BAHAYA HIZBUT TAHRIR

ُ ﻳﻘﹸﻮﻝﹸ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﹶﻟﻰ :]ﺑﻞﹾ ﻧﻘﹾﺬﻑ ﺑﹺﺎﹾﻟﺤﻖ ﻋﻠﹶ ﺍﹾﻟ  ﻰ ﺒ ﺎﻃﻞﹺ ﻓﹶﻴﺪﻣﻐﻪ…[] ﺳﻮﺭﺓ [18 :ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ Maknanya: “Sebenarnya Kami (Allah) melontarkan yang haqq kepada yang batil lalu yang haqq itu menghancurkannya…” (Q.S. al Anbiyaa’ : 18) Sebagai pengamalan terhadap ayat ini, kami akan menyebutkan penjelasan ringkas dan memadai bagi kaum muslimin tentang suatu kelompok yang telah menyelewengkan ajaran Islam dan menyebarkan kebatilan-kebatilan yang dikenal dengan kelompok Hizbut Tahrir,1 yang didirikan oleh seorang bernama 1 Hizbut Tahrir didirikan oleh Taqiyyuddin an-Nabhani (W.1400 H), asal Palestina. Hizbut Tahrir –sebagaimana ia memperkenalkan dirinya- adalah perkumpulan (Takattul) politik, bukan perkumpulan spiritual atau perkumpulan ilmiah. Kami

Taqiyyuddin an-Nabhani. Ia mengaku sebagai ahli ijtihad, ia berbicara tentang agama dengan kebodohannya, mendustakan al Qur’an, hadits dan ijma’ baik dalam masalah pokok-pokok agama (Ushuluddin) maupun dalam masalah furu’. Berikut ini adalah sebagian kecil dari kesesatan- kesesatannya yang ditolak oleh orang yang memiliki hati yang jernih.
1. Allah ta’ala berfirman:
]ﺇﹺﻧ ﻛﹸ  ﺎ ﻞﱠ ﺷﻰﺀٍ ﺧﻠﹶﻘﹾﻨ ﺎﻩ ﺑﹺﻘﹶﺪﺭﹴ[] ﺳﻮﺭﺓ [49 :ﺍﻟﻘﻤﺮ Maknanya: “Sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan segala sesuatu menurut ketentuan-Ku” (Q.S. al Qamar : 49) Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: َ “ﺇﹺﻥﱠ ﺍﷲ ﺻﺎﹺﻧﻊ ﻛﹸ ﱢ  ) ” ﻞ ﺻﺎﹺﻧﻊﹴ ﻭﺻﻨﻌﺘﻪ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﳊﺎﻛﻢ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ( Maknanya: “Allah pencipta setiap pelaku perbuatan dan perbuatannya” (H.R. al Hakim dan al Bayhaqi) katakan: ini adalah penegasan mereka yang menunjukkan bahwa mereka bukan ahli agama dan tidak layak mengambil ilmu agama dari mereka. Namun demikian, ternyata mereka berbicara tentang agama tanpa ilmu, jadi masyarakat wajib diperingatkan agar mewaspadai bahaya mereka. Mendiamkan mereka akan menjadikan negara kita ini layaknya negara AlJaza-ir kedua.
Al Imam Abu Hanifah (W. 150 H) dalam al Fiqh al Akbar berkata: “Tidak ada sesuatupun yang terjadi di dunia maupun di akhirat kecuali dengan kehendak, pengetahuan, Qadla’ (penciptaan) dan Qadar (ketentuan)-Nya”. Tentang perbuatan hamba, beliau berkata: “Dan segala perbuatan manusia terjadi dengan kehendak, pengetahuan, Qadla’ (penciptaan) dan Qadar (ketentuan)-Nya”. Inilah aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sedangkan Hizbut Tahrir menyalahi aqidah ini. Mereka menjadikan Allah tunduk dan terkalahkan dengan terjadinya sesuatu di luar kehendak-Nya. Hal ini seperti yang dikatakan oleh pimpinan mereka; Taqiyyuddin an-Nabhani2 dalam bukunya berjudul asy- Syakhshiyyah al Islamiyyah, Juz I, bagian pertama, hlm. 71- 72, sebagai berikut: “Segala perbuatan manusia tidak terkait dengan Qadla Allah, karena perbuatan tersebut ia lakukan atas inisiatif manusia itu sendiri dan dari ikhtiarnya. Maka semua perbuatan yang mengandung unsur kesengajaan dan kehendak manusia tidak masuk dalam Qadla’ “.
2 An-Nabhani yang dimaksud di sini bukanlah Syekh Yusuf an-Nabhani yang dikenal membolehkan tawassul, membolehkan peringatan maulid dan gigih membantah orang- orang Wahhabi.

Dalam buku yang sama ia berkata3: “Jadi menggantungkan adanya pahala sebagai balasan bagi kebaikan dan siksa sebagai balasan dari kesesatan, menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah murni perbuatan manusia itu sendiri, bukan berasal dari Allah”. Pernyataan serupa juga ia ungkapkan dalam kitabnya berjudul Nizham al Islam4.
2. Al Hasan ibn Ali -semoga Allah meridlai keduanya- berkata:  “ﻣﻦ ﻟﹶﻢ ﻳ  ﺆﻣﻦ ﺑﹺﻘﹶ ِ ﻀ ِ ﺎﺀ ﺍﷲ ﻭﹶ ﻗﺪﺭﹺﻩ ﺧﻴـﺮﹺﻩ ﻭﺷﺮﻩ ﻓﹶﻘﹶﺪ ﻛﹶﻔﹶﺮ.” “Barang siapa yang tidak beriman kepada qadla’ Allah dan qadar-Nya, yang baiknya dan yang buruknya, maka ia telah kafir”. Sebagaimana dinukil dalam Isyarat al Maram karya al Bayadli dan kitab-kitab lainnya. Imam Abu Hanifah (W. 150 H) berkata dalam al Fiqh al Akbar sebagai berikut:
3 Lihat kitab asy-Syakhshiyyah al Islamiyyah, edisi arab, Juz I, Bag. Pertama, hlm. 74 4 Kitab bernama Nizham al Islam, hlm. 22
 “ﻭﺍﹾﻟﻘﹶ ُ ﻀ  ﺎﺀ ﻭﺍﹾﻟﻘﹶﺪﺭ ﻭﺍﹾﻟﻤ  ﺸﻴﺌﹶﺔﹸ ﺻﻔﹶ َ ﺗﻌﺎﹶﻟﻰ -ﻓﻲ – ﺎﺗﻪ ﺍﻷ ﺯﻝﹺ ﺑﹺ ﹶ ﻼ ﻛﹶﻴﻒ.” Maknanya: “Qadla dan Qadar serta masyi’ah adalah sifat Allah pada azal, tanpa disifati dengan al Kayf (sifat-sifat makhluk-Nya)”. Dalam pernyataan-pernyataan ini jelas terdapat bantahan terhadap Taqiyyuddin an-Nabhani, pemimpin Hizbut Tahrir yang mengatakan dalam bukunya asy- Syakhshiyyah al Islamiyyah, Juz 1 hal. 64 : “Sesungguhnya penggunaan dua kata qadla dan qadar secara bersamaan tidak pernah dilakukan oleh seorangpun, tidak dalam al Qur’an, Hadits, perkataan para ulama, dalam bahasa Arab atau dalam perkataan para fuqaha’ kecuali setelah berakhir abad pertama, yakni setelah diterjemahkan filsafat Yunani dan munculnya para mutakallim (Ahli Kalam)”.
Kami berkata: Ini adalah bukti penyimpangan Hizbut Tahrir dari keyakinan para sahabat dan as-Salaf ash-Shalih.
3. Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah al Firqah an- Najiyah; golongan yang selamat, maka beruntunglah

orang yang berpegang teguh dengan ajaran mereka. Sementara Hizbut Tahrir mencela dan mengkritik Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tokoh mereka Taqiyyuddin an-Nabhani berkata dalam bukunya asy-Syakhshiyyah al Islamiyyah, Juz 1 h. 53 setelah menyatakan bahwa Ahlussunnah Wal Jama’ah berkata: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan hamba seluruhnya adalah atas kehendak Allah dan masyi’ah-Nya”, ia (Taqiyyuddin an-Nabhani) berkata: “Sebenarnya pendapat Ahlussunnah Wal Jama’ah dan pendapat Jabriyyah adalah sama, maka mereka (Ahlussunnah) sebenarnya adalah Jabriyyun (pengikut paham Jabriyyah)”. Kemudian ia berkata pada h. 58: “Dan yang kedua: ijbar, ini adalah pendapat Jabriyyah dan Ahlussunnah Wal Jama’ah, mereka hanya berbeda dalam ungkapan dan dalam menggunakan (bermain) kata-kata”.
Kami berkata: ini adalah penghinaan terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah dan menuduh mereka hanya merekayasa (bermain) kata-kata, serta menyamakan mereka dengan Jabriyyah. Jabriyyah adalah golongan sesat yang mengingkari bahwa seorang hamba mempunyai masyi’ah (kehendak) di bawah masyi’ah (kehendak) Allah. Dari sini jelas bahwa Hizbut Tahrir bukanlah
Ahlussunnah Wal Jama’ah, maka hendaklah kaum muslimin mewaspadai mereka.
4. Syekh Ahmad ibn Ruslan dalam az-Zubad mengatakan: “ﻭﻣ ﻋ ﺎ ﻠﹶ ﺍﹾ  ﻰ ﻹِ ٌ ﻟﻪ ﺷﻰ ﺀ ﻳ ﹺ ﺠﺐ .”
“Dan tidak ada sesuatu yang wajib bagi Allah (untuk dilakukan)”. Inilah keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tidak ada sesuatu yang wajib dilakukan oleh Allah. Allah memasukkan seorang mukmin ke surga karena rahmat- Nya, dan memasukkan orang kafir ke neraka karena keadilan-Nya. Sedangkan Hizbut Tahrir sejalan dengan Mu’tazilah -kelompok sesat-. Tokoh mereka, Taqiyyuddin an-Nabhani berkata dalam bukunya asy- Syakhshiyyah al Islamiyyah, Juz 1 h. 63 tentang Allah sebagai berikut: “Untuk melakukan perkara yang memang wajib atas Allah untuk melakukannya”.
Dan Ia berkata:

“Masuknya mereka adalah kewajiban bagi Allah yang telah Ia wajibkan atas Dzat-Nya dan Ia tentukan”.
5. Ahlussunnah Wal Jama’ah menyepakati bahwa para nabi pasti memiliki sifat jujur, amanah dan kecerdasan yang tinggi. Dari sini diketahui bahwa Allah ta’ala tidak akan memilih seseorang untuk predikat ini kecuali orang yang tidak pernah jatuh dalam perbuatan hina (Radzalah), khianat, kebodohan, kebohongan dan kebebalan. Karena itu orang yang pernah terjatuh dalam hal-hal yang tercela tersebut tidak layak untuk menjadi nabi meskipun tidak lagi mengulanginya. Para nabi juga terpelihara dari kekufuran, dosa-dosa besar juga dosa- dosa kecil yang mengandung unsur kehinaan, baik sebelum mereka menjadi nabi maupun sesudahnya. Adapun dosa-dosa kecil yang tidak mengandung unsur kehinaan bisa saja seorang nabi terjatuh ke dalamnya. Inilah pendapat kebanyakan para ulama seperti dinyatakan oleh beberapa ulama dan ini yang ditegaskan oleh al Imam Abu al Hasan al Asy’ari –semoga Allah merahmatinya–. Sementara Hizbut Tahrir menyalahi kesepakatan ini. Mereka membolehkan seorang pencuri, penggali kubur (pencuri kafan mayit), seorang homo seks atau pelaku kehinaan-kehinaan lainnya yang biasa dilakukan oleh manusia untuk menjadi nabi.

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Juni 11, 2013, in kabar terkini and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. iwan peyexiwan peyex

    Pahamilah agama ini seperti pemahaman para sahabat.

  2. SOegeng Soeprijanto

    pemahaman para sahabat nggak pernah ndukung hizbuttai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: