AL-MUSTAROK DAN DALALAHNYA

AL-MUSTAROK DAN DALALAHNYA

 

Kaidah yang kelima ini, berikut kaidah keenam dan ketujuh secara khusus akan menjelaskan tiga lafadz yang banyak ditemukan di beberapa nash syara’ dan teks undang-undang, yaitu mustarok (bermakna lebih dari satu), ‘aam dan khash, juga menjelaskan petunjuk yang mengarah pada masing-masing pada jenis tersebut jika terdapat dalam nash

Perbedaan esensial ketiga lafal itu dari segi makna adalah : musytarok, yaitu lafal yang dibentuk dengan memenuhi makna yang bermacam-macam.

Adapun al-‘aam adalah: lafal yang dibuat untuk makna yang satu. Arti satu ini bisa terealisir pada beberapa kesatuan yang banyak yang tidak bisa dihitung (dibatasi)  dalam sebuah lafadz, sekalipun menurut kenyataannya bisa dihitung (dibatasi). Seperti lafal at thalabah, menunjukan makna yang dapat diterapkan dalam satuan yang tak terbatas dan mencakup kesemuanya.

Sedangkan al-khaash adalah lafal yang dibuat untuk satu makna yang diterapkan dalam satu satuan atau satuan yang terbatasالطالب  (seorang siswa).

Jadi lafazh yang musytarok adalah lafal yang mempunyai dua arti atau lebih dengan kegunaan yang banyak yang dapat menunjukan kepda arti secara gantian. Seperti lafadz (العين) yang menurut bahasa bisa berarti mata, sumber mata air lafadz (القرء) menurut bahasa kita berarti suci dan haid.

Sebab terjadinya lafal yang musytarok menurut bahasa itu banyak sekali yang paling penting diantaranya adalah perbedaan suku dalam menggunakan satu lafal untuk makna yang berbeda-beda. Sebagian suku mengartikan al yad untuk hasta secara keseluruhan, suku lain mengartikannya  dengan lengan bawah sampai telapak tangan, sedangkan suku lain mengartikan dengan telapak tangan saja. Maka ahli bahasa menetapkan bahwa al yad dalam bahasa arab adalah lafal yang mustytarok anatara tiga makna.

Lafal al mustarok itu kadang berupa kata benda atau berupa kata kerja seperti bentuk perintah yang berarti wajib atau sunah. atau berupa huruf, seperti huruf wawu untuk athaf (kata sambung) dan untuk haal (keterangan keadaan). Jika lafal yang mushtarok yang terdapat dalam nash itu terjadi antara makna bahasa dan makna istilah syarak, maka yang harus dikehendaki adalah makna secara istilah syarak, seperti lafal (الصلاة) menurut bahasa adalah digunakan untuk arti do’a, sedangkan syara adalah bentuk ibadah.

Jika lafal yang mushtarok yang terdapat dalam nash syara’ itu terjadi antara beberap makna bahasa, maka wajib berjihad untuk menentukan makna yang dimaksud. Lafal al-quru’ dalam firman Allah swt

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءْ

Adalah musytarok antara makna suci dan makna haid. Dalam pembahasan al musykil dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah suci, dan oleh sebagian mujtahid lainya bahwa yang dimaksud adalah haid.

 

Daftar Pustaka

  • Ø Kaidah-Kaidah Hukum Islam. Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf. PT Raja Grafindo Persada.
  • Ø Ilmu Ushul Fiqh. Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf. Pustaka Amani. Jakarta

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Juni 4, 2013, in Kumpulan makalah-makalah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: