TINGKAH LAKU KEAGAMAAN

TINGKAH LAKU KEAGAMAAN

YANG MENYIMPANG

 

Dalam kehidupan sosial dikenal bentuk tata aturan yang disebut norma. Norma dalam kehidupan sosial merupakan nilai-nilai luhur yang menjad tolak ukur tingka laku sosial. Jika tingkah laku yang diperlihatkan sesuai dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku tersebut dinilai baik dan diterima. Sebaliknya, jika tingkah laku tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku dimaksud dinilai buruk dan di tolak.

Tingkah laku yang menyalahi norma yang berlaku ini disebut dengan tingkah laku yang menyimpang. Penyimpangan tingkah laku ini dalam kehidupan banyak terjadi, sehingga sering menimbulkan keresahan masyarakat. Kasus-kasus penyimpangan tingkah laku seperti itu tak jarang pula berlaku pada kehidupan manusia sebagai individu ataupun kehidupan sebagai kelompok masyarakat. Dan dalam kehidupan masyarakat beragama penyimpangan yang demikian itu sering terlihat dalam bentuk tingkah laku keagamaan yang menyimpang.

Prof. Dr. Kasmiran Wuryo M.A. membagi norma sebagai tolak ukur tingkah laku dilihat dari penduduknya, menjadi beberapa acam, antara lain; norma pribadi, norma group (kelompok), norma masyarakat, norma susila, dan sebagainya (Kasmiran Wuryo, 1983: 46-47). Dengan demikian, norma keagamaan merupakan salah satu bentuk norma yang menjadi tolak ukur tingkah laku keagamaan seseorang, kelompok atau masyarakat yang mendasarkan nilai-nilai luhurnya pada ajaran agama. Mengingat pembentukan norma melalui proses yang cukup panjang, bagaimanapun sulit untuk mengetahui secara tepat sumber nilai-nilai luhur yang sebenarnya dari suatu norma yang berlaku di masyarakat. Tetapi menurut Kasmiran, menurut sifat dan sumbernya norma itu dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu tradisional dan norma formal. (Kasmiran, 1982: 48).

Mengacu kepada pernyataan tersebut terlihat bahwa baik norma tradisional maupun norma formal bersumber dari niali-nilai luhur yang diperkirakan dapat dijadikan tolok ukur tinkah laku. dalam masyarakat beragama, walaupun secara tegas sulit untuk diteliti, namun diyakini norma-norma yang berlaku dalam kehidupan tak mungkin lepas dari nilai-nilai luhur agama yang mereka anut. karena itu, dalam kondisi yang diketahui dan dibedakan dari norma-norma yang berlaku.

 

  1. A.    Aliran Klenik

Klenik dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan akan hal-hal yang mengandung rahasia dan tidak masuk akal (KBRI, 1989:409). Dalam kehidupan masyarakat, umumnya klenik ini erat kaitanya dengan praktik perdukunan, hingga sering dikatakan dukun klinik. Dalam kegiatanya dukun ini melakukan pengobatan dengan bantuan guna-guna atau kekuatan gaib lainya.

Salah satu aspek dari ajaran agama adalah percaya terhadap kekuatan gaib. Bagi penganut agama masalah yang berkaitan dengan hal-hal yang gaib ini umumnya diterima sebagai suatu bentuk keyakian yang lebih bersifat emosinal, ketimbang rasional. Sisi-sisi yang menyangkut kepercayaan terhadap hal-hal gaib ini tentunya tida memiliki batas dan indikator yang jelas, karena semuanya bersifat emosional dan cenderung berada di luar jangkauan nalar. Karna itu tak jarang dimanipulasi dalam bentu kemasan yang dihubungkan dengan kepentingan tertentu. Manipulasi melalui kepercayaan agama lebih diterima oleh masyarakat, sebab agama erat dengan sesuatu yang sakral.

Dalam kenyataan di masyarakat praktik yang bersifat klenik memiliki karakteristik yang hampir sama, yaitu:

  1. Pelakunya menokohkan diri selalu orang suci dan umumnya tidak memiliki latar belakang yang jelas (asing).
  2. Mendakwahkan diri memiliki kemampuan luar biasa dalam masalah yang berhubungan dengan hal-hal gaib.
  3. Menggunkan ajaran agama sebagai alat untuk menarik kepercayaan masyarakat
    1. Kebenaran ajarannya tidak dapat dibuktikan secara rasional
    2. Memiliki tujuan tertentu yang cenderung merugikan masyarakat

Di saat-saat seperti itu pula, mereka menjadi sanagat sugesti (mudah menerima sugesti). Oleh karena umumnya dalam kondisi yang putus asa seperti itu, praktik kebatinan seperti aliran klenik dianggap dapat menjanjikan dan merupakan tempat pelarian dalam mengatasi kemelut bati mereka.

 

  1. B.     Konversi Agama

Konversi agama (lerigius conversion) secara umum dapat diartikan dengan perubahan agama ataupun masuk agama. Untuk memberikan gambaran yang lebih mengena tentang maksud kata-kata tersebut perlu dijelaskan melalui uraian yang dilatarbelakangi oleh pengertian secara etimologis. Dengan pengertian berdasarkan asal kata tergambar ungkapan kata itu secara jelas.

  1. Pengertian Konversi Agama
    1. Pengertian konversi agama menurut etimologi konversi berasal dari kata lain “Conversio” yang berarti: Tobat, pindah, dan berubah (agama). Selanjutnya kata tersebut dipakai dalam kata Inggris (Conversion yang mengandung pengertian: berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from one religion, to another).
    2. Pengertian konversi agama menurut terminologi. menurut pengertian ini dikemukakan beberapa pendapat tentang pengertian konversi agama antara laian:

–          Max Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang masuk atau pindah ke suatu sistem kepercayaan atau keperluan yang berlawanan dengan kepercayaan sebelimnya.

Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berada. Salain itu, konversi agama yang dimaksudkan uraian di atas memuat beberapa pengertian dengan ciri-ciri

  1. Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Konversi Agama

Berbagai ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi. William James dalam bhukunya The Varieties of Religious Experience dan Max Heirich dalam bukunya Change of Heart banyak, menguraikan faktor yang mendorong terjadinya konversi agama tersebut.

Dalam buku tersebut diuraikan pendapat dari para ahli yang terlibat disiplin ilmu, masing-masing mengemukakan pendapat bahwa konversi agama disebabkan faktor yang cenderung didominasi oleh lapangan ilmu yang mereka tekuni.

  1. Para ahli agama menyatakan, bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supernatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok
  2. Para ahli sosiologi berpendapat, bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial. pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:
  1. Pengaruh hubungan anat pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun nonagama (kesenian, ilmu pengetahuan ataupun bidang kebudayaan yang lain).
  2. Pengaruh kebiasaan yang rutin

Pengaruh ini dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk berubah kepercayaan jika dilakukan secara rutin hingga terbiasa, misalnya: menghadiri upacara keagamaan, ataupun pertemuan-pertemuan yang bersifat keagamaan baik pada lembaga formal, ataupun non-formal

  1. Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat misalnya: karib, keluarga, famili, dan sebagainya
  2. Pengaruh pemimpin keagamaan.

Hubungan yang terbaik dengan pemimpin agama merupakan salah-satu faktor pendorong konversi agama.

  1. Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi

Perkumpulan yang diaksudkan seseorang berdasarkanhobiya dapat pula menjadi pendorong terjadinya konversi agama.

  1. Pengaruh kekuasaan pemimpin

Yang dimaksud di sini adalah pengaruh kekuasaan pemimpin berdasarkan kekuatan hukum. Masyarakat umumnya cenderung menganut agama yang dianut oleh kepala negara atau raja mereka (Cuius regio illius est religios)

  1. Para ahli psikologi nerpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama adalah faktor psikologi yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun ektern. Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, dalam kondisi jiwa yang demikian itu secara psikologis kehidupan batin seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga mencari perlindungan ke kekuatan lain yang mampu memberikan kehidupan jiwa yang terang dan tentram
  2. Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konversi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan argumentasi, bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama. Walaupun belum dapat dikumpulkan data secara pasti tentang pengaruh lembaga pendidikan bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.

Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Proses konversi agama ini dapat diumpamakan seperti proses pemugaran sebuah gedung, bangunan lain dibongkar dan pada tempat. yang sama bangunan baru yang lain sama sekali dari bangunan sebelumnya.

M.T.L. Penido berpendapat, bahwa konversi agama mengandung dua unsur yaitu:

  1. Unsur dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesalahan untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang diambil seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi. proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang beraksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengan proses tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.
  2. Unsur dari luar (exogenos arigin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok, sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. kekuatan yang datang dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya terhadap kesadaran, mungkin berupa tekanan batin, sehingga memberikan penyelesaian oleh yang bersangkutan.

 

  1. C.    Konflik Agama

Penyimpangan di sebabkan oleh adanya sebab yang melatarbelakangi:

  1. Pengetahuan agama yang dangkal

Ajaran agama berisi nilai-nilai ajaran moral yang berkaitan dengan pembentukan sifat-sifat yang luhur. namun demikian, tidak semua penganut agama dapat menyerap secara utuh ajaran agamanya. kelompok seperti ini biasanya dikenal sebagai masyarakat awam. Dalam keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya, terjadang mereka memerlukan inforasi tambahan yang dimilikinya, terkadang mereka memerlukan informasi tambahan dari orang lain yang dianggap lebih menguasai permasalahan agama.

  1. Fanatime

Agama sebagai keyakinan pada hakikatnya merupakan pilihan pribadi dari pemeluknya. pilihan itu tentunya didasarkan pada penilaian, bahwa agama yang dianutnya adalah yang terbaik. sebagai pilihan terbaik, maka akan timbul rasa cinta dan sayang terhadap anutanya.

  1. Agama sebagai doktrin

Ada kecenderungan di masyarakat, bahwa agama dipahami sebagai doktrin yang bersifat normatif. pemahaman demikian menjadi ajaran agama sebagai ajaran yang kaku. Muatan ajaran agama menjadi sempit hanya berkisar pada masalah imam-kafir, pahala-dosa, halal-haram, dan sorga dan neraka. Permasalahan lain di luar seakan bukan hanya wilayah yang dapat dimasukkan sebagai masalah agama

  1. Simbol-simbol

Dalam kajian antropologi, agama ditandai keyakinan terhadap sesuatu yang bersifat adikordrati (supernatural), ajaran, penyampaian ajaran, lakon ritual, orang-orang suci, temapt-tempat suci dan benda-benda suci. Walaupun agama macam-macam, namun komponen itu didapati disemua agama, dengan demikian, selain merupakan keyakinan, agama juga mengandung simbol-simbol yang oleh penganutnya dinilai sebagai sesuatu yang suci yang perlu dipertahankan.

  1. Tokoh agama

Tokoh agama menempati fungsi dan memiliki peran sentral dalam masyarakatnya. sebagai tokoh, ia dianggap menempatio kedudukan yang tinggi dan dihormati oleh masyarakat pendukungnya. dalam posisi seperti itu, maka perkataan yang berkaitan dengan masalah lazimnya menempati kedudukan sebagai pemimpin karismatis.

  1. Sejarah

Sejarah sebagai kejadian dan peristiwa masa laku, sebenarnya menyangkut berbagai aspek kehidupan. sejarah dapat menyangkut aspek politik, hukum, budaya, seni, ekonomi, ideologi, iptek dan sebagainya.

 

 

  1. Berebut surga

Setiap agama mengajarkan kepercayaan akan adanya kehidupan abadi setelah berakhiranya kehidupan duniawi. kehidupan akhirat itu dalam dua versi : pertama, versi yang berkaitan dengan perilaku yang bertentangan dengan nilai ajaran. para perilaku digolongkan sebagai “Pendosa” yang dijanjikan sebagai penghuni neraka.

Kedua, yaitu surga yang diimforasikan sebagai tempat kenikmatan yang abadi.

 

  1. D.    Terotisme dan Agama

Terotisme berasal dari kata teror, yang secara etimologi mencakup arti:

  1. Perbuatan (pemerintah dan sebagainya) yang sewenang-wenang (kejam, bengis dan sebagainya)
  2. Usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. sedangkan terorisme berarti penggunaan kekerasan atau menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan, terutama tujuan politik (kamus Bahasa Indonesia, 1990:939). jadi, terorisme mungkin dilakukan oleh siapa saja, baik pemerintah, golongan atau perorangan.

 

  1. E.     Fatalisme

Secara psikologi, ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi munculnya fatalisme, yakni:

  1. Pemahaman yang keliru

Nilai-nilai ajaran agama uleh setiap penganutnya memang diyakini sebagai ajaran yang bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui utusa-Nya, yakni rasul. secara redaksional materi ajaran tersebut termuat dalam kitab suci dan Risalah rasul, yang pemahamanya harus dimaksudkan sesuai dengan pesan mauun pedoman yang termuat di dalam pemerintah-Nya. Namun, mengingat kurun waktu penyaampaian langsung ajaran tersebut hanya diterima oleh umat terdahulu atau generasi awal, maka umat generasi berikutnya harus puas menerima ajaran tersebut melalui perantara tokoh dan agamawan.

  1. Otoritas agamawan

Dalam komunitas agama selalu ada pemimpin agama atau agamawan yang jadi panutan masyarakat pemeluknya. umumnya reputasi ketokohan dari si pemimpin agama itu lebih ditentukan oleh kualitas pendukungnya. bukan di dasarkan oleh kualitas keberagamaan. Makin banyak jumlah jamaan yang mendukungnya, maka akan kian tinggi populitasnya pemimpin agama tersebut. Sebaliknya, reputasi seorang agamawan akan meredup bila pengikutnya sedikit atau tidak memiliki jamaah sama sekali.

 

Daftar Pustaka

 

–          Abdul Kadir, Muhammad Mahmud. Biologi Iman, terj. Rusdji Malik. Jakarta-Padang, Al-Hidayah, 1982

–          Abdullah, Taufiq. Agama Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, Jakarta: LP3ES, 1986

 

 

 

TINGKAH  LAKU KEAGAMAAN

YANG MENYIMPANG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

  1. Moh. Burhanuddin
  2. Agus Fahruddin Arrozi
  3. Mahfudho

 

 

Dosen Pembimbing:

Drs. Hanifuddin

 

 

 

 

INSTITUT KEISLAMAN HASYIM ASY’ARY

IKAHA TEBUIRENG

PERIODE 2008

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Mei 23, 2013, in Kumpulan makalah-makalah and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: