  kali ini gua pengen melihat sekilas tentang tasawuf dari segi perbedaannya menurut H.hartono ahmad Jaiz.

Manhaj dan jalan Islam berbeda sama sekali dengan manhaj Tasawwuf, dan perbedaan itu mengenai hal yang sangat mendasar. Yaitu perbedaan dalam hal sumber-sumber pengambilan agama  dalam aqidah dan syari’ah. Demikian penegasan Abdur Rahman Abdul Khaliq dalam buknya Fadhoihus Shufiyyah (Cemar-cemarnya Sufisme), Maktabah Ibnu Taymiyyah, Kuwait, 1404H/ 1984M, halaman 43.

Dijelaskan, Islam menjadikan sumber pengambilan aqidah terbatas pada wahyu yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul saja, yang  hal  itu yang kita miliki adalah Al-Quran dan As-Sunnah (Hadits Nabi SAW) saja. Adapun agama sufisme (Ad-Dienus Shuufii) –istilah Abdur Rahman Abdul Khaliq– yang mereka jadikan sumbernya  adalah bisikan yang didakwakan datang kepada para wali, dan kasyf (terbukanya tabir hingga mereka tahu  yang  ghaib) yang mereka  dakwakan, dan tempat-tempat tidur (mimpi-mimpi),  perjum­paan dengan orang-orang mati yang dulu-dulu, dan (mengaku berjumpa) dengan Nabi Khidhir ‘alaihis salaam, bahkan dengan melihat Lauh Mahfudh, dan mengambil (berita) dari jin yang mereka namakan para badan halus (ruhaniyyin).

Adapun sumber pengambilan syari’at bagi ahli Islam adalah Al-Kitab (Al-Quran), As-Sunnah (Al-Hadits), Ijam’ (kesepakatan  para ulama  terdahulu generasi awal Islam), dan  qiyas  (perbandingan, yaitu  pengambilan hukum dengan membandingkan kepada  hukum  yang sudah  ada ketegasannya dari nash/ teks Al-Quran atau  Al-Hadits, dengan  syarat  kasusnya sama, misalnya beras bisa  untuk  zakat fitrah karena diqiaskan dengan gandum yang sudah ada nash  hadit­snya).

Sedangkan bagi orang-orang tasawwuf,  pembuatan  syari’at mereka  didirikan  di atas mimpi-mimpi  (tidur),  Khidhir,  jin, orang-orang  mati,  syeikh-syeikh,  semua mereka  itu  dijadikan pembuat  syari’at.  Oleh  karena itu  jalan-jalan  dan  cara-cara pembuatan  syari’at  tasawwuf itu  bermacam-macam.  Sampai-sampai mereka mengatakan: Jalan-jalan menuju Allah itu sebanyak bilangan nafas makhluk-makhluk. Maka tiap-tiap syeikh memiliki tarekat dan manhaj/ jalan untuk pendidikan dan dzikir khusus, lambang-lambang khusus,  dan ungkapan-ungkapan khusus. Maka tasawwuf  itu  adalah ribuan  agama,  aqidah, dan syari’at; bahkan ratusan  ribu  tidak terhitung  banyaknya,  semuanya itu di bawah apa  yang dinamakan tasawwuf.

Dan  inilah perbedaan asasi (pokok/ dasar) antara Al-Islam  dan tasawwuf.  Islam itu  agama yang  muhaddad (ditegaskan batasan ketentuan)  aqidahnya,  ibadahnya, dan  syari’atnya. Sedangkan tasawwuf  itu agama yang tidak ada batasannya, tidak ada  pengertian  (yang ditentukan secara pasti) dalam aqidah ataupun  syari­’at-syari’atnya.  Inilah perbedaan yang paling besar  antara  Al-Islam dan tasawwuf. (Fadhoihus Shufiyyah, hal 43-44).

Aqidah sufisme mengenai Allah:

Orang-orang  tasawwuf percaya kepada Allah dengan  aqidah-aqidah yang  macam-macam  di antaranya al-hulul  (inkarnasi,  penitisan/ penjelmaan  Tuhan dalam diri manusia) seperti pendapat  Al-Hallaj (menyebabkan  ia memaklumkan dirinya sebagai  “kebenaran”  dengan ucapan  “anal Haq” = Akulah Kebenaran. Al-Haq adalah  salah  satu nama  Tuhan. Dengan perkataannya itu berarti ia mengaku: “Akulah Tuhan.” )

Faham Hulul, faham yang menyatakan, bahwa Tuhan telah  memilih tubuh-tubuh manusia tertentu sebagai tempat-Nya, setelah  sifat-sifat kemanusiaan dalam tubuh tersebut dihilangkan. Faham Hulul dalam  tasawwuf ditimbulkan oleh Husein Ibnu Manshur  al-Hallaj (lahir di Persia tahun 858M) yang mengajarkan bahwa: Allah memiliki  dua (2) sifat dasar (natur), yaitu sifat ke-Tuhan-an  (lahuut) dan sifat kemanusiaan (Nasuut). Hal tersebut dilihat dari teori  kejadian makhluk-Nya, sebagai berikut: Sebelum Tuhan  menciptakan makhluk, Ia hanya melihat diriNya sendiri. Dalam  kesendirian-Nya  itu, terjadilah dialog antara Tuhan  dengan diriNya.

 

Aqidah Shufi Mengenai Wali-wali.

 

Sufisme  dalam  hal wali-wali juga mempercayai  dengan  keper­cayaan yang bermacam-macam. Di antara mereka ada yang  melebihkan wali  di atas nabi. Pada umumnya orang shufi menjadikan wali  itu menyamai/sejajar  dengan Allah dalam segala sifatnya, maka ia (wali) itu mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam

Aqidah Shufi Mengenai Rasulullah SAW

Sufisme dalam hal mempercayai Rasulullah juga ada bermacam-macam  aqidah. Di antaranya ada yang menganggap bahwa  Rasul  SAW tidak sampai pada derajat dan keadaan mereka (orang-orang shufi). Dan  Nabi SAW (dianggap) jahil (bodoh) terhadap ilmu  tokoh-tokoh tasawwuf  seperti perkataan Busthami: “Kami telah masuk  lautan, sedang para nabi berdiri di tepinya.”

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Juni 27, 2013, in edukasi and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: