NU, Ketidak Jelasannya Tampak Jelas

 images (5)   Apabila disebut kaum Nahdliyin atau warga NU (Nahdlatul Ulama) seolah yang tergambar adalah orang Jawa Timur. Padahal tidak demikian. Artinya, tidak semua orang Jawa Timur itu kaum Nahdliyin. Demikian pula kaum Nahdliyin tidak hanya di Jawa Timur. Di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, dan lainnya pun ada kaum Nahdliyin. Namun berhubung yang banyak itu di Jawa Timur, sedang berdirinya NU 1926 pun di sana, maka seolah kaum Nahdliyin itu identik dengan orang Jawa Timur. Dan memang kerusuhan terbesar yang terjadi Februari 2001 oleh para pendukung Presiden Gus Dur –Abdurrahman Wahid (tokoh NU dan PKB— Partai Kebangkitan Bangsa, partai buatan Pengurus Besar NU) adalah di Jawa Timur.

    Satu kelompok besar biasanya punya kebiasaan tertentu, ciri-ciri tertentu, dan polah tingkah tertentu. Demikian pula kaum Nahdliyin atau warga NU yang merupakan golongan besar di Indonesia ini. Mereka punya polah gawe tersendiri pula.

    Tradisi dan kebiasaan itu hampir merata. Kesukaannya sama antara yang di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta maupun lainnya. Misalnya dalam hal suka tahlilan selamatan memperingati orang mati, model animisme (kepercayaan orang musyrik) namun pakai bacaan-bacaan ayat-ayat dan do’a-do’a.

   Dalam hal kepercayaan Animisme mengenai orang mati, Prof Hamka mengemukakan sebagai berikut:

“…menurut kepercayaan datuk-nenek-moyang kita zaman purbakala, apabila seorang mati, datanglah roh orang yang mati itu ke dunia kembali, lalu dia mengganggu ke sana ke mari, sehingga ada orang yang sakit. Oleh sebab itu dianjurkan supaya kalau orang telah mati, hendaklah keluarga berkumpul-kumpul beramai-ramai di rumah orang yang kematian itu sejak hari pertama, hari ketiga, hari keempat sampai hari ketujuh. Kemudian dia akan datang lagi mengganggu pada hari yang ke empat puluh. Setelah itu dia akan datang lagi mengganggu pada hari yang ke seratus, dan paling akhir sekali dia akan datang kembali pada hari yang ke seribu. Sebab itu hendaklah orang beramai-ramai di rumah itu di hari-hari tersebut. Sebab roh itu takut datang kalau ada ramai-ramai! Maka setelah nenek-moyang kita memeluk Agama Islam belumlah hilang sama sekali kepercayaan animisme itu, sehingga berkumpul-kumpullah orang di rumah orang kematian di hari-hari yang tersebut itu, sebagai warisan zaman purbakala. Cuma diganti mantra-mantra cara lama dengan membaca al-Qur’an, terutama Surat Yasin.”[1]   Padahal, mengikuti atau melanjutkan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, apalagi masalah itu dari adat kepercayaan orang musyrikin, maka sangat dilarang. Sedang tatacaranya itu sendiripun, misalnya bukan karena mewarisi kaum musyrikin, tetap dilarang, karena ada riwayat:

قال جرير رضي الله عنه: كنا نرى الإجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه لغيرهم من النياحة. (أحمد ).

   “Jarir RA berkata: ‘Kita berpendapat bahwa kumpul-kumpul ke kekeluarga orang mati dan membuat makanan untuk disajikan kepada para tamu setelah dikuburnya mayit, itu hukumnya termasuk meratapi mayit.” (Riwayat Ahmad).

   Meratapi mayit itu jelas dilarang dalam Islam.

    Hal tersebut mengenai kesukaan yang sama antar para kaum Nahdliyin di berbagai tempat. Lantas dalam hal ketidak sukaannya terhadap hal-hal tertentu pun tampaknya sama. Misalnya ketidak sukaannya terhadap Muslimin yang dulu disebut pembaharu yang memberantas upacara tidak syar’i misalnya tahlilan selamatan/ peringatan orang mati dan sebagainya. Deliar Noer (pakar politik di Indonesia) mencatat beberapa peristiwa sebagai berikut:

    Perbedaan pendapat antara kalangan tradisi (NU dan semacamnya, pen) dan kalangan pembaharu (Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dsb, pen)  ini kadang-kadang meletus menjadi tuduhan kafir-mengkafirkan terhadap sesama mereka, sampai-sampai perkelahian fisik pun juga terjadi. Umpamanya; di Ciledug, Cirebon, tanggal 29 Juli 1932, Verslag Openbaar Debat Talqin (Bandung; Persatuan Islam, 1933, selanjutnya disebut Verslag Talqin); di Gebang Cirebon, Mei 1936 (Verslag Debat Taqlied, hal 7).[2]

   Selanjutnya Deliar Noer memberikan catatan kaki: Kadang-kadang Nahdlatul Ulama dituduh sebagai organisasi yang didirikan Belanda, sekurang-kurangnya sebagai organisasi yang disokong Belanda dalam melawan golongan pembaharu (anti bid’ah, khurafat, takhayul, dan kemusyrikan, pen). Lihat umpamanya Oemar Amin Hoesin, “Sedjarah Perkembangan Politik Moderen di Indonesia, “ Hikmah, tahun VIII, No. Lebaran 20/21 (1955). Hoesin menyebut kahadiran Charles van der Plas pada Kongres al-Islam di Cirebon tahun 1922 sebagai bukti tuduhan tersebut. Penulis buku ini (Deliar Noer, pen) berpendapat bahwa kehadiran seorang pejabat seperti itu pada suatu kongres, Islam atau bukan Islam, merupakan suatu hal yang biasa semenjak masa permulaan Sarekat Islam. Tentang tuduhan ini, lihat juga Hindia Baru, 19 Februari 1926.

   Selanjutnya Deliar Noer mengemukakan: Tentang peranan van der Plas di Indonesia, George McT Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (Ithaca, N.Y. Cornell Universsity Press, 1952), hlm 370, catatan 72, mengatakan:

    Dr van der Plas telah menjadi figur yang setengah merupakan dongeng di Indonesia, dengan fantasi serta kenyataan sama-sama banyak tersangkut pada namanya. Yang pasti ialah bahwa ia termasuk orang istimewa. Banyak pemimpin utama Indonesia, walaupun melihat van der Plas sebagai inkarnasi setan, percaya bahwa ia banyak mengetahui tentang orang Indonesia lebih dari Belanda manapun juga, baik yang masih hidup maupun yang sudah  meninggal, dan mereka kagum tentang kesanggupan van der Plas ini. Bila pemerintah Belanda memperlihatkan sesuatu yang mencerminkan kepandaiannya yang licik, terdapat kecenderungan pada intelektual Indonesia untuk berkata: “Ha, ini pekerjaan van der Plas”.

   Bintang Islam, 1926, Tahun IV No.20, hal 324 menyebut Nahdlatul Ulama dengan nama Syarikat Biru, suatu penamaan yang mengingatkan seseorang pada sarikat Hedjo, suatu organisasi gelap yang mendapat sokongan PEB (Politiek Economische Bond –partai yang dibentuk orang-orang Belanda Januari 1919 yang mempunyai pendirian bahwa Politik Etis “terlalu maju” buat Indonesia. PEB ini kerjasama dengan Sindikat Gula —Suiker Syndicaat yang mengawasi produksi dan ekspor gula di Indonesia, dalam memusuhi Sarekat Islam) untuk mengacaukan kalangan pembaharu dan nasionalis lain. Akan sangat penting untuk mencatat di sini bahwa NU tidak pernah mengalami kesukaran sehubungan dengan kegiatan organisasi seperti  Sarikat Hedjo. Memang golongan tradisi lebih dapat ditolerir oleh kepala-kepala anak negeri (di Jawa) yang memang disokong oleh kalangan penghulu.[3]    

   Meskipun demikian, gejala kini ada pula hal-hal yang tidak disukai oleh sebagian warga NU yang “nyempal” dari polah tingkah orang NU. Hanya saja suara penyempal itu sering kalah, karena kalah dalam hal braok dan bedigasannya (lantangnya bersuara dan polah tingkahnya). Di sini tidak dilihat benar atau salahnya menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah oleh kebanyakan warga NU bahkan para kiyainya atau ulamanya, tetapi hanya dilihat dari banyak tidaknya pendukung atau kuat tidaknya pengaruh pelaku.

   Contoh paling nyata adalah kasus pengadaan do’a bersama antar berbagai agama yang ditokohi oleh ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Hasyim Muzadi pengganti Gus Dur. Tokoh lain yang menggalakkan adanya do’a bersama antar agama dan bahkan benar-benar melaksanakannya lebih dulu, di antaranya adalah Dr Said Agil Siradj tokoh NU yang konon suka blusak-blusuk  (keluar masuk) ke gereja, dan isteri Gus Dur, Ny Sinta Nuriyah. Sampai-sampai perempuan setengah umur yang sudah tidak bisa berjalan itu pun, dengan digledek pakai kursi roda, Ny Sinta Nuriyah mengadakan atau hadir dalam acara do’a bersama antar agama di kuburan Pondok Rangon Jakarta Timur, 1996, bersama orang-orang aneka macam agama yang kebanyakan dari golongan kekiri-kirian. Itu berarti telah lebih dulu ketimbang  Hasyim Muzadi yang menyelenggarakan acara do’a bersama antar agama secara besar-besaran dengan nama Indonesia Berdo’a, di Senayan Jakarta, Agustus 2000, setelah Gus Dur jadi Presiden dan masyarakat (mayoritas non NU dan non Palangis) tampaknya tidak puas dengan kepemimpinan Gus Dur yang kurang bermanfaat atau malah banyak mudharatnya.

    Dalam arus kuat di kalangan NU yang hingar bingar dengan menggalakkan upacara do’a bersama antar agama itu ada juga kiyai-kiyai NU yang anti. Mereka ini suka menyebut diri sebagai NU yang tidak pro (alias anti) Gus Dur dan Agil Siradj. Di antaranya Kiyai Bashori Alwi dari Malang Jawa Timur dan kawan-kawannya serta santri-santrinya. Itu salah satu contoh “penyempal” dari hingar bingar polah tingkah orang NU. Padahal yang “menyempal” ini, yaitu yang anti mengadakan do’a bersama antar berbagai macam agama itu justru yang masih konsisten dengan istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebenarnya. Hanya saja dalam hal yang sudah mendarah daging di kalangan orang NU, misalnya kebiasaan tahlilan memperingati orang meninggal, tidak terdengar adanya orang NU yang “menyempal” alias anti terhadap acara yang jelas bid’ah dan meniru orang musyrikin animisme itu. Kalau seseorang tidak mau upacara-upacara tahlilan memperingati orang mati model animisme itu maka biasanya di masyarakat NU langsung dicap/ dikecam sebagai orang Kramandiyah atau Kamandiyah yang maksudnya adalah Muhammadiyah, atau bahkan dicap sebagai bukan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Di situlah kemudian dihembuskan di masyarakat bahwa yang Ahli Sunnah wal Jama’ah itu adalah orang NU, yang oleh mereka kemudian sering disingkat menjadi Aswaja. Padahal, secara lafdhiyah maupun maknawiyah, yang namanya Ahli Sunnah wal Jama’ah itu adalah yang konsisten dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan yang menambah-nambah ajaran Islam dengan tradisi animisme ataupun amalan-amalan bid’ah lainnya. Sedang yang suka menambah-nambah itu dalam istilah aqidah disebut ahlul ahwa’ wal bida’. Artinya ahli hawa nafsu dan bid’ah. Disebut demikian karena tidak menepati apa yang diajarkan oleh wahyu, tetapi mengikuti hawa nafsu, dan menciptakan atau melakukan hal-hal baru dalam hal beribadah atau taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

   Meskipun demikian, jangan coba-coba langsung mengatakan kepada orang-orang yang senang mengadakan selamatan memperingati kematian dengan ungkapan ahlul ahwa’ wal bida’ atau ahli bid’ah. Karena, mereka dalam mempertahankan kebid’ahannya itu kadang lebih gigih dibanding mempertahankan Islam itu sendiri. Dalam kehidupan nyata pun tampak sekali, misalnya ummat Islam di Ambon diserang dan dibantai oleh orang-orang Nasrani, namun pihak ahlul ahwa’ wal bida’ itu tampaknya tidak ada pembelaannya sama sekali terhadap Muslimin atau sarana-sarana Islam seperti masjid-masjid yang dibakar dan dirusak. Kecuali yang memang orang sana (tempat kejadian itu sendiri), walaupun misalnya mereka termasuk ahlul ahwa’ wal bida’ namun karena langsung mendapatkan serangan dari non Islam, maka tentu saja mempertahankan diri sebagaimana siapa saja yang kena serangan mesti melakukannya. Namun yang di tempat lain, di luar tempat kejadian, bahkan di pusat, justru kaum ahlul ahwa’ wal bida’ itu lebih sangat sayang terhadap gereja-gereja, hingga mereka dikerahkan untuk menjadi centeng tukang pukul di gereja-gereja. Akibatnya, ketika ada peristiwa ledakan bom di berbagai kota di dekat-dekat gereja pada malan natalan 2000, khabarnya ada satu orang dari Anshor atau Banser (Barisan Anshor Serba Guna), organisasi pemuda di bawah NU, yang mati kena bom karena jadi centeng  (penjaga)di gereja Eben Heizer Mojokerto Jawa Timur. Beritanya sebagai berikut:

Bom meledak di 22 gereja di 10 kota se-Indonesia terjadi pada Malam Natal 2000, Ahad malam 24 Desember  2000 sekitar pukul 21.

  Menurut Republika, pada waktu itu, secara serentak bom meledak  di 22 gereja pada 10 kota. Hampir semuanya adalah gereja Katolik. Chandra Tirta Wijaya (16) yang meninggal Sabtu 6/1 2001 adalah korban ke-20 yang meninggal, termasuk seorang anggota Banser yang demi solidaritas keagamaannya ikut menjaga Gereja Eben Heizer, Mojokerto, Jawa Timur.  (Tajuk Republika, “Korban itu pun meninggal”, Senin 8 Januari 2001, halaman 6).

   Kota-kota yang dikhabarkan diguncang bom di dekat gereja-gereja adalah Jakarta, Bandung, Medan, Mojokerto, dan Mataram NTB.

   Demikianlah sikap keberagamaan orang-orang NU dan organisasi-organisasi di bawahnya. Sehingga kadang umat Islam justru dianggap oleh ahlul ahwa’ wal bida’ ini sebagai suatu ancaman. Maka kelompok ahlul ahwa’ wal bida’ itu pernah ditawar pula oleh pihak Nasrani untuk maju bersama dengan kaum Nasrani dalam menghadapi Muslimin di Ambon, dalam bahasa untuk mengamankan. Penawaran itu tentu saja melalui berbagai pertimbangan. Di samping sikap keberagamaan mereka sudah diketahui demikian, sikap politiknya pun sudah diketahui pula. Di antara yang mencolok mata adalah di zaman pemerintahan Soekarno, digencarkan istilah Nasakom (Nasional – Agama- dan Komunis). Yang namanya Agama di situ adalah orang-orang NU. Sehingga ada lagu wajib yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah, judulnya “Nasakom Bersatu”, yang di antara baitnya berbunyi:

“Nasakom bersatu

hancurkan kepala batu…”

Maksudnya, orang-orang Nasionalis (kaum sekuler anti syari’at Islam), Agama –yaitu orang-orang NU, dan Komunis – orang-orang PKI anti Tuhan –semuanya (3 komponen) itu bersatu, lalu mereka berkomando untuk menghancurkan kepala batu. Yang dimaksud kepala batu adalah orang-orang Islam Masyumi.

   Sikap bergabung dengan orang-orang anti syari’at Islam dan bahkan dengan komunis anti Tuhan itu sudah diketahui oleh umum, makanya kaum Nasrani pun berani menawar mereka untuk kerjasama melawan Muslimin Ambon. Belakangan, Februari 2001M, para ahlul ahwa’ wal bida’ itu diduga bekerja sama dengan anak cucu PKI mengadakan kerusuhan besar-besaran di Jawa Timur dengan menghancurkan masjid, madrasah, panti asuhan terutama milik Muhammadiyah dan menebangi ratusan pohon pinggir jalan, lalu dihadangkan di jalan raya, agar semua kendaraan tidak bisa lewat. Tingkah merusak dan menghalangi kepentingan umum itu mereka lakukan hanya karena ashobiyah/ fanatik buta   mendukung presiden Gus Dur yang sedang digoyang DPR dari kursi kepresidenannya.

     Dalam sejarah Islam, hanya orang-orang Yahudi dan munafiqin serta orang-orang yang lemah imannya/ ragu-ragu dan tidak mau berhijrah saja yang mau bergabung dengan kaum kafir dalam berperang menghadapi ummat Islam. Dalam Al-Qur’an dikisahkan, orang-orang yang tak mau berhijrah dan kemudian dipaksa oleh orang kafir Makkah untuk bergabung dalam menghadapi Muslimin, kemudian mereka mati, maka mereka masuk neraka, walaupun alasan mereka karena dilemahkan oleh kaum kafir Makkah. 

Allah SWT berfirman:

      إن الذين توفهم……..                                                                       

          ……  ولا يهتدون سبيلا. ( النساء: 97-98).

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: `Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)`. Para malaikat berkata: Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di negeri itu? Orang-orang itu tempatnya ialah neraka jahannam , dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa: 97).

Kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). (QS An-Nisaa’: 98).

     Ada beberapa riwayat berkenaan dengan turunnya ayat tersebut, di antaranya sebagai berikut:

   Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa di antara pasukan musyrikin terdapat Kaum Muslimin Mekah (yang masih lemah imannya) yang turut berperang menentang Rasulullah saw sehingga ada yang terbunuh karena panah atau pedang pasukan Rasulullah. Maka turunlah ayat ini (S4:97) sebagai penjelasan hukum bagi Muslimin yang lemah imannya, yang menganiaya dirinya sendiri (mampu membela Islam tetapi tidak melakukannya). (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Abbas).

   Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa nama orang-orang yang menambah jumlah musyrikin itu antara lain Qais bin Walid bin Mughirah, Abu Qais bin Al-Faqih bin Mughirah, Walid bin ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Umayah bin Sufyan, dan ‘Ali bin Umayah bin Khalaf. Dan selanjutnya dikemukakan bahwa peristiwanya terjadi pada peperangan Badr, di saat mereka melihat jumlah Kaum Muslimin sangat sedikit, timbullah rasa keragu-raguan pada mereka dan berkata: “Tertipu mereka dengan Agamanya”.  Orang tersebut di atas mati terbunuh di perang Badr itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih).  

Keterangan: Menurut Ibnu Abi Hatim, di antara orang-orang tersebut dalam hadits di atas termasuk juga  al-Harts bin Zam’ah bin al-Aswad dan al-‘Ash bin Munabbih bin al-Hajjaj.

   Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika segolongan orang-orang Mekah telah masuk Islam dan Rasulullah hijrah, mereka enggan ikut dan takut berhijrah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (S 4:97,98) sebagai ancaman hukuman bagi yang enggan dan takut memisahkan diri dari kaum yang memusuhi agama, kecuali orang yang tidak berdaya. (Diriwayatkan oleh at-Thabarani yang bersumber dari Ibnu Abbas).[4]

    Peringatan ayat Al-Qur’an sedemikian tegas, namun hal yang harus dijauhi benar-benar itu oleh sebagian kelompok justru dijadikan model yang digalakkan dalam golongannya, yaitu berkasih-kasihan dengan musuh-musuh Islam, bekerjasama, dan saling 

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Juni 16, 2013, in edukasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. halah broo, masalah khilafiyah kok dibahas, nggak akan ada habisnya. Apalagi kalau tujuannya hanya untuk memojokkan satu golongan, nggak akan selesai bung

    Mending kita bahas hal-hal yang urgen saja, misal mengentaskan kemiskinan, meningkatkan mutu pendidikan, menciptakan perdamaian dan lain sebagainya.

    Islam itu rahmatan lil ‘alamiin, bukan hanya rahmatan lil-muslimiin saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: