Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme di Indonesia

ada baiknya jika kita tidak hanya menjadikan politik luar nergi sebagai acuan bangsa kita, karna kultur kita dengan mereka sangtlah terpalut jauh, mungkin saya pribadi tidak setuju dengan adanya study banding mengenai hukum di dunia parlement, hukum kita tidak sama dengan mereka, dan tidak harus sama, belum tentu  hukum mereka sesuai dengan kita.

kita turun ke Nusantara untuk mencoba mene- ropong isu serupa berdasarkan pengalaman sejarah dalam rentang waktu 100 tahun terakhir. Dengan uraian ini, nanti saya ingin mengu – kuhkan posisi intelektual Profesor Nurcholish Madjid dalam kaitan- nya dengan gagasan besarnya tentang Pancasila yang mungkin dapat diangkat menjadi kalimatun sawâ’28

(prinsip/pegangan/proposisi dasar bersama) bagi Indonesia, dulu, sekarang, dan di masa depan. Dengan Pancasila yang dipahami dan dilaksanakan secara jujur dan ber – tanggungjawab, semua kecenderungan politik identitas negatif-destruktif yang dapat meruntuhkan bangunan bangsa dan negara ini pasti dapat dicegah. Pluralisme etnis, bahasa lokal, agama, dan latar belakang sejarah, kita jadikan sebagai mozaik kultural yang sangat kaya, demi terciptanya sebuah taman sari Indonesia yang memberi keamanan dan kenyamanan bagi siapa saja yang menghirup udara di Nusantara ini. Secara historis, pembentukan Indonesia sebagai bangsa baru terjadi tahun 1920-an, dilakukan melalui kegiatan intensif PI (Per himpunan Indonesia) di Negeri Belanda, kemudian dikukuhkan oleh Sumpah


28 Proposisi ini berasal dari al‐Qur’an s. Âli ‘Imrân (3): 64 yang makna lengk apnya adalah sebagai berikut: ”Wahai Ahli Kitab, marilah menuju kepada dasar pegangan bersama antara kami dan kamu, yaitu agar kita tidak menyembah selain kepada Allah, dan kita tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun, dan kita tidak menjadikan satu sama lain sebagai tuhan‐tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah [kepada mereka]: Saksikanlah, bahwa sesungguhnya kami [ini] adalah orang‐orang Muslim (berserah diri).”

Pemuda 1928. Semua peristiwa penting ini terjadi di zaman kolonial periode akhir. Selanjutnya dengan Proklamasi 17 Agustus 1945, sebuah negara baru yang juga bernama Indonesia, muncul ke atas peta dunia, sekalipun Belanda dibantu Inggris sama sekali tidak rela dengan cetusan kemerdekaan rakyat terjajah ini. Seperti sudah disinggung di atas bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia bisa saja tertunda sekiranya PD II tidak meledak, sebab Bel anda sebagai penjajah memang tidak pernah siap untuk melihat sebuah kemerdekaan bagi Nusantara yang sebagaian wilayahnya sudah cukup lama dikuasainya.

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Juni 12, 2013, in kabar terkini and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: