TEOLOGI FEMINISME

TEOLOGI FEMINISME

  1. A.   Pengertian Feminisme

Istilah “Feminisme” berasal dari kata Latin : Femina yang artinya wanita. Gerakan feminisme bermaksud mengkritik struktur patriarkhat yang berada dalam masyarakat dan berusaha untuk mengadakan suatu struktur masyarakat yang lebih adil.  Dalam patriarki (pater: bapak, arkhe : asal mula yang menentukan) laki-laki berkuasa atas semua anggota masyarakat yang lain dan mempertahankan kuasa itu sebagai milik yang sah. Dalam masyarakat semacam ini, pandangan androsentris (andros : laki-laki,sentris :berhubung dengan inti ) menentukan budaya, yakni segala peristiwa dilihat dari sudut laki-laki.

Sebagaimana dikemukakan (Fitalay:1997:19) bahwa feminisme yang berasal dari kata latin femina yang berarti memiliki sifat keperempuanan diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan laki-laki di masyarakat. Akibat persepsi ini, timbul berbagai upaya untuk mengkaji penyebab ketimpangan tersebut untuk mengeliminasi dan menemukan formula penyetaraan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang, sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia

.

Menurut Kamla Bhasin dan Nighat Said Khan, feminisme adalah suatu kesadaranakan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di tempat kerja dandalam keluarga, serta tindakan sadar perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaantersebut.

Sedangkan menurut Yubahar Ilyas, feminisme adalah kesadaran akan ketidakadilan jender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupun masyarakat, sertatindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki untuk mengubah keadaan tersebut.

Secara historis, diskriminasi terhadap perempuan  muncul sebagai akibat adanya doktrin ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan yang telah menghiasi kehidupan manusia  dalam semua masyarakat di sepanjang zaman, kecuali dalam masyarakat matriarkal yang jumlahnya tidak seberapa. Adanya anggapan- anggapan bahwa perempuan tidak cocok memegang kekuasaan karena perempuan diklaim tidak memiliki kemampuan seperti yang dimiliki laki-laki, laki-laki harus memiliki  dan mendominasi perempuan, menjadi pemimpinnya dan menentukan masa depannya, aktifitas perempuan dibatasi di rumah dan di dapur karena dianggap tidak mampu mengambil keputusan di luar wilayahnya, adalah performa subjugasi atau penundukan perempuan di bawah struktur kekuasaan  laki-laki.5 Hal inilah yang kemudian memunculkan apa yang dikenal sebagai gerakan feminisme dalam Islam.

 

 

  1. B.   Sejarah Munculnya Feminisme

          Diskursus feminisme pada awalnya mulai mencuat di Amerika Serikat pada tahun 1963 yang ditandai dengan terbitnya buku Betty Frieddan, The Feminine Mystique, yang isinya mempersoalkan praktik-praktik ketidakadilan yang menjadikan perempuan sebagai korban. Hal inilah yang kemudian beresonansi dalam ranah pemikiran Islam.6 Sebut saja beberapa nama-nama seperti Aminah Wadud-Muhsin, Laila Ahmed, Riffat Hassan, Fatimah Mernisi, Asghar Ali Engineer, Nasaruddin Umar, adalah sosok-sosok pemikir yang konsen dalam permasalahan ini. Mencermati diskursus feminisme dalam Islam, setidaknya akan menyiratkan bahwa akar masalahnya berasal dari adanya kenyataan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Secara sederhana hal ini dapat kita cermati sejarah panjang tidak diperkenankannya perempuan menjadi pemimpin negeri ini.Terlepas dari aspek politik yang ada pada saat itu, tampilnya Megawati sebagai Presiden tidaklah berjalan mulus.Banyak hambatan-hambatan teologis yang muncul pada saat itu.Megawati pada saat itu dihadapkan pada kenyataan tentang ketidakbolehan perempuan menjadi pemimpin negara.Belum lagi kalau kita dicermati slogan-slogan masyarakat Jawa. Kalau kita sependapat dengan anggapan bahwa “bahasa menunjukkan bangsa” atau dalam bahasa ilmiahnya bahasa adalah cerminan dari realitas sosial yang sesungguhnya, maka kita akan dengan sangat sadar memahami betapa diskriminasi itu terjadi. Slogan-slogan seperti perempuan adalah konco wingking, suwargo nunut, neroko katut dan sebagainya  telah menjadi cerminan realitas diskriminasi dalam tradisi kebudayaan Jawa.

Diskriminasi gender selain mendapatkan legitimasi dari tradisi sosial, seringkali diperkuat oleh “ajaran-ajaran” agama yang. Setidaknya terdapat beberapa hal yang menjadi akar terjadinya diskriminasidalam konteks agama.Pertama, bahwa ciptaan Tuhan yang utama adalah laki-laki bukan perempuan, karena telah diyakini bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki (Adam), sehingga secara ontologis bersifat derivatif dan sekunder.Kedua, bahwa perempuan adalah penyebab utama jatuhnya Adam dari surga, karena itu anak perempuan Hawa harus dipandang dengan rasa benci, curiga dan jijik. Ketiga, bahwa perempuan tidak saja dicipta dari laki-laki namun juga untuk laki-laki, sehingga eksistensinya bersifat instrumental dan tidak memiliki makna yang mendasar.7 Oleh karena diskriminasi atas perempuan bila ditinjau dari akarnya juga sangat lekat dengan agama, maka tidak mengherankan jika kemudian muncul pemikiran-pemikiran yang seolah-olah bernada menggugat agama, keluar dari kelaziman. Secara sederhana dasar pemikiran mereka ini dapat diungkapkan seperti ini: kalau yang menjadi salah satu penyebab terjadinya diskriminasi itu adalah pembacaan, penafsiran, atau pemahaman agama, maka mau-tidak-mau jika ingin merubah model pemahaman tersebut adalah dengan melakukan kajian atas-atas aspek-aspek keagamaan tersebut. Itulah sebabnya, dalam konteks ini medan perjuangan mereka senantiasa akan berkaitan untuk memberikan pembacaan dan pemahaman atas agama. Inilah yang kemudian kita kenal dengan teologi feminisme.

 

  1. C.   Metodologi Riffat Hassan

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa terdapat beberapa pemikir muslim yang konsen terhadap masalah feminisme dalam Islam. Satu di antara mereka adalah Riffat Hassan.  Metodologi yang digunakan Riffat Hassan inilah yang akandikaji dan dijadikan model dalam perspektif ini. Tetapi, ada baiknya sebelum membahas kerangka metodologinya kita akan paparkan dahulu sedikit informasi tentang tokoh yang kita jadikan model ini. Riffat Hassan adalah seorang tokoh feminisme yang berasal dari Pakistan, tepatnya di kota Lahore. Belum didapat infomasi yang jelas tentang kapan Riffat dilahirkan kecuali bahwa ia berasal dari keluarga Sayyid kelas atas dan ia adalah salah seorang putri dari sembilan bersaudara –saudaranya terdiri atas lima laki- laki dan tiga perempuan. Ayahnya yang biasa dipanggil “Begum Shahiba” adalah patriarkh di daerah itu.Sangat dihormati dan sekaligus sangat tradisional pandangannya.Sementara ibunya merupakan adalah anak dari seorang penyair, dramawan dan ilmuwan terkemuka, Hakim Ahmad Shuja‟.  Debut awal ketertarikannya pada masalah feminisme terjadi pada tahun 1983-1984  ketika ia terlibat dalam satu proyek penelitian di Pakistan. Ketika itu masa pemerintahan Zia dan Islamisasi sedang dimulai. Pertanyaan yang timbul di benaknya pada waktu itu, mengapa kalau satu negara atau pemerintahan mulai melakukan Islamisasi, tindakan pertama yang dilakukan adalah memaksa perempuan kembali masuk rumah, menutup seluruh tubuh mereka, memberlakukan peraturan dan undang-undang yang mengatur tingkah laku individu, terutama perempuan? Dia kemudian mempelajari teks al-Qur‟an secara serius dan mendalam dan akhirnya melihat perlunya reinterpretasi.Dalam konteks membangun dan mengembangkan sebuah pemikiran, hal mendasar yang mesti adalah apa dan bagaimana sebuah kerangka metodologi dibangun. Hal ini tidak lain karena metodologi memiliki peranan yang sangat signifikan dan niscaya.  Metodologi merupakan motor penggerak fundamental bagi pengembangan dan konstruksi sebuah keilmuan. Oleh karena peranan metodologi yang sedemikian penting, tidaklah berlebihan bila Mukti Ali mengatakan bahwa yang menentukan realitas stagnasi dan inkrisi suatu keilmuan bukanlah terletak pada ada atau tidak adanya orang jenius melainkan lebih ditentukan pada kerangka metodologi. Demikian halnya dengan Riffat Hassan, dalam upayanya untuk membangun dan mengembangkan pemikiran teologi feminismenya, ia pun tidak luput dari kerangka metodologis yang dibangunnya.

Pada bagian berikut ini penulis akan mencoba menguraikan kerangka metodologi yang dikonstruksi Riffat Hassan. Dalam membangun pemikiran teologi feminismenya, Riffat  menggunakan pendekatan dua level yaitu: Pertama, pendekatan ideal-normatif. Pendekatan ini ditempuh untuk melihat bagaimana al- Qur‟an menggariskan prinsip-prinsip ideal-normatif tentang perempuan. Seperti bagaimana seharusnya perempuan itu menurut al-Qur‟an, tingkah lakunya, relasinya dengan Tuhannya, orang lain maupun dirinya sendiri.  Kedua, pendekatan empiris.Pendekatan ini dilakukan dalam rangka untuk melihat secara empirik realitas sosiologis yang terjadi dan dialami perempuan. Misalnya, bagaimana perempuan memandang dirinya dan bagaimana orang lain memandang perempuan dalam masyarakat Islam. Dua pendekatan ini dalam realitasnya merupakan intertwine. Dalam pengertian bahwa di antara kedua pendekatan tersebut merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.Ia adalah satu kesatuan. Melalui dua pendekatan ini Riffat berupaya mendapatkan realitas empirik sekaligus gambaran idealis-normatif sehingga memungkinkannya untuk mengadakan evaluasi, penilaian dan  kritik terhadap realitas yang dialami kaumnya. Berdasarkan pendekatan ini Riffat  mampu membaca adanya kesenjangan antara idealitas-normatif dan realitas empiris yang dialami kaum perempuan. Hal inilah yang kemudian mendorongnya untuk melakukan pelacakan dan sekaligus pengkajian secara mendalam terhadap „teks-teks‟ keagamaan yang telah membentuk sedimen dalam realitas sosio-historis masyarakat Muslim. Selain pendekatan di atas, Riffat juga menggunakan pendekatan historis di dalam membangun pemikiran teologi feminismenya.Hal ini adalah sesuatu yang secara niscaya mesti dilakukan dalam rangka untuk mencermati secara kritis realitas Islam yang telah berdiri kokoh dalam bangunan sejarah.Sebagaimana dijelaskan oleh Charles J. Adams dalam Islamic Religious Tradition bahwa untuk dapat memberikan pemaknaan yang benar terhadap Islam, pendekatan historis adalah sebuah keniscayaan. Hal ini tidak lain karena Islam sebagai sebuah visi hidup dalam realitasnya tidak sepi dari dialektikanya dengan realitas sejarah yang selalu berubah dan berkembang.

  1. D.   Dasar Preposisi Feminisme :
  2. Timbulnya kesadaran beroposisi terhadap fitnah dan kekeliruan perlakuan terhadap perempuan dalam bentuk oposisi dialektis terhadap praktik misogyny (kekejaman kaum pria terhadap kaum perempuan).
  3. Adanya suatu keyakinan bahwa jenis kelamin bersifat kultural dan bukan bersifat biologis.
  4. Adanya suatu keyakinan bahwa kelompok sosial perempuan merupakan penajaman pendapat kelompok sosial laki-laki tentang ketidaksempurnaan jenis kelamin tertentu sebagai makhluk manusia.
  5. Adanya suatu warisan sudut pandang dalam menerima sistem nilai yang berlaku dengan cara mengekspos dan menentang prasangka serta pembatasan perbedaan jenis kelamin berdasarkan perspektif kultur.
  6. Adanya keinginan untuk menerima konsep manusia dan perikemanusiaan.

Relevansi Pemikiran Riffat Hasan terhadap Transformasi Sosial Islam

Melalui reinterpretasi ayat-ayat Alqur’an yang berkaitan dengan perempuan, Riffat memaparkan konsep teologinya pada tema-tema pokok di bawah ini yang bisa direlevansikan dengan prinsip-prinsip transformasi sosial Islam sebagai berikut:

1.  Doktrin Tauhid

            Keimanan Riffat terhadap monoteisme Tuhan “tauhid” dan keyakinan terhadap otentisitas Alqur’an serta semangat egalitarianisme serta humanisme yang ada di dalamnya, melandasi bangunan teologinya tentang perempuan, yang pada dasarnya Riffat hanya ingin membebaskan perempuan dan laki- laki dari kesalahan penafsiran terhadap Alqur’an dan taqlid buta terhadap pendapat-pendapat dan pandangan yang terkristal dalam tradisi Islam. Lebih jauh Riffat membangunkan umat Islam dari kealpaan terhadap kritik matan sebagai salah satu cara memfilter kesahihan hadis. Karena terbukti, kealpaan dalam melihat relevansi isi hadis dengan esensi Alqur’an mengakibatkan ketertindasan perempuan dalam berbagai bentuknya. Berdasarkan artikulasi-artikulasi pemikiran Riffat yang dikemukakan melalui tulisan-tulisannya, pokok teologi perempuan yang dibangun oleh Riffat tersebut, berlandaskan pada keyakinan bahwa eksistensi manusia di hadapan Allah adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaan kepadaNya. Kedudukan tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan paling esensial, karena tauhid adalah inti seluruh ajaran Islam dan ide sentral Alqur’an. Secara etimologis tauhid berarti mengesakan, yaitu mengesakan Allah.Dengan kalimat tauhid seorang manusia memutlakkan Allah Yang Maha Esa sebagai Khaliq atau Maha Pencipta, dan menisbikan selainNya sebagai makhluk atau ciptaanNya.Tauhid berarti komitmen manusia kepada Allah sebagai fokus dari seluruh rasa hormat, rasa syukur, dan sebagai satu- satunya sumber nilai.

2. Doktrin Keadilan Sosial

Perubahan struktur menuju masyarakat bebas dari segenap bentuk penindasan dan ketidakadilan adalah suatu proses sosial yang terjadi melalui proses sejarah manusia. Ketidakadilan sosial bukanlah ketentuan dan kehendak Tuhan, melainkan proses sejarah. Pelanggaran terhadap “… hak asasi manusia –laki-laki maupun perempuan– yang meliputi hak untuk hidup, hak untuk dihargai, hak untuk mendapat keadilan, hak untuk bebas, hak untuk hidup dengan layak dan sebagainya”.(Hassan, 1995:15-21).Adalah merupakan tindakan yang mencerminkan pembangkangan terhadap ketetapan Allah SWT.Doktrin keadilan sosial bagi teologi feminisme erat kaitannya dengan doktrin Tauhid, pengakuan hanya terhadap Allah sebagai Tuhan berkonsekuensi pada pengakuan dan ketaatan terhadap segala ketetapannya. Hubungan vertikal hanya akan terjadi antara manusia dengan Tuhan, sementara hubungan yang terjalin antara sesama manusia adalah hubungan horizontal yang tidak memungkinkan adanya hirarkhi antara yang satu dengan yang lain. Dalam kata lain dalam masyarakat tauhdi tidak akan terjadi komunitas yang mendominasi dan yang didominasi. Hal itu ditegaskan oleh Riffat, “…karena Tuhan Maha Adil dan Penyayang, maka manusia harus saling memperlakukan satu sama lain dengan adil dan cinta tanpa menghiraukan jenis kelamin”. (Hassan, 1995:25). Lebih jauh ia mengatakan bahwa manusia Tauhid adalah manusia yang memiliki komitmen untuk menciptakan sebuah dunia baru tempat manusia tidak akan saling berlaku kasar atau saling mengorbankan satu sama lain atas nama Tuhan. Seperti yang dilakukan laki-laki untuk mendiskreditan perempuan dengan legitimasi firman Tuhan yang disalahtafsirkan.

3.  Doktrin Pembebasan

            Dalam skala mikro, usaha terpenting bagi teologi feminisme adalah menciptakan suatu kelompok masyarakat yang memiliki kesadaran kritis terhadap struktur eksploitasi ekonomi, penindasan sosial, politik, ekonomi budaya dan gender, serta secara sadar mengupayakan pembebasan dalam berbagai bentuk kegiatan.Dengan landasan bahwa Islam sangat memperhatikan pembebasan manusia.Menurut ajaran Alqur’an perdamaian yang dilandaskan pada kebebasan individu, hanya bisa terwujud dalam lingkungan yang adil. Dengan kata lain, keadilan merupakan prasyarat bagi perdamaian. Tanpa penghapusan ketidaksetaraan, ketidaksejajaran, dan ketidakadilan, yang meliputi kehidupan mansia, pribadi maupun kolektif, tidak mungkin untuk berbicara tentang perdamaian dalam pengertian yang diinginkan Alqur’an.

Feminisme sebagai suatu gerakan, memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Mencari cara penataan ulang mengenai nilai-nilai di dunia dengan mengikuti kesamaan gender (jenis kelamin) dalam konteks hubungan kemitraan universal dengan sesama manusia.

2. Menolak setiap perbedaan antarmanusia yang dibuat atas dasar perbedaan jenis kelamin.

3. Menghapuskan semua hak istimewa ataupun pembatasan-pembatasantertentu atas dasar jenis kelamin.

4. Berjuang untuk membentuk pengakuan kemanusiaan yang menyeluruh tentang laki-laki dan perempuan sebagai dasar hukum dan peraturan tentang manusia dan kemanusiaan.

 

TEOLOGI PLURALISME

  1. A.   Pengertian Pluralisme

Pluralisme adalah sebuah paham tentang pluralitas.Paham, bagaimana melihat keragaman dalam agama-agama, mengapa dan bagaimana memandang agama-agama, yang begitu banyak dan beragam.Apakah hanya ada satu agama yang benar atau semua agama benar.

Paham pluralisme, sangat menghendaki terjadinya dialog antaragama, dan dengan dialog agama  memungkinkan antara satu agama terhadap agama lain untuk mencoba memahami cara baru yang mendalam mengenai bagaimana Tuhan mempunyai jalan penyelamatan. Pengalaman ini, sangat penting untuk memperkaya pengalaman antar iman, sebagai pintu masuk ke dalam dialog teologis. Inilah sebuah teologi yang menurut Wilfred C. Smith (1981: 187)  disebut dengan istilah world theology (teologi dunia) dan oleh John Hick (1980: 8) disebutnya global theology (teologi global). Kemudian teologi tersebut belakangan ini terkenal dengan sebutan teologi pluralisme.

Pengakuan terhadap pluralisme agama dalam suatu komunitas umat beragamamenjanjikan dikedepankanya prinsip inklusifitas yang bermuara pada tumbuhnya kepekaan terhadap berbagai kemungkinan unik yang bisa memperkaya usaha manusia dalam mencari kesejahteraan spritual dan moral. Gagasan bahwa manusia adalah satu umat, seperti ini menurut Sachedina “merupakan dasar pluralisme teologis yang menuntut adanya kesetaraan hak yang diberikan Tuhan bagi semua. Manusia tetap merupakan “satu bangsa” berdasarkan kemanusiaan yang sama-sama mereka miliki. Karena itulah diperlukan suatu “etika global” yang bisa memberikan dasar pluralistik untuk memperantarai hubungan antar agama di antara orang-orang yang memiliki komitmen spritual berbeda”.

Pengertian dan tujuan pluralisme seperti itu,telah lama menimbulkan perdebatan di kalangan umat beragama. Sampai akhirnya, pembicaraan mengenai pluralisme sempat “menghangat” kembali ketika MUI melalui fatwanya baru-baru ini, menyatakan bahwa pluralisme adalah   paham yang sesat dan sangat membahayakan, karena dianggap sebagai paham yang menyebarkan “ semua agama adalah  benar”.

Fatwa MUI yang melarang pluralisme seperti itu, kemudian menunai banyak protes dari masyarakat luas.  Karena dianggap fatwa MUI seperti itu akan sangat membahayakan bagi integritas bangsa Indonesia yang pluralistik. Bahkan, salah satu dari ketua MUI ketika menanggapi protes dari berbagai kalangan, ada yang dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang protes itu berdasarkan akal, sedangkan ulama (MUI) berdasarkan Alquran dan Sunnah Rasul.  

pluralisme pada dasarnya  justru sangatcompatible dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Apalagi  kalau mau membaca sejarah, pasti kita dapat menyimpulkan bahwa meskipun Islam merupakan agama termuda dalam tradisi Ibrahimi. Pemahaman diri Islam sejak kelahiranya pada abad ke-7 justru sudah melibatkan unsur kritis pluralisme, yaitu hubungan Islam dengan agama lain.  Dan agama Ibrahimi termuda ini sebenarnya bisa mengungkap diri dalam suatu dunia agama pluralistis. Islam mengakui dan menilainya secara kritis, tapi tidak pernah menolaknya atau menganggapnya salah.

Bahkan menurut Alquran sendiri, pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau Sunnah Allah, dan bahwa hanya Allah yang tahu dan dapat menjelaskan, di hari akhir nanti, mengapa manusia berbeda satu dari yang lain, dan mengapa jalan manusia berbeda-beda dalam beragama. Dalam al-Qura’an disebutkan, yang artinya: “Untuk masing-masing dari kamu (umat manusia) telah kami tetapkan Hukum (Syari’ah) dan jalan hidup (minhaj). Jika Tuhan menghendaki, maka tentulah ia jadikan kamu sekalian umat yang tunggal (monolitk). Namun Ia jadikan kamu sekalian berkenaan dengan hal-hal yang telah dikarunia-Nya kepada kamu. Maka berlombalah kamu sekalian untuk berbagai kebajikan. Kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali; maka Ia akan menjelaskan kepadamu sekalian tentang perkara yang pernah kamu perselisihkan” (QS 5: 48).

Melihat peran pentingnya sikap pluralisme untuk bisa mengakui dan menghormati  “perbedaan” dan sikap seperti ini ternyata memiliki landasan teologis dari Al-Qur’an maka, teologi pluralisme seperti ini sangat penting untuk ditekankan pada peserta didik melalui pendidikan agama, sebab persoalan teologi sampai sekarang masih menimbulkan kebingungan di antara agama-agama. Soal teologi yang menimbulkan kebingungan adalah standar: bahwa agama kita adalah agama yang paling sejati berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain adalah hanya kontruksi manusia. Dalam sejarah, standar ganda ini biasanya dipakai untuk menghakimi agama lain dalam derajad keabsahan teologis di bawah agama kita sendiri. Lewat standar ganda inilah kita menyaksikan bermunculnya perang klaim-klaim kebenaran dan janji penyelamatan, yang kadang-kadang kita melihatnya berlebihan, dari satu agama atas agama lain.

Selain itu, era sekarang adalah era multikulturalisme dan pluralisme, yang dimana seluruh masyarakat dengan segala unsurnya dituntut untuk saling tergantung dan menanggung nasib secara bersama-sama demi terciptanya perdamaian abadi. Salah satu bagian penting dari konsekuensi tata kehidupan global yang ditandai kemajemukan etnis, budaya, dan agama tersebut, adalah membangun dan menumbuhkan kembali teologi pluralisme dalam masyarakat.

Dalam Islam berteologi secara inklusif dengan menampilkan wajah agama secara santun dan ramah sangat dianjurkan. Islam bahkan memerintahkan umat Islam untuk dapat berinteraksi terutama dengan agama Kristen dan Yahudi dan dapat menggali nilai-nilai keagamaan melalui diskusi dan debat intelektual/teologis secara bersama-sama dan dengan cara yang sebaik-baiknya (QS al-Ankabut/29: 46), tentu saja tanpa harus menimbulkan prejudice atau kecurigaan di antara mereka.

Karena menurut al-Qur’an sendiri, sebagai sumber normatif bagi suatu teologi inklusif. Karena bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang menempati posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain Alqur’an. Maka, Alqur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep persaudaraan Islam-terhadap agama lain—pluralitas  adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atauSunnah Allah, sebagaimana firman Allah SWT: “ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui  Lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat 49: 13).

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad In’am Esha, 2006, Rethinking Kalam, Yogyakarta: eLSAQ Press.

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Juni 24, 2013, in Kumpulan makalah-makalah and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: