TAFSIR RIWAYAT

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Semenjak al-qur’an diturunkan di masa kerasulan sudah terdapat penafsiran akan ayat-ayat ahkam. Tetapi pada masa itu Rasulullah sendirilah yang menafsirkan al-qur’an selain beliau harus menyampaikan kepada umat. Tafsir semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dahulu penafsiran al-qur’an yang dilakukan oleh para sahabat setelah wafatnya Rasulullah SAW dengan cara mendalami kitabullah sehingga mereka mengetahui berbagai rahasia tersirat darinya dan yang telah menerima tuntunan serta petunjuk dari Rasulullah SAW. Penafsiran al-qur’an yang dilakukan oleh sahabat memiliki validitas penafsiran yang dapat di pertanggung jawabkan dan memiliki  legitimasi tinggi dari Rasululllah hingga beliau mendoakan Abdullah ibn abbas yang menjadi ahli tafsir saat itu. Bukti otentik lain adalah legitimasi ulama dari kaum tabi’in  diberbagai daerah islam yang pada akhirnya memunculkan kelompok-kelompok ahli tafsir di Mekkah, di Madinah, dan di Iraq.

Ilmu yang dibahas dalam al-qur’an sangatlah luas termasuk pada icon-icon  yang berhubungan dengan al-qur’an, salah satunya adalah metode penafsiran. Metode penafsiran semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dewasa ini muncul metode-metode baru dalam penafsiran al-qur’an, salah satunya metode hermeunetika, yaitu; metode panfsiran al-qur’an dengan memperhatikan teks, konteks, dan kontekstualitas. Hal ini hermeunetika membahas tentang permasalahan yang kompleks yang terjalin di sekitar watak dasar teks dan hubungannya dengan al-turats di satu sisi, serta hubungan teks di sisi lain. Tetapi metode ini di tentang oleh sebagian ulama karena dianggap berbahaya.

Pembahasan tafsir al-Qur’an dapat digunakan untuk mengungkap berbagai misteri yang terdapat didalamnya. Dengan memahami kandungan al-qur’an maka kita akan memiliki pengetahuan yang luas pula dalam berbagai hal. Karena keinginan untuk mengungkap misteri itulah, yang menyebabkan metode penafsiran yang berbeda-beda. Metode-metode itu secara garis besar terbagi atas tahlily, ijmaly, muqaran, dan maudul. Tetapi pada pembahasan yang lebih mendalam tentang masing-masing metode, metode tahlily merupakan pembahasan yang meluas karena metode ini menjelaskan kandungan ayat-ayat al-qur’an dari seluruh aspeknya. Dari uraian diatas metode tahlily dapat dibedakan atas ; tafsir bil-ma’tsur, tafsir bil-ra’yi, tafsir al-syufi, tafsir al-fiqhi, tafsir alfalsafi, tafsir al-‘ilmi, tafsir al-adabi al-ijtima’i. Agar tidak terjadi kesalahan dalam menafsirkan al-qur’an maka perlu dipaparkan metode-metode penafsiran al-qur’an beserta pembahasan yang berhubungan dengannya. Bercermin dari kenyataan saat ini bahwa ada sebagian mufassir yang menafsirkan al-qur’an sesuka hatinya tanpa memeperhatikan syarat-syarat mufassir. Maka dari itu makalah ini dibuat guna menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan penafsiran al-qur’an dan bagaimana menjadi seorang mufassir yang baik.

1.2  Rumusan Masalah

Permasalahan yang harus dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Apa pengertian tafsir riwayat, tafsir diroyat, tafsir isyaroh ?
  2. Bagaimana pendapat ulama tentang ketiga metode penafsiran ayat ahkam ini ?
  3. Apa macam tafsir riwayat ?
  4. Apa syarat tafsir isyaroh ?
  5. Sebutkan contoh dari masing-masing pembagian tafsir ?

1.3  Tujuan Penulisan

TujuanPenulisanmakalahiniadalah :

  1. Untukmengetahuimaknariwayat, diroyatdanisyroh.
  2. Untukmemahamimetodepenafsiran Al-Qur’an.
  3. Untukmengetahuitokoh-tokoh yang bergerakdalamtafsir Al-Qur’an dankitabapasajakah yang sudahditerbitkanberkenaandenganilmutafsir.

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Tafsir Riwayat

2.1.1 Pengertian Tafsir Riwayat

Tafsir secara bahasa adalah menafsirkan yang berarti membuka dan atau penjelasan. Tafsir menurut istilah ilmu yang membahas  kalam dengan lafadz-lafadz al-qur’an dan dalil-dalinya serta hukum-hukum ifrodiah dan tarkibiah beserta makna-makna yang terkandung didalamnya.[1] Sedangkan riwayat berarti menyandarkan pada al-qur’an, al-hadist, dan perkataan sahabat (atsar). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tafsir riwayat adalah penafsiran  yang didasarkan pada al-qur’an, hadist, dan atsar (perkataan sahabat). Dengan demikian maka metode penafsiran dengan tafsir riwayat ini yaitu :

  1. Tafsir Al-qur’an dengan al-qur’an
  2. Tafsir Al-qur’an dengan Sunah
  3. Tafsir Al-qur’an menurut atsar.

Tafsir riwayat ini juga disebut dengan tafsir bil-ma’tsur. Tafsir riwayat ini memiliki legitimasi dari beberapa kalangan ulama dari tabi’in. Buktinya, mereka menerima baik penafsiran para sahabat tersebut dan tersebar diberbagai daerah islam sehingga muncul ahli tafsir di Mekah, Madinah, dan Iraq. Seperti telah dijelaskan diatas, bahwa tafsir riwayat ini berdasar pada al-qur’an dan al-hadist maka para mufassir dalam menempuh metode ini harus dengan teliti menafsirkan ayat-ayat ahkam. Ketelitian itu dapat dimanifesttasikan dengan menelusuri lebih dulu asar-asar yang ada mengenai makna ayat kemudian asar tersebut dikemukakan sebagai tafsir ayat bersangkutan. Selain itu mufasir harus mengetahui validitas ayat yang ditafsirakan, apakah ayat tersebut mutawatir atau bukan. Dalam hal ini para mufassir tidak boleh melakukan ijtihad tanpa memiliki dasar yang otentik. Al-qur’an merupakan kalam Allah yang sudah barang tentu dijaga kesahihannya, selain itu al-qur’an  juga diturunkan besama penjelasannya, jadi keberadaan al-qur’an sebagai dasar penafsiran ini sudah barang tentu benar. Sebagaimana pekataan Ibnu Taimiah : Kita wajib yakin bahwa nabi telah menjelaskan kepada para sahabat makna-makna Qur’an sebagaimana telah menjelaskan kepada mereka lafadz-lafdznya.[2]  Tafsir terbaik dengan metode ini adalah tafsir Ibnu Jarir At-thabari didalam Jaami’ul Bayan Fi Tafsiiril Qur’an. Tafsir yang agak mendekati tafsir at-thabari adalah tafsir Ibnu katsir[3] atau bahkan lebih baik dari At-Thabari.

2.1.2 Kelemahan Tafsir Riwayat

Tafsir riwayat merupakan tafsir yang mamiliki validitas tinggi seperti pejelasan diawla tadi. Tetapi meski demikian sesempurna apapun hal itu pasti ada kekurangan pula didalamnya. Sama halnya dengan tafsir riwayat ini. Metode tafsir ini memiliki beberapa kelemahan yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah :

  1. Campur baur antara yang shahih dengan yang tidak shahih, serta banyak mengutip kata-kata yang di nisbatkan kepada sahabat atau tabi’in tanpa memiliki sandaran dan ketentuan.
  2. Riwayat-riwayat tersebut ada yang dipengaruhi oleh cerita-cerita israiliyat dan khurafat (klinik) yang bertentangan dengan akidah islamiah.
  3. Adanya golongan ekstrim dikalangan sahabat.
  4. Munculnya orang-orang zindiq yang berusaha mengecoh sahabat dan tabi’in  sebagaimana mereka mengecoh nabi SAW perihal sabdanya.

2.1.3 Ikhtilaf  Ulama’ Perihal Penggunaan Tafsir Riwayat

Dalam penggunaan tafsir ini sebagai metode panafsiran ayat-ayat ahkam terdapat beberapa pendapat ulama, sebagian dari mereka mengatakan boleh dan sebagiannya lagi mengatakan tidak. Tapi pada tafsir riwayat ini yang diperdebatkan ulama’ adalah masalah penafsiran lafadznya. Perdebatan di kalangan ulama’ pada umumnya hanya berkonotasi variatif, bukan kontradiktif.[4] Jadi perbedaan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua macam :

  1. Seorang mufassir mengungkapkan redaksi yang berbeda dari mufassir lain dan makna masing-masing redaksi itu berbeda tetapi memiliki maksud yang sama. Misal penafsiran kata as-sirat al-mustaqim. Sebagian ulama’ menafsirkan dengan al-qur’an dan sebagian lain menafsirkan dengan islam.
  2. Masing-masing mufassir menafsirkan kata-kata yang bersifat umum dengan menyebutkan sebagian makna. Misal : kata “sabiq” dalam surat fatir : 32 ialah orang yang menunaikan salat di awal waktu, sedangkan muqtsid adalah yang melakukan shalat ditengah waktu, sedang zalim adalah orang yang mengakhirkan salat asar sampai saat langit berwarna kekuning-kuningan. Mufassr lain mengatakan , sabiq adalah orang yang berbuat baik yang bersedekah disamping zakat, muqtasid adalah orang yang hanya menunaikan zakat wajib saja, dan zalim adalah yang enggan membayar zakat.[5]

2.1.4Status Tafsir Riwayat

Tafsir bil-ma’tsur adalah tafsir yang harus didikuti dan dipedomani karena ia adalah jalan pengetahuan yang benar dan merupakan jalan paling aman untuk menjaga diri dari ketergelinciran dan kesesatan dalam memahami kitabullah.Di riwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa tafsir itu ada empat macam ; tafsir yang dapat diketahui orang Arab melalui bahasa mereka, tafsir yang harus diketahui oleh setiap orang, tafsir yang hanya bias diketahui para ulama dan tafsir yang samasekali tidak mungkin dikethaui oleh siapa pun selain Allah.[6] Dari Ibnu Jarir at-Tabari mengatakan bahwa berdasarkan penjelasan Allah SWT, nyatalah bahwa di antara kandungan Al-Qur’an yang diturunkan Allah, kepada Nabinya terdapat ayat-ayat yang tidak dapat diketahui ta’wilnya kecuali dengan penjelasan Rasulullah. Misalnya ta’wil tentang semua ayat yang mengandung macam-macam perintah wajib, anjuran (nadb) dan himbauan (irsyad), larangan, fungsi-fungsi hak, hokum-hukum, batas kewajiban, kadar keharusan bagi sebagian makhluk terhadap sebagian lain dan hokum-hukum lain yang terkandung dalam ayat-ayat Qur’an yang tidak dapat diketahui kecuali dengan penjelasan Rasulullah kepada umatnya. Adapulahal-hal yang tidakdapatdiketahuita’wilnyakecualioleh Allah SWT.Misalnyaberitatentangterjadinyasuatuperistiwadanwaktu-waktu yang akandatang.

2.2.1 Definisi Tafsir Bi Al-Ra’yi (Tafsir Dirayah / Tafsir Akli)

Tafsir Bi Al-Ra’yi yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan kekuatan penalaran dan unsur-unsur keilmuan yang berkembang didunia Islam yang memang berkaitan dengan teks serta isyarat-isyarat ilmiah yang datang dari Al-Qur’an sendiri.

Rasioadalah antonim (lawan) nash dan riwayat. Oleh karena itu, dinamakan dengan tafsir bid-dirayah, (dengan rasio) sebagai antitesis tafsir-tafsir bir-riwayah (dengan riwayat). Al-Bhaihaqi meriwayatkan dalam asy-Sya’ab dari Imam Malik, beliau berkata bahwa “ jika ada seseorang yang tidak mengetahui ilmu bahasa arab, kemudian ia menafsirkan kitab Allah maka datanglah ia kepadaku, niscaya akan aku hajar dia.”

Setelah berakhir masa salaf sekitar abad ke-13 H dan peradaban Islam semakin maju dan berkembang berbagai mazhab dan aliran dikalangan umat Islam, masing-masing golongan berusaha meyakinkan umat dalam rangka mengembangkan paham mereka. Untuk mencapai maksud itu, mereka mencari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi saw, lalu mereka menafsirkan sesuai dengan keyakinan mereka. Inilahfaktorberkembangnya tafsir bi al-ra’y (tafsir melalui pemikiran atau ijtihad).Para intelektualmuslimmenafsirkan al-qur’andaribeberapasudutpandang, diantaranya :

  1. Kaum fuqaha menafsirkannya denganmengacupadahukumfiqhseperti yang dilakukan oleh Al-Jashshash, al-Qurtubi, dan lain-lain.
  2. Kaum teolog menafsirkannya dari sudut pemahaman teologis seperti al-Kasysyaf, karangan al-Zamakhsyari
  3. Kaum sufi juga menafsirkan Al-qur’an menurut pemahaman dan pengalaman batin mereka seperti Tafsir al-Qur’an al-Azhim oleh al-Tustari, Futuhat Makiyyat, oleh Ibn ‘Arabi dan lain-lain.

Selain itu dalam bidang bahasa dan qiraat juga lahir tafsir, seperti Tasir Abi al-Su’ud oleh Abu al-Su’ud, al-Bahr al-Muhith oleh Abu Hayyan ; dan lain-lain. Dari sinilah mengapa tafsir begitu banyak, karena begitu banyak sudut pandang menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yu dikalangan ulama-ulama muta’akhirin; sehingga tak heran jika sekarang lahir lagi tafsir menurut tinjauan sosiologis dan sastra Arab seperti Tafsir Al-manar ; dan dalam bidang sains muncul pula karya Jawahir Thanthawi dengan Tafsir al-Jawahir. Dari statemendiatassesuaidenganperkataanManna’ al-Qaththan ;tafsir bi al-ra’yu telah mengalahkan perkembangan tafsir al-ma’tsur.

2.2.2 Pendapat Para Ulama Tentang Tafsir Bi AlRa’yi

Meskipun tafsir bi-al-ra’yu berkembang dengan pesat, namun dalam menerimanya para ulama terbagi menjadi dua : ada yang membolehkan dan ada pula yang mengharamkannya. Tapi setelah diteliti, ternyata kedua pendapat ini hanyalah bertentangan dari segi lafzhi saja (Redaksional). Maksudnya kedua pihak sama-sama mencela penafsiran yang berdasarkan ra’yu (pemikiran) semata (hawa nafsu) tanpa memandang / mengindahkan kaidah-kaidah dan kriteria-kriteria yang berlaku. Penafsiran inilah yang di haramkan oleh Ibnu Taimiyyah. Sebaliknya, keduanya sepakat membolehkan penafsiran Al-Qur’an dengan ijtihad berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasul serta kaidah-kaidah yang mu’tabarat.

Adapun hadist-hadist yang menyatakan bahwa para ulama salaf lebih suka diam daripada menafsirkan Al-Qur’an, sebagaimana ditulis Ibn Taimiyyah : “Mereka senantiasa membicarakan apa-apa yang mereka ketahui dan mereka diam pada hal-hal yang tidak mereka ketahui. Inilah kewajiban setiap orang (lanjutnya), ia harus diam kalau tidak tahu, dan sebaliknya harus menjawab jika ditanya trentang sesuatu yang diketahuinya. Pendapat Ibn Taymiyyat ini ada benarnya karena didukung oleh Al-Qur’an antara lain terdapat di dalam surat Ali ‘Imran :

لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَتَكْتُمُونَهُ { ســـــورة ءال عمران : 187}

(Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada menusia dan tidak menyembunyikannya)

Dan dipertegas lagi oleh hadist yang shahih dari Ibn ‘umar :

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِلِجَامِ مِنَ النَّارِ.

Barang siapa ditanya tentang sesuatu yang diketahuinya, lalu ia diam, maka ia akan dikekang pada hari kiamat dengan kekang api neraka.

Jadi diamnya ulama salaf dari penafsiran suatu ayat bukan karena tidk mau menafsirkan dan bukan pula karena dilarang menafsirkan, melainkan karena kesanghati-hatian mereka supaya tidak masuk ke dalam apa yang disebut dengan takhmin (perkiraan, spekulasi) dalam menafsirkan Al-Qur’an apabila ini terjadi, ancamannya amat berat : masuk neraka, sebagaimana yang dimaksud oleh hadist riwayat al-Tirmidzi.

Untuk menghindar terjadinya spekulasi dalam penafsiran, maka para ulama tafsir menetapkan sejumlah kaidah dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang mufasir serta metode penafsiran yang harus dikuasinya. Secara gamblang metodelogi penafsiran adalah

Jadi jelaslah, secara garis besar perkembangan tafsir sejak dulu sampai sekarang adalah melalui dua jalur, yaitu al-ma’tsur (melalui riwayat) dan al-ra’yu (melalui pemikiran atau ijtihad). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ‘ma’tsur dan ‘ra’y merupakan bentuk atau jenis tafsir, bukan metode atau corak tafsir.

2.2.3 Status Tafsir Bi Al-Ra’yi

Keberadaantafsirbil-ra’yiinitidakdisetujuiolehparasahabatdantabi’in, karenapenafsiranAl-Qur’an dengan menggunakan akal dan ijtihad tanpa menggunakan sumber dari Rasulullah SAW makaitudianggap dhaif (lemah).[7]Dan penafsiran Al-qur’andenganmetodeinijugaharusberdasarpadasyari’atdanketentuan yang telahditetapkan, karenamengikutisesuatu yang tidakdisyari’atkanadalahlarangan. Sebagaimana Firman Allah :

{وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ…….الأية}

Janganlah mengikuti apa yang kamu tidak ilmu padanya(Al-Isra : 36)

Dan sabda Rasulullah saw :

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : {مَنْ قَالَ فِي اْلقُرْانِ بِرَأْيِهِأَوْ بِمَا لَا يَعْلَمْ فَلْيَتَبَؤْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ}أخرجه أبو داود،الترمذيوالنسائ ، وقال الترمذي : هذا حسن

“Barang siapa yang menafsirkan al-qur’an dengan akalnya atau dengan apa yang ia tidak tahu maka akan tempatnya dineraka”. Para ulama salaf tidak membenarkan pula penafsirandenganmetodeiniitu menafsirkan, yang mereka tidak mempunyai standarisasi keilmuan para mufassirin dalam hal menafsirkan Al-Qur’an.

2.2.4 Macam-Macam Tafsir Bi Al Ra’yi

Tafsir Bi Al Ra’yi terbagi menjadi 2 macam :

 Tafsir Bi Al Ra’yi Al – Jaiz ( Mahmud)

 Tafsir Bi Al Ra’yi Al – Jaiz (Mazmum)

Sebagaimana yang kita bahwa Tafsir Bi Al Ra’yi menafsirkan Al-Qur’an dengan penalaran dan unsur – unsur keilmuan didunia islam atau dengan kata lain seorang mufassir harus memenuhi kriteria keilmuan, seperti : Bahasa Arab, Nahwu, shorof, Balaghoh, usul fiqh, tauhid, asbabun nuzul, sejarah, naasikh mansukh, hadist-hadist penjelas ayat-ayat Al-Qur’an, fakih dan terakhir ilmu pemberian dari Allah SWT

Mereka juga mensyaratkan kebersihan hati dari penyakit kibr, hawa nafsu, bid’ah, cinta dunia dan senang melakukan dosa. Ini semua adalah yang menghalangi hatinya untuk mencapai pengetahuan yang benar yang diturunkan oleh Allah SWT. Hal ini seperti firman Allah SWT :

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alas an yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku….”(al-A’raf : 146)

Tafsir Bi Al Ra’yi Al – Jaiz ( Mahmud) yaitu apabila penasfsirannya itu sesuai kaidah yang ada jauh dari segala kebodohan dan kesesatan maka tafsir ini mahmud jika tidak maka tercela (mazmum).

Tafsir Bi Al Ra’yi wajib memperhatikan dan berpegang apa yang dibawa nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya supaya dapat menerangi pemikiran mufassir dengan akalnya, harus bagi seorang mufassir mengetahui kaidah-kaidah lughoh dan mengetahui uslub-uslubnya (manhaj)

2.3.1. Pengertian Tafsir Isyari

Tafsir bil-isyarah atau tafsirul isyari adalah takwil Al Quran berbeda dengan lahirnya lafal atau ayat, karena isyarat-isyarat yang sangat rahasia yang hanya diketahui oleh sebagian ulul ‘ilmi yang telah diberi cahaya oleh Allah swt dengan ilham-Nya. Atau dengan kata lain, dalam tafsirul isyari seorang Mufassir akan melihat makna lain selain makna zhahir yang terkandung dalam Al Qur’an. Namun, makna lain itu tidak tampak oleh setiap orang, kecuali orang-orang yang telah dibukakan hatinya oleh Allah swt[8]

Tafsir Isyari menurut Imam Ghazali adalah usaha mentakwilkan ayat-ayat Alquran bukan dengan makna zahirnya malainkan dengan suara hati nurani, setelah sebelumnya menafsirkan makna zahir dari ayat yang dimaksud.

Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya Al Qur’an itu mengandung banyak ancaman dan janji, meliputi yang lahir dan bathin. Tidak pernah terkuras keajaibannya, dan tak terjangkau puncaknya. Barangsiapa yang memasukinya dengan hati-hati akan selamat. Namun barangsiapa yang memasukinya dengan ceroboh, akan jatuh dan tersesat. Ia memuat beberapa khabar dan perumpamaan, tentang halal dan haram, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, zhahir dan batin. Zhahirnya adalah bacaan, sedang bathinnya adalah takwil. Tanyakan ia pada ulama, jangan bertanya kepada orang bodoh

Menurut kaum sufi setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin. Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan yang batin adalah isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur’an inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan pengetahuan gaib yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari.

2.3.2. Ikhtilaf Ulama mengenai Tafsir Isyarah

Hukum Tafsir bil-isyarah: Para ulama berselisih pendapat dalam menghukumi tafsir isyari, sebagian mereka ada yang memperbolehkan (dengan syarat), dan sebagian lainnya melarangnya .Imam Az-Zarqani memberi penjelasan tentang tafsir isyari dengan mengatakan:

تأويل القران بغير ظاهره لاشارة خفية تظهر لارباب السلوك والتصرف ويمكن الجمع بينهما وبين الظاهر

Artinya: ”Penafsiran Alquran yang berlainan menurut zahir ayatnya, karena ada petunjuk yang tersirat, hanya diketahui oleh orang-orang yang terlatih jiwanya dan berbudi luhur, yang karenanya mereka bisa menggabungkan antara arti tersirat dengan maksud yang tersurat.

Tafsir semacam ini tidak dapat diperoleh dengan usaha pembahasan dan pemikiran, tetapi ia merupakan ilmu laduni, yaitu ilmu yang diberikan kepada seseorang akibat dari ketakwaannya kepada Allah Swt.  Sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Alquran yang artinya: ”Dan bertaqwalah kepada Allah; Allah mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”[9]

Dalam menghadapi tafsir isyari ini, para ulama berbeda pendapat. Ada yang membenarkan dan bahkan menganggapnya sebagai kesempurnaan iman serta kema’rifatan seseorang, tetapi ada juga yang tidak membenarkannya, bahkan menuduhnya sebagai penyelewengan dari ajaran-ajaran Allah Swt yang sebenarnya.

Ulama yang membenarkan tafsir isyari berlandaskan Hadis riwayat Bukhari, dimana Ibnu Abbas memahami ayat:

اذا جـاء نصر الله والفتح (النصر: 1)

Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan[10]. Bahwa ayat tersebut menunjukkan isyarat dekatnya ajal Nabi Saw.

Selanjutnya Ibn Abbas sebagaimana ditulis oleh As-Suyuti menegaskan bahwa Alquran itu mengandung berbagai budaya dab ilmu, yang lahir maupun yang batin, keajaibannya tidak akan habis dan puncak tujuannya tidak akan terjangkau. Barang siapa yang menyelami dengan penuh kelembutan niscaya akan selamat, dan barang siapa yang menyelami dengan radikal niscaya adakan terjerumus, ia mengandung berita dan perumpamaan, halal dan haram, nasikh dan mansukh, muhkan dan mutasyabih yang lahir dan yang batin, secara lahir berupa bacaan dan secara batin berupa ta’wil. Belajarlah dari ulama dan jauhkanlah dari orang-orang yang bodoh”

Badruddin Muhammad Ibn Adbullah Az-Zarkasyi adalah termasuk golongan orang yang tidak mendukung tafsir isyari (menolak tafsir bil isyari), hingga beliau mengatakan: “Adapaun perkataan golongan sufi dalam menafsirkan Alquran itu bukan tafsir, melainkan hanya makna penemuan yang mereka peroleh ketika membaca”. Demikian juga An-Nasafi mengatakan, sebagaimana dijelaskan Az-Zarqani dan As-Suyuti:

النصوص على ظواهرها والعدول عنها الى معان يدعيها اهل الباطن الحاد

Artinya: “Nash-nash itu harus berdasarkan zahirnya, memutarkan pada arti lain yang dilakukan oleh orang kebatinan adalah merupakan bentuk penyelewengan”

Di samping tafsir isyari ada pula tafsir yang mirip dengannya, yaitu tafsir kebatinan, namun tafsir ini termasuk tafsir yang bathil. Dan barang kali keengganan sebagian ulama untuk menerima tafsirisyari ini karena khawatir terjerumus dalam tafsir kebatinan. Dalam kitab At-Tibyan disebutkan perbedaan pokok tafsir isyari dengan tafsir kebatinan adalah:

“Tafsir isyari tidak membuang makna  tersurat, tetapi mereka menetapkannya sebagai dasar dan asas, mereka menganjurkan untuk berpegang kepadanya dengan mengatakan: pertama-tama harus mengetahui terlebih dahulu arti yang tersurat, karena orang yang mengaku mengerti rahasia Alquran, tetapi tidak menguasai zahirnya, sama halnya orang yang mengaku telah masuk ke dalam rumah tetapi belum masuk pintunya.

Tafsir kebatinan, mereka mengatakan bahwa zahirnya ayat itu sama sekali bukan tujuan, tetapi yang dimaksud adalah rahasianya (batinnya). Latarbelakang dari kata-kata ini adalah menghilangkan syari’at dan merusak hokum. Karena itu tidaklah diragukan lagi bahwa pendapat ini adalah merupakan penyelewengan dalam ajaran agama”.

Imam As-Suyuti mengambil pendapat Ibn ‘Ata’illah yang mengatakan:

“Ketahuilah bahwa tafsir dalam golongan ini (tafsir isyari) terhadap Kalam Allah dan Rasul-Nya dengan makna-makna yang pelik bukanlah berarti memalingkan dari zahirnya, tetapi zahir ayat itu dapat dipahami makna sebenarnya, seperti yang dimaksud oleh ayat, di samping itu juga dapat diketahui dari istilah bahasa, serta mereka memperoleh pengertian yang tersirat dari Ayat dan Hadis bagi orang yang hatinya telah dibukakan oleh Allah SWT”.

Pendapat ini dinilai oleh ’Ali As-Sabuni sebagai pendapat yang adil, karena mengemukakan yang adanya, yaitu dengan mengkompromikan/memadukan  beberapa nash yang zahir dengan makna yang tersirat yang memancar dari hati sanubari mukmin seperti Abu Bakar As-Siddiq.

 

2.3.3Syarat-syarat TafsirIsyarah

1.TidakbolehbertolakbelakangdengansusunanAlQuran yang zahirnya

2.Tidakmenyatakanbahwamaknaisyaratitumerupakanmaknasebenarnya (maknasatu-satunya), tanpaadamaknazhahir.

3.  Hendaknyapentakwilantersebutharustidakterlalujauh,yangsamasekalitidakadahubungannyadenganlafazzahir

4.  Tidakbertentangandenganhukumsyar’iataunaqli

5.  Terdapatsyahid (penopang) syar’i yang menguatkannya

Selanjutnyadijelaskanbahwasyarat-syarattersebut di atashanyalahsebagaisyaratditerimanyatafsirisyari,

2.4. Kesimpulan

Orang berijtihad lalu keliru, ia mendapat satu pahala, demikian pula orang yang tidak berijtihad, meski tepat tapi ia tetap bersalah, bila perkara yang ia bahas bukan termasuk perkara ijtihadi. Tafsir Al-Qur’an dengan ra’yu bisa berupa seseorang menafsirkan dilakukan ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu). Ia mengatakan, maksud ayat ini adalah begini dan ayat itu adalah begitu, sesuai dengan mazhabnya. Demikian pula orang-orang mutaakhir (belakangan) yang menafsirkan Al-Qur’an dengan acuan temuan-temuan ilmiah, baik astronomi maupun geografi, sementara Al-Qur’an tak menunjuk maksud itu, tidak dengan kandungan nash (dalil) tidak pula dari kandungan bahasa. Inilah ra’yu mereka, dan tak diperkenankan menafsirkan Al-Qur’an dengan cara seperti itu.[18] Bisa pula seseorang tak memiliki pengetahuan tentang makna secara bahasa, tidak pula secara syar’i lalu menafsirkan ayat dengan Al-Qur’an dengan sesuai dengan pemahamannya tanpa landasan baik bahasa maupun syar’i maka berarti ia mengerjakan perbuatan yang haram, karena orang yang menafsirkan Al-Qur’an berarti menyatakan bahwa Allah bermaksud demikian dan demikian. Ini perkara besar dan berat, karena Allah mengharamkan atas kita untuk berkata atas nama dengan sesuatu yang tidak kita ketahui. Allah berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَالَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَالاَتَعْلَمُونَ {33}

Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, serta mengucapkan atas nama Allah apa yang tidak kamu ketahui (Al-A’raf : 33).

Akhir kata, maka siapapun yang menyatakan sesuatu atas nama Allah tanpa didasari pengetahuan tentang makna firman-Nya atau dalam sebagian hukum-hukum-Nya, maka ia telah bersalah dengan kesalahan besar.

Daftarpustaka

  1. Al quranulkarim
  2. Study ilmualquran (manna khalil al-qattan)
  3. Study ilmualquranoleh prof Dr. Muhammad ali ash-shaabuuniy

[1]Dikutip dari Muhtasor Fi Ilmi tafsir atas I’dad ust. H. Aly Musthofa ‘Izzat, Lc, M.Pd.I

[2]Manna Kholil Al-qottan, Study Ilmu-ilmu Qur’an : 478

[3]Nama aslinya : Imamuddin Abul-Fida Isma’il Bin Umar al-Qureisy ad-damsyiqi, wafat 744 H

[4]Berkata Ibnu Taimiah dalam penjelasan tentang silang pendapat sekitar tafsir bil-ma’tsur 

[5]Al-Itqan, jilid 2, halaman 177, dikutip dari Manna al-qattan : 480

[6]HadistRiwayatIbnu Abbas

[7]Manna Kholil Al-qottan, Study Ilmu-ilmu Al-Qur’an

[8]Manna Kholil Al-qottan, Study Ilmu-ilmu Al-Qur’an

[9]QS Al-Baqarah, ayat 282

[10]QS. An-Nashr,ayat 1

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Januari 26, 2013, in Kumpulan makalah-makalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: