Pelarangan nonton televisi

downloadDalam hal pengontrolan terhadap penerbitan pornografi,  baik di media cetak maupun elektronik, kita perlu mengambil  pelajaran dari  upaya para ulama di India, yakni pelarangan menonton  televisi. Berikut ini beritanya:

“Sekitar  400  keluarga Muslim di Desa Tajola,  dekat  Bombay, India,  telah berhenti menonton televisi. Itu  terjadi  menyusul fatwa  yang  dikeluarkan  ulama setempat,  yang  melarang  mereka menonton  tayangan televisi, yang disebut sebagai  media  ‘kotor’ tersebut.

Larangan itu dikeluarkan karena makin sedikit saja orang  yang mau  ke masjid untuk shalat berjama’ah. Sebuah laporan  menyebutkan, masyarakat setempat memang lebih senang duduk-duduk di rumah dan  nonton  televisi  ketimbang datang ke  masjid  untuk  shalat jama’ah.  Laporan  itu juga menyebutkan, anak-anak  lelaki  mulai senang menonton film-film seronok produksi Bombay.

Para  keluarga tadi diberi pilihan untuk menjual,  menghancurkan, atau mencabuti kabel pesawat televisinya.” (afp/ fra/ Republika, Rabu 4 Oktober 2000, hal 19).

Selayaknya  para  ulama memfatwakan seperti  itu. Apalagi di Indonesia ini tayangan-tayangan televisi sudah gila-gilaan,  para penyelenggara  siaran televisi tampaknya sudah  kemasukan  syetan wadyabala iblis. Hingga kuping dan hati mereka telah pekak,  tuli dan  tidak tertembus cahaya agama. Mereka tidak menggubris  aneka keluhan tentang rusaknya moral akibat nafsu rendah mereka,  sebagaimana makin beraninya para perancang iklan dan perempuan-perempuan bermoral rendah yang tidak punya malu lagi untuk  memamerkan lekuk-lekuk  tubuhnya, sebagai tabungan amal buruk  untuk  mereka nikmati siksanya nanti setelah nyawa mereka melesat.

Apabila  para ulama membiarkan gawatnya perusakan  moral  ini, sedang pemerintahan pun keadaannya semakin kacau-balau tak keruan arah  juntrungannya  seperti ini, maka yang terkena  adzab  bukan hanya  tukang-tukang zina dan penggesa perbuatan zina serta  para pejabat  yang  rela terhadap terselenggaranya  zina,  namun  akan mengenai ulamanya pula, bahkan masyarakat yang baik-baik pun bisa terkena  adzab. Maka kalau tak mampu  melarang  tayangan-tayangan televisi yang tak sesuai aturan agama, dan peredaran VCD-VCD yang merusak moral; sebaiknya para ulama melarang ummat Islam menonton televisi  dan  menonton VCD yang tak Islami. Dari  ulama  tingkat pusat  sampai  daerah apabila kompak  melarang  jama’ahnya,  maka insya  Allah kemerosotan moral bisa dikendalikan. Masyarakat  ini tidak akan rusak total seperti gejala sekarang ini.

Sadarlah bahwa kita ini telah memberhalakan televisi, VCD  dan tayangan-tayangan  yang jauh dari akhlaq Islam. Tingkatnya  sudah mirip  kaum  jahiliyah yang memberhalakan  patung-patung  seperti dalam  uraian di atas. Kini sudah saatnya diadakan revolusi  pemberantasan  berhala baru itu, dari tingkat pusat sampai ke  pelosok-pelosok.  Tampaknya hal ini tidak mudah, namun justru faktor tidak mudah inilah yang harus disadari bahwa itu sangat  memerlukan  upaya yang sungguh-sungguh dari para ulama dan  tokoh  Islam serta  da’i  dan pengamal Islam yang istiqomah  dalam  menegakkan amar  ma’ruf nahi munkar. Tanpa upaya yang  sungguh-sungguh  maka kehancuran  akan semakin nyata, dan akan menjadi  batu  sandungan yang menghambat mulusnya jawaban ketika dihisab di hari  qiyamat. Karena masih ada satu pertanyaan: Kenapa kamu biarkan  kaluargamu dan  orang-orang  yang menjadi tanggunganmu rusak  akhlaq  bahkan aqidahnya  gara-gara  tayangan-tayangan yang merusak  akhlaq  dan iman itu.

Sebelum pertanyaan di hari qiyamat itu diajukan  kepada  kita semua,  mari  kita lakukan pemberantasan  biang  kemaksiatan  itu secara bersama-sama, sungguh-sungguh, dan terus menerus. Demikian pula  kejahatan Mo Limo yang jelas-jelas merusak  masyarakat  itu wajib  kita berantas. Lebih harus diberantas lagi, karena  negeri yang  kondisinya amburadul ini tampaknya justru sering  mendukung aneka  kemaksiatan  dengan mengandalkan surat  izin  yang  mereka keluarkan.  Padahal negeri ini berlandaskan Ketuhanan  Yang  Maha Esa. Bukan Ke-syetan-an yang maha terkutuk. Namun pihak  penguasa negeri ini berani mengeluarkan izin-izin penyelenggaraan  tempat-tempat maksiat, pembukaan pabrik minuman keras, bahkan Pemda  DKI Jakarta  menanam saham di pabrik minuman keras itu 30%;  itu  berarti menentang Tuhan secara formal, dan mengikuti syetan  secara legal.  Pemerintahan yang seperti ini, ketika  mengeluarkan  izin kemaksiatan  dengan  aneka  jenisnya itu,  bahkan  menanam  saham padanya, pada  dasarnya adalah syetan berbaju pemerintah,  hingga kekuatannya  bagai  dajjal, dan itulah musuh  manusia  dan  musuh Allah  SWT.  Maka  mari kita perangi  bersama-sama  dalam  rangka menegakkan  hukum Allah. Mari! Kita perangi  karya  syetan-syetan itu,  biar  negeri ini bersih dari kemaksiatan  yang  selama  ini ditegakkan  oleh  syetan  formal dan syetan  non  formal  beserta wadyabalanya.  Jangan biarkan mereka lebih merusak lagi di  masa-masa mendatang, hingga negeri ini tenggelam dalam kemaksiatan dan kejahatan  yang lebih dahsyat lagi. Relakah kita membiarkan  anak cucu kita menjadi mangsa syetan iblis berkekuatan dajjal itu?   

Posted on Juni 19, 2013, in kesehatan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: