TASYRI

TASYRI’ PADA MASA MUQQALLIDUN DAN FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI

A. PENDAHULUAN
Agama Islam mempunyai sejarah yang panjang dalam pembuatan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia. Di mulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini. Masa yang paling panjang adalah cara pengambilan hukum lewat jalan ijtihad. Ijtihad mengalami naik-turun hingga saat ini. Menurut sejarawan hukum Islam, kegiatan ijtihad mulai mengalami penurunan semenjak meninggalnya para mujtahid terkenal. Hal ini terjadi pada masa-masa akhir kejayaan imperium Islam. Yaitu ketika daulah Abbasiyah sudah di ambang pintu kehancuran. Sebagian ulama memandang cukup untuk merujuk pendapat imam mahzabnya tanpa harus melakukan ijtihad lagi. Fase ini merupakan fase pergeseran orientasi. Kalau masa-masa sebelumnya merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah, maka pada masa ini yang dirujuk adalah kitab-kitab fiqih yang dikarang oleh imam-imam yang dipandang lebih berkompeten.
Untuk menjaga kesucian kitab-kitab fiqih disamping Al-Qur’an dan Sunnah, ulama melakukan kegiatan yang bersifat internal, yaitu membangun mahzab yang dianutnya sehingga dapat berkembang. Terdapat dua ciri yang menandai kemunduran fiqih Islam, yaitu munculnya taqlid dan tertutupnya pintu ijtihad.
Berbagai faktor, baik politik, mental sosial dan sebagainya yang telah mempengaruhi kegiatan para ulama dalam bidang hukum. Sehingga tidak sanggup mempunyai kepribadian fikiran sendiri, melainkan harus selalu bertaqlid.

B. SUBSTANSI KAJIAN
1. KONSEP TAQLID

Taqlid berasal dari bahasa Arab “qallada”, “yuqallidu”, “taqliidan”, yang mempunyai arti banyak: mengalungi, meniru, mengikuti. Sedangkan para ulama fiqih mengartikan taqlid sebagai berikut:
قبول قول القائل وانت لاتعلم من اين قاله
Artinya: penerimaan perkataan seseorang sedang engkau tidak mengetahui dari mana asal perkataan itu. Menurut Al-Ghazali taqlid adalah menerima atau mengamalkan pendapat orang lain yang tidak diketahui hujjahnya dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sedang menurut Muhammad Rasyid Ridha adalah mengikuti pendapat seseorang yang dianggap terhormat dan ahli hukum agama tanpa memperhatikan benar atau salah, baik atau buruk, manfaat atau mudharat . Dja’far Amir, dalam bukunya Ushul Fqih III menjelaskan taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain, mengikuti perkataan orang lain, dengan tidak mengetahui dari mana asal pengambilannya, entah orang lain tadi benar atau salah, pokoknya asal mengikuti saja tanpa mengetahui dasar-dasar pengambilannya, hanya mengikuti saja tanpa berfikir. Dan orang yang bertaqlid disebut MUQALLID (مقلد).
Taqlid menurut Ali Syari’ati (1992; 73), dalam pemikiran Syi’ah, taqlid (mengikuti ulama dalam masalah-masalah yang seseorang tak mampu memahaminya) adalah hubungan yang logis, ilmiah, alamiah dan penting, antara orang-orang awam atau bukan ahli dengan ulama dalam masalah-masalah praktis dan hukum yang mengandung aspek-aspek teknis yang tidak diketahui oleh orang bukan ahli.
Dalam pemikiran Syafawi, taqlid hanyalah sekadar kepatuhan buta kepada seorang ulama, tunduk sepenuhnya, tanpa mempertanyakan pikiran, pendapat atau keputusan seorang ulama. Singkat kata, ia sama artinya dengan menyembah gagasan-gagasan kaum agamawan.
Demikianlah, ketika selama berabad-abad, mazhab Syi’ah Alawi mempersembahkan darah tak berdosanya guna mengatakan “tidak” kepada segala bentuk agresi, penyimpangan, dan penindasan, kita melihat bahwa kaum Syafawi justru sebaliknya sibuk mengatakan ”ya”!.
Misalnya, orang-orang yang meminta fatwa hukum tentang suatu masalah kepada seorang mujtahid atau mufti. Mereka itu harus menerima fatwa hukum atau hukum ijtihad dari mujtahid atau mufti itu tanpa harus mengetahui dalil-dalil. Sebab mereka hanya diperintah oleh agama untuk bertanya kepada ahlu adz-dzikir (orang yang mempunyai pengetahuan). Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 43:
!$tBur $uZù=y™ö‘r& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`͑ ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ
43. Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan [454] jika kamu tidak mengetahui,
[454] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.

Masjfuk Zuhdi mengatakan, mujtahid itu menjadi tempat bertanya dan rujukan bagi masyarakat awam. Mereka wajib mengikuti hukum ijtihad mujtahid, tanpa harus mengikuti dalil-dalilnya. Sebab mujtahid itu pasti menyandarkan semua pendapatnya atas dalil-dalil syara’, Sekalipun ia tidak menerangkan dalil-dalilnya itu kepada masyarakat awam yang meminta fatwanya. Para mujtahid dari sahabat dan tabi’in banyak sekali memberikan fatwa hukum kepada masyarakat awam tanpa menerangkan landasan fatwanya, dan mereka pun dapat menerima fatwa atau hukum ijtihadnya dengan baik. Namun, hal ini tidak berarti bahwa tidak ada orang yang mengikuti hukum ijtihad itu mengetahui dalil dan tempat pengambilannya. Dan orang-orang yang mengerti hukum ijtihad dengan mengetahui dalil-dalilnya itu sudah tentu tingkatannya lebih tinggi daripada orang-orang yang mengikuti hukum ijtihad tanpa mengetahui dalil-dalilnya. Karena itu, sebagian ulama memberi nama muttabii’, bukan muqallid kepada orang-orang yang mengikuti hukum ijtihad dengan mengetahui dalil-dalil yang dipakai sebagai dasar hukum ijtihadnya.
Ulama telah sepakat bahwa pandangan dan sikap seorang mujtahid tidak boleh berbeda dengan hukum ijtihadnya dan mujtahid lain. Tetapi ulama belum ada kesepakatan mengenai suatu masalah yang belum pernah diijtihadkan oleh seorang mujtahid, sedangkan mujtahid lain telah melakukan ijtihad.
Adapun orang yang awam dan juga orang yang mempunyai pengetahuan sedikit tentang berijtihad, tetapi belum sampai ketingkat mujtahid, para ulama pada prinsipnya membolehkan mereka meminta fatwa dan taqlid. Hanya saja ulama membedakan masalah furu’ dengan masalah ushul atau aqidah.
Misalnya saja orang berbuat sesuatu karena semata-mata karena orang tuanya berbuat demikian. Sebagaimana dalam Q.S. Asy Syu’ara: 74 yang berbunyi
(#qä9$s% ö@t/ !$tRô‰y`ur $tRuä!$t/#uä y7Ï9ºx‹x. tbqè=yèøÿtƒ ÇÐÍÈ
74. Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang Kami berbuat demikian”.
Jadi mereka berbuat semata-mata asal meniru saja, hanya mengikut saja.

2. GAMBARAN POLITIK
Drs. Muhammad Zuhri berpendapat bahwa periode taklid tejadi sejak runtuhnya Baghdad ditangan Holako sampai sekarang. Unsur Turki atau Thurani adalah suatu unsur yang besar sekali yang terdiri dari beberapa kabilah yang berbeda-beda, setelah menyiapkan sarana-sarana berkelana ia jelajahi negeri-negeri Islam untuk menguasainya sebagai tambahan atas negeri asalnya.

3. IJTIHAD PADA PERIODE INI

1. Pada periode pertama dimana Allah mewahyukan syari’at-Nya dihati Rasullullah SAW yaitu\

sesuatu yang diturunkan oleh Allah lalu beliau terangkan pada manusia.
2. Pada periode kedua dan tiga para sahabat dan tabi’in menerangkan metode-metode dari Kitabullah, Sunnah RasulNya dan ra’yu (pendapat) yang benar.
3. Pada periode keempat, para imam-imam besar dan fuqaha-fuqaha yang cerdik berusaha keras lalu mereka memetik buahnya yang membukukan hukum-hukum syari’at secara terperinci.
4. Pada periode kelima mereka membuat urutan-urutan, membersihkan, memilih dan mengunggulkan.
Drs. Muhammad Zuhri juga berkata, sebesar-besar keistimewaan periode ini adalah menetapnya ruh taklid semata-mata pada jiwa ulama, dan hanya sedikit saja dari kalangan mereka yang sampai ke derajat ijtihad. Demikian itu pada sebagian pertama dari periode ini, yaitu di masa Kairo menempati kedudukan Baghdad dan menjadi pusat kerajaan Islam dan khilafah Abbasiyah. Pada masa ini muncullah dari waktu ke waktu orang yang sampai ke tingkat ijtihad. Namun mereka berhenti membangsakan diri kepada para imam yang terkenal.
Adapun pada sebagian yang kedua yaitu dari abad ke sepuluh sampai sekarang keadaannya telah berganti dan tanda-tanda telah berubah dan diumumkan bahwasannya tidak boleh bagi seorang fakih unuk memilih dan mentarjih karena zamannya telah lalu serta terhalang antara orang-orang dan kitab-kitab orang-orang yang terdaulu. Dan mereka mencukupkan diri pada kitab-kitab yang ada di hadapan mereka.
Seperti pada situasi Mesir sebelum kerajaannya jatuh dan khilafah pindah dari padanya. Kita jumpai nama-nama Al’Izz bin Abdus Salam, Ibnul Hajib, Ibnu Daqiqil ‘Id, Ibnu Rif’ah, Ibnu Taimiyah, As Subki dan puteranya, Ibnul Qayyim, Al Bulqini, Al Asnawi, Kamal bin Hammam dan Jalalluddin As Sayuthi. Mereka itu orang-orang pandai dari madzhab empat. Kemudian kita kembali menengok kepada masa sesudah itu maka kita tidak mendengar nama seorang alim atau faqih besar, atau atau pengarang yang baik, namun kita jumpai suatu kaum yang tinggal menerima saja dalam fiqih.
Drs. Muhammad Zuhri berpendapat seolah-seolah jatuhnya bidang politik adalah kemunduran ilmu, lebih-lebih ilmu agama yang mundur sedemikian jauh. Ketika Mesir menuntut kembalinya kemuliaan maka terbentur beberapa penghalang, yaitu:
1. Terputusnya hubungan antara ulama-ulama negara besar Islam.
2. Terputusnya hubungan antara kita dan kitab-kitab para imam.

4. SEBAB-SEBAB TAQLID
Drs. Yusron Asmuni dalam buku Dirasah Islamiyah II mengatakan bahwa taqlid mulai muncul sekitar abad VII H sampai dengan abad XIII H. Yaitu pada masa kemunduran umat Islam. Pada masa ini umumnya para ulama tidak mau lagi melakukan ijtihad, mereka hanya membeda-bedakan mana dalil yang kuat dan mana dalil yang lemah, dengan demikian ilmu fiqih pada abad-abad ini dalam keadaan statis.
Pada periode taqlid ini memang terdapat beberapa ulama yang berani menentang taqlid dan menyeru untuk ijtihad serta kembali kepada sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist, di antaranya adalah Ibnu Taimiyah (661-728 H), Ibnul Qayyim (691-751 H). Meskipun seruan ini mendapat tantangan hebat dari ulama-ulama semasanya, akan tetapi pada abad selanjutnya terutama setelah abad XIII H, mempunyai pengaruh besar terhadap kemajuan Ilmu Fiqih.
Di dalam buku Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam, DR. Jaih Mubarok mengemukakan bahwa secara umum keterpakuan tekstual terjadi karena keterbelengguan akal pikiran sebagai akibat hilangnya kebebasan berfikir. Farouk Abu Zaid berpendapat bahwa kebebasan berfikir hilang karena disebabkan oleh pemaksaan penggunaan aliran atau mahzab tertentu oleh pihak penguasa, seperti khalifah al-Makmun, al-Mu’tasshim, dan al-Watsiq memaksakan muktazilah kepada ulama.
Salah satu akibat keterbelengguan akal dan pikiran adalah timbulnya pendapat ulama yang memandang bahwa pendapat para imam mahzab sepadan dengan nash Al-Qur’an dan Sunnah yang tidak dapat diubah, digugat, atau diganti. Salah satu ulama mahzab Hanafi pernah berkata, “Setiap ayat Al-Qur’an dan Hadist yang bertentangan dengan mahzab Hanafi dapat ditakwilkan atau di-nasakh-kan.”. Imam Iyadl juga pernah berkata, “Bagi yang taqlid, kedudukan pendapat imam mahzabnya dinilai sejajar dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”
Drs. Yusran Asmuni menyebutkan sebab-sebab timbulnya taqlid antara lain:
a. Adanya pembukuan kitab-kitab Fiqih dan pembelaannya terhadap mahzab yang dianut dalam kitab itu.
b. Kurangnya perhatian umat Islam terhadap ilmu agama dan terpecah belahnya umat Islam atau negara-negara Islam.
c. Pengangkatan hakim-hakim muqallid dan membatasi agar keputusan-keputusan hakim hanya dari mahzab tertentu.
d. Adanya kitab-kitab Manaqib, yaitu kitab yang menerangkan keutamaan dan kelebihan suatu mahzab.
Selain dari yang disebutkan oleh Drs. Yusran Asmuni ada beberapa tokoh lain yang menyebutkan beberapa sebab munculnya taqlid. Tokoh-tokoh itu diantaranya adalah:
1. Sulaiman al-Asyqar (1991: 146-162) menyebutkan lima sebab:
a. Adanya penghargaan yang berlebihan kepada guru. Hal itu tercermin dalam anggapan bahwa, pertama, setiap orang dewasa diwajibkan menganut salah satu mahzab dan haram jika keluar dari mahzab tersebut. Kedua, mengambil pendapat selain pendapat imam yang dianutnya adalah haram, Ketiga, guru yang terdahulu lebih mengetahui nash daripada kita.
b. Banyaknya kitab fiqih. Pada zaman Abu Bakar dan Umar, hadist tidak boleh dibukukan karena Nabi SAW melarangnya. Cegahan tersebut dilakukan karena Nabi khawatir para sahabat akan meninggalkan Al-Qur’an karena disibukkan dengan kegiatan pengumpulan dan pembukuan hadist. Yang dikhawatirkan setelah munculnya kitab-kitab fiqih adalah disibukkannya ulama dengan kegiatan yang berkutat pada kitab fiqih melalui upaya pembuatan ringkasan (al-mukhtashar), penjelasan (syarh), dan penjelasan atas penjelasan (hasyiyah).” Dalam kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa melakukan kegiatan yang berkutat pada kitab fiqih adalah kegiatan yang menyulitkan karena akan belajar haruslah menguasai, menghafal dan menjaga seluruh isi dan cara-cara yang ditempuhnya.
c. Melemahnya Daulah Islamiyah. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, dukungan pemerintah sangat mempengaruhi terhadap kegiatan ilmiah. Dunia Islam pun mulai berkembang dan maju setelah khalifah berpihak kepada pengembangan ilmu dan penerjemahan terhadap buku-buku filsafat, astronomi dan kedokteran ke dalam bahasa Arab. Sebaliknya melemahnya pemerintahan berarti melemah juga tehadap pengembangan ilmu.
d. Adanya anjuran sultan yang menganjurkan untuk mengikuti aliran yang dianutnya. Kedudukan sultan berpengaruh terhadap taqlid karena sultan hanya mengangkat qadli atau hakim dari mahzab yang dianutnya.
e. Adanya keyakinan sebagian ulama yang beranggapan bahwa pendapat setiap mujtahid itu benar. Menurut sebagian ulama, pendapat ulama sejajar dengan syariat, sehingga pendapat ulama yang mana saja boleh digunakan. Ada kesan bahwa pendapat ulama adalah agama yang mesti diikuti.

2. Kamil Musa (1989: 180) menyebutkan tujuh alasan mengapa muncul taqlid, yaitu:
a. Adanya ajakan kuat dari guru kepada muridnya untuk mengikuti mahzab yang ia anut.
b. Lemahnya pemikiran dan peradilan.
c. Adanya upaya pembentukan dan pelestarian mahzab.
d. Munculnya faham bahwa ijtihad (mengeluarkan pendapat sendiri) telah keluar dari mahzab yang ia anut.
e. Berkembangnya sikap berlebih-lebihan dalam memperlakukan kitab-kitab fiqih.
f. Banyaknya kitab-kitab fiqih
g. Tidak adanya kesesuaian antara perkembangan akal dan perkembangan pemahaman (fiqih).

3. Adapun menurut pandangan Muhammad ‘Ali al-Sayyis (1990: 138-139), yang menyebabkan taqlid muncul adalah:
a. Munculnya ajakan yang kuat dari para penerus mahzab untuk mengikuti mahzabnya sehingga yang tidak mengambil dan mengggunakan pendapat imam mahzabnya dianggap keluar dari mahzab dan melakukan bid’ah.
b. Adanya degradasi kecerdasan para hakim. Sebelumnya para hakim diangkat dari kalangan ulama yang mampu melakukan istinbath al-ahkam dari Al-Qur’an dan Sunnah secara langsung. Mereka memutuskan sengketa dan perselisihan di pengadilan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, hakim diangkat dari ulama yang mengikatkan diri dengan aliran hukum tertentu.
c. Berkembangnya pembentukan aliran-aliran fiqih.
d. Adanya “ulama” yang saling hasut.
e. Munculnya perdebatan ahli hukum secara tidak sehat.
f. Berkembangnya sikap berlebihan dalam mengajarkan fiqih mahzab
g. Rusaknya sistem belajar.
h. Banyaknya kitab-kitab fiqih.
i. Hilangnya kecerdasan individu.
j. Munculnya kesenangan masyarakat kepada harta secara berlebihan (materialistik).

Menurut DR. Jaih Mubarok sebab munculnya taqlid adalah karena dua hal: pertama, keterbelengguan pemikiran sehingga ulama lebih suka mengikatkan diri dengan aliran fiqih tertentu; dan kedua, karena ulama kehilangan kepercayaan diri untuk berdiri sendiri yang didasarkan pada bahwa ulama pendiri mahzab itu lebih cerdas dan pintar daripada dirinya.
Ahmad Hanafi, M.A di dalam buku Pengantar dan Sejarah Hukum Islam juga menjelaskan beberapa sebab munculnya taqlid, yaitu:
a. Pergolakan politik telah mengakibatkan perpecahan di dalam negeri Islam menjadi negeri-negeri kecil sehingga negeri-negeri tersebut selalu mengalami kesibukan perang, saling menfitnah, dan hilangnya ketentraman masyarakat. Sehingga berkurangnya perhatian terhadap kemajuan ilmu.
b. Timbul berbagai mahzab yang mempunyai metode berfikir sendiri dibawah seorang imam mujtahid. Akibatnya para pengikut mahzab berusaha untuk membela mahzabnya tanpa memperkuat dasar maupun pendapatnya dengan cara mengemukakan alasan kebenaran mahzabnya dan menyalahkan pendapat mahzab lain dengan cara memuji imam yang mereka anut. Akhirnya seseorang tidak mengarahkan perhatiannya kepada Al-Qur’an dan Hadist, tapi baru menggunakan kedua sumber ini untuk memperkuat pendapat imamnya. Dengan demikian kebebasan orang untuk berfikir menjadi hilang, orang berilmu menjadi awam dan akhirnya hanya bisa bertaqlid.
c. Pembukuan terhadap pendapat mahzab menyebabkan orang mudah untuk mencarinya, orang hanya mencari yang mudah bukan yang sulit. Sebelumnya para fuqaha berijtihad untuk menyelesaikan masalah syara’. Tapi setelah hasil ijtihad dibukukan para pencari ilmu hanya mencukupkan dengan pendapat yang telah ada. Sehingga hilanglah dorongan untuk maju.
d. Masa sebelumnya para hakim berasal dari orang yang bisa berijtihad sendiri, tapi masa sesudahnya hakim diangkat dari orang yang bertaqlid pada pendapat mahzab-mahzab tertentu.
e. Penutupan pintu ijtihad.
Jaih Mubarok menyebutkan beberapa penyebab tertutupnya ijtihad, yaitu:
Pertama, munculnya hubb al-dunya di kalangan para ulama. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, membagi ulama menjadi dua bagian: ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia adalah ulama yang ilmunya digunakan hanya untuk mengejar kepentingan duniawi; dan ia lalai dalam ibadah serta kehilangan sifat zuhud.
Kedua, adanya perpecahan politik. Pada akhir kekuasaan Abbasiyah, khalifah dijadikan boneka; daerah yang dikuasainya masing-masing berdiri sendiri dan saling bermusuhan. Pada tahun 324 H, umat Islam terbagi ke dalam beberapa kerajaan: Bashrah dikuasai dinasti Ra’iq, Fez dikuasai dinasti ‘ali ibn Buwaihi, Ray dikuasai oleh Abi ‘Ali al-Husain ibn al-Buwaihi, Diyar Bakr oleh bani Hamdan, Mesir dan Syam dikuasai dinasti Fatimiyah, dan Bahrain dikuasai oleh dinasti Qaramithah. Khalifah hanya berkuasa di Baghdad.
Ketiga, adanya perpecahan aliran fiqih. Umat Islam ada yang beranggapan bahwa pendapat ulama sepadan dan sejajar dengan Al-qur’an dan Sunnah. Pendapat ulama tidak boleh diubah atau diganti dengan pendapat lain. Sehingga melahirkan ketidakharmonisan dalam kalangan umat Islam, karena dalam sejarah umat Islam memiliki banyak aliran. Setiap pengikut mahzab mengklaim bahwa pendapat imamnya yang paling benar dan pendapat imam lain salah. Selain itu faktor lain adalah munculnya keterbelengguan pemikiran atau kegiatan pengembangan ilmu. Ijtihad adalah bagian dari kegiatan ilmiah. Sehingga tertutupnya ijtihad merupakan implikasi kemunduran umat Islam.
Inilah beberapa pendapat yang mengemukakan sebab-sebab munculnya taqlid. Dimana, karena semua itu menyebabkan orang-orang muslim tidak mau lagi berijtihad dalam menyelesiakan permasalahan mereka. Saling menghina dan menyalahkan aliran atau ajaran mahzab lain adalah kebiasaan orang-orang muslim pada masa muqallidun. Dan kemunduran Islam pun semakin parah dan tidak bisa bangkit seperti masa-masa sebelumya.

HUKUM TAQLID

Pada dasarnya para ulama sepakat mengharamkan taqlid karena dapat membuat manusia malas untuk berijtihad. Dalam buku Ushul Fiqih II karangan Drs. H.A. Mu’in disebutkan ada tiga hukum taqlid, yaitu:
a. Taqlid yang haram
Para ulama membagi taqlid yang dihukumi haram ini menjadi tiga macam:
1. Taqlid semata-mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang atau orang-orang dahulu kala, yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Contohnya adat kebiasaan yang terjadi pada masyarakat yang sampai sekarang masih sulit untuk ditinggalkan, yaitu pada setiap bulan syuro diadakan yang namanya “bersih desa” atau “grebeg suro” yang ditandai dengan ritual-ritual yang menandai perbuatan syirik dan perdukunan yang masih kental di dalam masyarakat awam di daerah-daerah terpencil. Allah berfiman dalam surat Al-Baqarah:
#sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% ãNßgs9 (#qãèÎ7®?$# !$tB tAt“Rr& ª!$# (#qä9$s% ö@t/ ßìÎ6®KtR !$tB $uZø‹xÿø9r& Ïmø‹n=tã !$tRuä!$t/#uä 3 öqs9urr& šc%x. öNèdät!$t/#uä Ÿw šcqè=É)÷ètƒ $\«ø‹x© Ÿwur tbr߉tGôgtƒ ÇÊÐÉÈ
170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Dan fiman Allah SWT dalam Surat Al-Maidah ayat 104:
#sŒÎ)ur Ÿ@‹Ï% óOçlm; (#öqs9$yès? 4’n<Î) !$tB tAt“Rr& ª!$# ’n<Î)ur ÉAqߙ§9$# (#qä9$s% $uZç6ó¡ym $tB $tRô‰y`ur Ïmø‹n=tã !$tRuä!$t/#uä 4 öqs9urr& tb%x. öNèdät!$t/#uä Ÿw tbqßJn=ôètƒ $\«ø‹x© Ÿwur tbr߉tGöku‰ ÇÊÉÍÈ
104. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.

2. Taqlid kepada orang atau sesuatu yang tidak diketahui kemampuan dan keahliannya. Seperti orang yang menyembah berhala, tapi ia tidak mengetahui kemampuan dan kekuasaan berhala tersebut. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah yang berbunyi:
šÆÏBur Ä•$•Z9$# `tB ä‹Ï‚­Gtƒ `ÏB Èbrߊ «!$# #YŠ#y‰Rr& öNåktXq™6Ïtä† Éb=ßsx. «!$# ( tûïɋ©9$#ur (#þqãZtB#uä ‘‰x©r& ${6ãm °! 3 öqs9ur “ttƒ tûïÏ%©!$# (#þqãKn=sß øŒÎ) tb÷rttƒ z>#x‹yèø9$# •br& no§qà)ø9$# ¬! $Yè‹ÏJy_ •br&ur ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>#x‹yèø9$# ÇÊÏÎÈ ŒÎ) r&§t7s? tûïÏ%©!$# (#qãèÎ7›?$# z`ÏB šúïÏ%©!$# (#qãèt7•?$# (#ãrr&u‘ur z>#x‹yèø9$# ôMyè©Üs)s?ur ãNÎgÎ/ Ü>$t7ó™F{$# ÇÊÏÏÈ
165. Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu [57] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).
166. (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
[57] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.

3. Taqlid kepada perkataan atau pendapat seseorang, sedang yang bertaqlid mengetahui bahwa perkataan dan pendapat itu salah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S At-Taubah ayat 31:
(#ÿrä‹sƒªB$# öNèdu‘$t6ômr& öNßguZ»t6÷dâ‘ur $\/$t/ö‘r& `ÏiB Âcrߊ «!$# yx‹Å¡yJø9$#ur šÆö/$# zNtƒötB !$tBur (#ÿrãÏBé& žwÎ) (#ÿr߉ç6÷èu‹Ï9 $Yg»s9Î) #Y‰Ïmºur ( Hw tm»s9Î) žwÎ) uqèd 4 ¼çmoY»ysö7ߙ $£Jt㠚cqà2̍ô±ç„ ÇÌÊÈ
31. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[372] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
[372] Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.
Berkenaan dengan ayat di atas Nabi Muhammad SAW bersabda:
اليس يحلون لكم ما حرم الله عليكم فتحلونه ويحرموت عليكم ما احل الله لكم فتحرمونه

Artinya: ”Bukankah mereka menhalalkan bagimu apa yang telah diharamkan Allah, dan mereka telah mengharamkan atasmu apa yang telah dihalalkan Allah bagimu. Lalu kamu mengharamkannya pula”?

Dalam ayat ini dijelaskan orang-orang yahudi dan nasrani mengikuti perkataan dan pendapat rahib-rahib dan pendeta pendeta tanpa memperhatikan dasar-dasar dalil yang mereka ucapkan karena mereka menganggap rahib dan pendeta adalah Tuhan. Hal ini dikemukakan Allah secara analogi dalam ayat ini bahwa bertaqlid kepada orang lain, sedang mereka mengetahui berbagai kesalahan sama dengan menyembah kapada selain Allah. Dan hal ini sangat dicela Alah dan Rasulnya. Taqlid semacam ini kelak akan dimintai tanggung jawab di akhirat. Allah berfirman:
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 •bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur ‘@ä. y7Í´¯»s9’ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ
36. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (Q.S Al-Israa’: 36)

Sehubungan dengan taqlid yang diharamkan diatas Ad Dahlawi mengatakan bahwa tidak boleh seorang awam bertaqlid kepada seorang ulama dengan anggapan bahwa ulama itu tidak munkin salah atau dengan anggapan bahwa semua yang dikatakan ulama itu pasti benar, serta enggan mengikuti perkataan atau pendapat orang lain walaupun ada dalil yang membenarkannya. Ad Dahlawi juga mengatakan bahwa tidak boleh bertaqlid kepada orang yang mengharuskan berfatwa sesuai dengan mahzab Hanafi sehingga semua persoalan harus dikembalikan kepada mahzab Hanafi saja atau dengan mahzab tertentu saja, karena hal ini menyalahi kesepakatan ulama dan berlawanan dengan pendapat sahabat dan tabi’in.

b. Taqlid yang Dibolehkan

Drs. H.A. Mu’in mengatakan diperbolehkan bertaqlid kepada seorang mujtahid dalam hal yang belum ia ketahui hukum Allah dan Rasulnya yang berhubungan dengan persoalan atau suatu peristiwa, dengan syarat bahwa ia harus selalu mencari dalil dan menyelidiki kebenaranya, maksudnya bahwa taqlidnya adalah bersifat sementara. Dan jika kebenarannya sudah diketahui dari Al-Qur’an dan Hadist dan ternyata pendapat mujtahid tersebut salah maka pendapat itu harus ditinggalkan dan kembali pada Al-Qur’an dan Hadist. Sebagai contoh adalah jika kita ketinggalan waktu sholat ashar ada ulama yang berpendapat boleh dijama’ dengan sholat magrib sesudahnya. Untuk sementara kita boleh mengikuti pendapat tersebut. Tapi jika kita menemukan dalil yang menyalahkan pendapat tersebut kita harus meninggalkannya.
Taqlid ini biasanya terjadi pada orang awam kepada ulama yang dipercayainya, selama orang awam itu belum menemukan alasan dari pendapat ulama yang diikutinya itu. Hal semacam ini sudah terjadi dikalangan umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Sekalipun para imam mujtahid, seperti imam, Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal tidak mengharuskan orang bertaqlid kepada pendapat mereka, namun para ulama mutaakhirin membagi masyarakat yang bertaqlid menjadi dua golongan , yaitu:
1. Golongan awam atau orang yang tidak berpendidikan wajib bertaqlid kepada pendapat salah satu dari ke empat imam tersebut.
2. Golongan yang memenuhi syarat ijtihad, sehingga tidak boleh bertaqlid kepada ulama. Ulama yang berpendapat demikian antara lain:
1. Al ‘Adhud (wafat 573 H)
2. Ibnul Hajib (wafat 646 H)
3. Ibnus Subki (wafat 771 H)
4. Al Mahalli (wafat 886 H)
Mereka berempat mengemukakan ada dua arti taqlid:
1. Taqlid dengan arti lughawi (bahasa), yaitu beramal atau mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui sama sekali dasar dari pendapat itu.
2. Taqlid dengan arti ‘urfi (populer), yaitu beramal atau mengikuti pendapat seeorang, sedang dasar dari pendapat itu tidak diketahui dengan sempurna.

Ahmad Hanafi menjelaskan bahwa bagi orang yang sudah mencapai tingkatan mujtahid, maka dengan kesepakatan fuqaha ia tidak boleh menggunakan pendapat orang lain dengan menyalahi hasil ijtihadnya sendiri. Tetapi apabila dalam suatu persoalan ia belum mengambil ijtihad, sedangkan orang lain telah mengadakan ijtihad apakah ia boleh mengikuti mendapat mereka?
Menurut pendapat yang kuat ia tidak boleh mengambil ijtihad orang lain dan ia harus ijtihad sendiri sebagai kewajiban pokok. Kebolehan mengikuti pendapat orang lain bagi orang awam tidak berlaku bagi orang yang sanggup melakukan ijtihad sendiri. Kebolehan mengikuti pendapat bagi orang biasa hanya terbatas dalam masalah furu’ (masalah yang lahir), bukan masalah kepercayaan dan orang yang diikuti bukanlah orang yang awam, tapi orang yang ahli dalam melakukan ijtihad, berdasarkan keyakinan yang maksimal.
Kalau dalam suatu negeri terdapat beberapa tingkatan orang mujtahid, maka yang harus diikuti adalah orang yang paling taat beragama, karena kedudukan para mujtahid bagi orang-orang awam sama dengan kedudukan dalil syara’ bagi seorang mujtahid, harus diadakan penarjihan mana yang lebih kuat. Pendapat lain mengatakan, orang awam bisa mengikuti mujtahid mana yang disukai, karena di kalangan sahabat-sahabat sendiri terdapat tingkatan keijtihadannya. Walaupun begitu tidak ada riwayat yang mengharuskan bagi orang awam untuk mengikuti sahabat tertentu dan tidak ada kritikan terhadap orang yang mengikuti mujtahid sahabat dari kalangan biasa.

c. Taqlid yang Diwajibkan
Pada zaman sekarang ini taqlid yang berkembang seperti di Indonesia adalah taklid kepada buku, bukan taqlid kepada imam-imam yang terkenal. Imam-imam yang terkenal itu adalah Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, dan Ahmad Bin Hanbal. Jika seseorang bertaqlid kepada seorang imam dia harus mengikuti ajaran imam tersebut secara murni, atau setidaknya kepada muridnya yang paling dekat. Orang yang bertaqlid pada salah satu imam tidak boleh mengikuti ajaran imam lain. Tapi kenyataan yang terjadi adalah tidak demikian, kebanyakan orang mengikuti pendapat seseorang yang digolongkan termasuk mahzab salah satu imam.
Jadi kenyataan menunjukkan bahwa taqlid yang berkembang masa sekarang, bukan taqlid kepada mujtahid, sebagaimana yang dikehendaki Al ‘Adhud (wafat 573 H), Ibnul Hajib (wafat 646 H), Ibnus Subki (wafat 771 H), dan Al Mahalli (wafat 886 H) dan para ushul fiqih, tetapi adalah taqlid kepada orang yang mengaku bertaqlid kepada imam yang terkenal, sambil menyisipkan pendapatnya ke dalam kitab karangan imam-imam yang terkenal. Hal semacam ini sangat dilarang oleh para ulama, khususnya Ad Dahlawi, Ibnu Abdil Bar, Al Jauzi dan sebagainya.

6. TAQLID dalam MASALAH FAR’IJJAH

Dja’far Amir mengemukakan taqlid dalam masalah far’ijjah sebagai berikut:
واختلفوا فى المسائل الشرعية هل يجوزالتقليد فيها فذهب الجمهور من اهل العلم انه لايجوز مطلقا

Para ulama berselisih dalam masalah far’ijjah (hukum syara’), adakah diperbolehnya taqlid dalam soal syara’ itu.
1. Para ulama jumhur melarang hal itu secara mutlak. Maksudnya, agar supaya tiap orang itu berusaha supaya mengetahui hukum Allah dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya ikut saja, tapi kita beramal harus disertai ilmu dan amal tanpa ilmu adalah tidak karuan serta tidak dapat dipertanggung jawabkan ke hadapan Allah SWT. Jadi ulama jumhur mencela taqlid.
2. Sebagian ulama mewajibkan taqlid. Berarti yang belum mengerti diwajibkan mengikuti dan meniru saja kepada yang sudah mengerti. Tidak boleh berfikir, karena berfikirnya orang yang tidak mengerti akan keliru dan sia-sia, dan sulit untuk dapat dipertanggung jawabkan.
Taqlid bagi dia lebih aman daripada berfikir sendiri.

يجب مطلقا ويحرم النظر
3. Ulama yang lain berpendapat harus diperinci ialah bahwa taqlid wajib bagi orang awam dan haram bagi seorang mujtahid. Karena mengingat tidak semua orang dapat mengetahui dengan sendiri tentang hukum syara’.
التفصيل وهو يجب للعام ويحرم على المجتهد

Masjfuk Zuhdi menjelaskan mengenai taqlid dalam masalah-masalah furu’ (masalah bukan aqidah), ada tiga pendapat , ialah:
1. Tidak boleh taqlid begitu saja, tetapi mereka wajib berusaha mengetahui hukum- hukum ijtihad atau fatwa dari mujtahid/mufti.
2. Boleh taqlid dalam masalah-masalah ijtihadiyah, bukan masalah-masalah yang sudah ada kepastian hukumnya dalam nash Al-Quran dan Sunnah.
3. Wajib mengikuti pendapat mujtahid dan mengambil fatwanya (taqlid).
Karena itu sesuai dengan tradisi di zaman sahabat dan tabi’in, masyarakat awam selalu bertanya kepada mujtahid dari kalangan sahabat dari tabi’in itu mengenai masalah-masalah hukum syara’. Dan mereka menanggapi secara cepat dengan memberikan fatwa-fatwanya kepada masyarakat awam yang meminta fatwanya. Kemudian mereka dengan penuh kepercayaan dapat menerima fatwa-fatwa para mujtahid itu, sekalipun fatwa-fatwa hukumnya tidak disertai dalil syara’, sebab masyarakat awam itu seolah-olah menganggap mujtahid sebagai dalil sendiri kedudukannya.
Mengenai taqlid dalam masalah-masalah ushul atau aqidah, kebanyakan ulama Ushul Fiqh berpendapat, bahwa tidak boleh taklid dalam masalah ushul/akidah, sekalipun bagi masyarakat awam. Siapa pun orang muslim wajib mengetahui dan memahami dalil-dalilnya secara global dengan alasan sebagai berikut:
1. Masalah yang menyangkut ushul/akidah itu terbatas dan tertentu, berbeda dengan masalah furu’ yang tidak terbatas jumlahnya, sehingga kewajiban mengetahui dan memahami dalil-dalil aqidah secara global itu tidak akan menimbulkan kerepotan dan kesulitan hidup masyarakat.
2. Manusia diperintahkan untuk mencapai tingkatan yakin dalam masalah akidah. Misalnya Surat Al-A’raf ayat 185:
óOs9urr& (#rãÝàZtƒ ’Îû ÏNqä3n=tB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur $tBur t,n=y{ ª!$# `ÏB &äóÓx« ÷br&ur #Ó|¤tã br& tbqä3tƒ ωs% z>uŽtIø%$# öNßgè=y_r& ( Äd“r’Î7sù ¤]ƒÏ‰tn ¼çny‰÷èt/ tbqãZÏB÷sムÇÊÑÎÈ
185. Dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?

3. Pada dasarnya taklid itu tercela dan dilarang oleh agama. Dan kalau kita diperbolehkan taklid dalam masalah furu’ itu tidak lain sebagai dispensasi. Banyak ayat Al-Quran yang mencela sikap bertaqlid. Antara lain surat Al-Baqarah ayat 170,yang artinya:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

7. BERTANYA
Dja’far Amir juga mengemukakan bahwa bagi orang yang tidak mengerti sebenarnya diharuskan oleh Allah bertanya kepada yang mengerti, sehingga jelaslah dia soal-soal agama, mengerti hukum-hukum Allah dengan baik, tidak hanya ikut-ikut saja. Karena Allah membekali manusia dengan akal adalah untuk berfikir dan juga untuk memikirkan tentang hukum-hukum Allah. Allah berfiman dalam sebuah ayat:
!t4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ
Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan [454] jika kamu tidak mengetahu”. (Q.S An-Nahl: 43)

[454] Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab.
Allah juga berfirman yang artinya: …”Apakah kamu tidak berfikir”. (Q.S Al-An’am: 50)
Ÿxsùr& tbr㍩3xÿtGs? ÇÎÉÈ

8. PENDAPAT PENDAPAT IMAM MAHZAB TENTANG TAQLID
Drs. H.A. Mu’in, dkk dalam buku Ushul Fiqih menjelaskan para ulama sepakat bahwa boleh bertaqlid kepada seorang mujtahid yang telah diakui oleh para ulama sebagai mujtahid selama seseorang belum memiliki kesanggupan untuk melakukan ijtihad, sesuai dengan ketentuan Ushul Fiqih bahwa dilarang bertaqlid kepada muqallid sementara boleh bertaqlid kepada mujtahid.
Pada masa kehidupan imam-imam mahzab, belum ada persoalan taqlid karena para imam menganjurkan dan mendorong umat Islam untuk menuntut ilmu agama Islam sehingga mereka bisa berijtihad. Pendapat para imam mahzab tentang taqlid adalah sebagai berikut:

1. Abu Hanifah (80-150 H)

Imam Abu Hanifah sangat melarang seseorang mengikuti apa yang dikatakannya, jika ia tidak mengetahui dasar perkataan itu. Beliau menyatakan: “Tidak boleh seseorang mengikuti perkataan yang telah kami katakan, sehingga ia mengetahui dari mana asal perkataan kami itu”. Bahkan beliau mengharamkan orang mengikuti fatwanya, jika ia tidak mengetahui dalil dari fatwa itu.
Abu Hanifah pernah ditanya orang: ‘apakah engkau akan mengatakan suatu perkataan, sedang kitab Allah melarangnya, bagaimana pendapatmu’. Beliau menjawab: ‘tinggalkanlah perkataanku dan ikutilah kitab Allah’. Orang itu bertanya: ‘Bila khabar Rosululloh menyalahkannya’. Beliau menjawab: ‘tinggalkanlah perkataanku dan ikutilah khabar dari Rosululloh SAW’. Bila perkataan sahabat menyalahkannya,’ Beliau menjawab: ‘tinggalkan perkataanku dan ikutilah perkataan para sahabat’.

2. Malik bin Anas (93-179 H)
Beliau menyatakan bahwa beliau adalah seorang manusia biasa yang tidak luput dari berbagai kesalahan. Beliau berkata: sesungguhnya aku ini tidak lain adalah manusia biasa, munkin aku salah dan mungkin benar. Karena itu hendaklah kamu perhatikan pendapatku. Semua pendapatku yang sesuai dengan kitab Allah dan Sunnah Rasul, ambillah, dan semua yang tidak sesuai dengan Sunnah Rasul tinggalkanlah’.
Sewaktu beliau ziarah ke makam Rasululloh SAW, beliau berkata kepada temannya: ‘Setiap orang dapat diterima atau ditolak pendapatnya, kecuali perkataan orang yang ada di dalam kubur ini’ sambil menunjuk ke kuburan Rasul. Hal ini berarti setia pendapat dan perkataan orang sampai kepada kita harus diperiksa dan diteliti lebih dulu, jika benar diikuti dan jika salah ditinggalkan.

3. Imam Asy Syafi’i (150-204)
Beliau adalah murid Imam Malik. Ia belajar kepada Imam Malik selama 9 tahun. Kemudian belajar kepada Muhammad bin Hasan, murid imam Malik selama sekitar dua tahun. Imam Syafi’i lebih tegas terhadap taqlid, dan ada nada mengecam orang yang taqlid dan orang yang menganjurkan bertaqlid. Beliau menyatakan: “Terhadap apa yang telah aku katakan, sedang Hadist Nabi telah menyalahi perkataanku, maka riwayat yang benar adalah dari Nabi SAW lebih utama dan janganlah kamu bertaqlid padaku”.
Beliau juga menyatakan bahwa beliau akan meninggalkan pendapatnya, pada setiap saat ia mengetahui bahwa pendapatnya tidak sesuai dengan Hadist Nabi SAW. Setiap masalah yang benar-benar berasal dari Nabi SAW dan menyalahi pendapatku, maka aku akan kembali kepada Hadist Nabi, di waktu aku hidup atau setelah mati.
Bahkan beliau berpesan kepada Abu Ishaq dan Al-Muzzani: ‘Hai Abu Ishaq janganlah bertaqlid kepada setiap apa yang aku katakan, perhatikanlah yang demikian untuk dirimu sendiri, karena hal ini berhubungan dengan masalah agama’.

4. Imam Hambali (164-241)
Imam Hambali sangat melarang taqlid. Imam Abu Daud berkata: ‘aku pernah bertanya kepada Imam Hambali: “Apakah Imam Auza’i yang aku ikuti atau Imam Malik”. Beliau menjawab: “Jangan kamu mengikuti pendapat salah seorang dari keduanya dalam hal yang berhubungan dengan hal agamamu. Apa yang berasal dari Nabi SAW dan sahabatnya, hendaklah kamu ambil dan pegang kokoh, kemudian apa yang berasal dari tabi’in boleh kamu ambil setelah kamu seleksi atau teliti.
Dari permyataan ini difahamkan bahwa beliau melarang bertaqlid pada para imam manapun, dan beliau menyuruh orang agar mengikuti semua yang berasal dari Nabi SAW dan orang-orang sesudahnya agar diselidiki lebih dahulu. Mana yang benar diikuti dan mana yang salah ditinggalkan. Beliau pernah menyatakan bahwa tanda menunjukkan sedikitnya ilmu seorang itu, ialah ia bertaqlid kepada seseorang tentang urusan agama. Banyak pernyataan-pernyataan beliau yang menunjukkan bahwa beliau seorang yang tidak menyetujui taqlid.

9. ULAMA YANG HIDUP PADA MASA TAQLID
1. IBNU HAZM AL-ZHAHIRI (384-456 H)
Ibnu Hazm hidup dalam dua masa kerajaan Islam yaitu dinasti Umayah dan zaman Muluk Al Thawaif. Ia hidup di masa Umayah selama 37 tahun dan 32 tahun pada zaman Muluk al-Thawaif. Sebagai anak seorang menteri ia mulai mengenal politik sejak muda, yaitu usia lima belas tahun. Dia melihat berbagai macam kerusuhan dalam pemerintahan Negara. Bahkan dia ikut dalam kancah politik dan menyelesaikan kericuhan sampai beberapa kali sehingga keluar masuk penjara. Setelah keluar dari penjara yang terakhir, Ibnu Hazm mencurahkan perhatiannya dan menuliskan gagasan-gagasannya.
Kemelut politik yang berkepanjangan membuat Ibnu Hazm melakukan penelitian tentang hukum yang berlaku. Mahzab resmi bani Umayah adalah mahzab Imam Maliki. Dalam pandangannya fiqih Maliki menggunakan mashlahah mursalah yang menggunakan ra’yu ternyata tidak bisa mengatasi permasalahan politik yang terjadi dalam tubuh bani Umayah.
Ibnu Hazm mengajukan solusi ntuk mengganti mahzab yang resmi yang tidak dapat mengatasi kemelut politik tersebut adalah mengajukan empat sumber yaitu al-kitab, al-sunnah, ijma’ al-shahabah, dan al-dalil.

Guru-guru Ibnu Hazm:
1. Al- Husain Ibnu ‘Ali al-Farasy
2. Ahmad ibn Yusuf
3. Ibnu ‘Abd al-Birri al-Maliki
4. ‘Abd al-Qasim ‘Abd al-Rahman al-Azdi
5. Abu Bakr Muhammad ibn Ishaq
6. ‘Abd Allah al-Azdi
7. Abu Khiyar Mas’ud ibn Sulaiman ibn Maflat al-Zahiri
8. Abu ‘Abd Allah ibn Hasan al-Madhaji.
Dalam ijtihad, Ibnu Hazm menentukan langkah-langkah sebagai berikut:

الاصول التى لايعرف شيء من الشارع الا منها اربعة وهي نص القران ونص كلام رسول الله صلى الله عليه وسلم الذى انما هو عن الله مما صح عنه عليه السلام ونقله الثقات او التواتر واجماع الائمة ودليل منها لايحتمل الا وجها واحدا
“ Dasar-dasar hukum Allah yang sama sekali tidak dapat diketahui kecuali dengan empat dasar, yaitu nash Al-Qur’an, nash sabda Nabi Muhammad SAW yang dasarnya berasal dari Allah yang diriwayatkan oleh rawi tsiqah (cerdas, adil, dan kuat ingatan) atau diriwayatkan secara mutawatir, ijma’ ulama, dan al-dalil”.

Karya Ibnu Hazm
Kitab fiqih Ibnu Hazm yang terkenal adalah al-Muhalla (tiga belas jilid). Sedangkan dalam bidang ushul al-fiqh adalah al-Ihkam fi Ushul al Ahkam (delapan jilid). Kitab kitab yang lain adalah sebagai berikut:
a. Risalah fi al-Fadll al-Andalus
b. Al-Ishal ila Fahm al-Hishal al-Jami’ah li Jumal al-Syara’i al-Islam
c. Al-fashl fi al-Milal wa al-Ahwal wa al-Niha
d. Al-Ijma’
e. Maratib al-Ulum wa Kaifiyyat Thalabuha
f. Idhar al-Tabdil al-Yahud wa al-Nashara
g. Al-Taqrib bi Hadd al-Manthiq
h. Thauq al-Hamamah

2. ABU HAMID AL-GHAZALI (450-505 H./W. 1111 M.)
Beliau lahir di Ghazaleh (khurasa), dan ia dijuluki sebagai hujjat al-Islam. Beliau menuntut ilmu di Nisyapur dan Khurasan yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan yang penting di dunia Islam. Ia belajar tentang teologi, fiqih, dan ushul-nya, filsafat, logika dan sufisme. Sedangkan ilmu yang ia kuasai adalah akidah, ushul fiqih, fiqih, mantik, filsafat dan tasawuf.
Dalam berijtihad beliau melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Nushul al-Kitab
b. Hadis Mutawatir
c. Hadis ahad
d. Apabila tidak didapatkan dalam tiga landasan di atas, ia menggunakan zhahir al-Kitab
e. Apabila tidak di dapatkan keempatnya, menggunakan ijma’ jika diketahui terdapat ijma’
f. Apabila dalam ijma’ pun tidak ada ia menggunakan analogi (qiyas).

Karya imam Ghazali jumlahnya banyak sekali, diantaranya adalah, kitab Ihya ‘Ulum al-din, al-Wajiz fi al-fiqih, Bayan al-Qaulain li al-Syafi’I dan al-Fatawa. Kitab Ihya ‘Ulum al-Din adalah kitab yang paling terkenal. Dalam pendahuluan kitab itu Badawi Ahmad Thahah (1957) menjelaskan berbagai kitab karya Imam al-Ghazali dalam berbagai bidang. Ia menuliskan karya al-Ghazali yang jumlahnya 47, diantaranya dalam bidang fiqih adalah kitab Ihya ‘Ulum al-Din (empat jilid); dalam bidang tafsir adalah Jawahir al-Qur’an; dalam bidang filsafat Tahayut al-Falasiyah; dalam bidang tasawuf adalah Kimiya’ al- Sa’adah; dalam bidang ushul fiqih adalah al-Musthasfa.

C. SKEMATIKA
1. Pendahuluan
Berisi latar belakang penulisan makalah
2. Substansi Kajian
Berisi isi makalah yang meliputi seluruh bab:
a. konsep taklid: mencangkup pengertian taqlid secara bahasa maupun terminologi.
b. gambaran politik: merupakan gambaran keadaan politik pada masa periode taqlid.
c. gambaran ijtihad: mencangkup keadaan ijtihad yang semakin hilang karena maraknya orang bertaqlid.
d. sebab taqlid: merupakan hal-hal yang melatarbelakangi mnculnya taqlid.
e. hukum taqlid: adalah hukum mengenai taqlid.
f. taqlid masalah far’ijjah: adalah bagian yang menjelaskan hukum taqlid dalam masalah far’ijjah.
g. bertanya: menjelaskan agar orang yang awam bertanya jika tidak tahu sesuatu kepada ulama.
h. pendapat para ulama: berisi pendapat para ulama tentang taqlid.
i. ulama yang hidup pada masa taqlid: berisi biografi ulama yang hidup pada masa taqlid.
j. kesimpulan: merupakan ringkasan dari masalah yang dibahas.

D. KESIMPULAN
Taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dari mana asal hujjahnya. Sedangkan orang yang bertaqlid disebut muqallid. Taqlid muncul ketika kekuasaan Islam sudah di ambang pintu kehancuran, yaitu pada masa kemunduran. Kemunduran Islam dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya politik, tertutupnya ijtihad dan sebagainya.
Pada dasarnya para ulama jumhur sangat melarang perbuatan taqlid karena hal itu dapat menyebabkan orang tidak mau berfikir tentang masalah agamanya. Sehingga umat Islam hanya mencukupkan tentang perkara agamanya itu dengan kitab-kitab karangan para imam ijtihad. Tapi dalam kalangam umat Islam sendiri tidak ada keharmonisan, hal ini disebabkan karena masing-masing pengikut mahzab mengklaim bahwa mahzabnya yang paling benar.
Orang yang berpendidikan tinggi dan dianggap mampu untuk berijtihad sendiri dilarang untuk bertaqlid. Taqlid boleh dilakukan oleh orang awam tapi dengan syarat bahwa ia harus selalu berusaha mencari dasar-dasar dalilnya. Dan jika ia telah menemukan dasarnya ia harus kembali pada dalil tersebut, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Dja’far. 1972. Ushul Fiiqh III. Semarang: CV. Toha Putra

Asmuni, Yusran. 1996. Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Hanafi, Ahmad, MA. 1970. Pengantar Dan Sejarah Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Mubarok, Jaih. 2000. Sejarah Dan Perkembangan Hukum Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Rosyada, Dede. 1993. Hukum Islam Dan Pranata Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Mu’in, H.A, dkk. 1986. Ushul Fiqih II (Qaidah-Qaidah Istinbat Dan Ijtihad). Jakarta: Depag
Syari’ati, Ali. 1992. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi. Bandung: Mizan
Zuhri, Muhammad. 1980. Tarjamah Tarikh Al-tasyri’ Al-Islami. Semarang: Darul Ikhya
Zuhdi, Masjfuk. 1987. Pengantar Hukum Syariah. Jakarta: CV Haji Masagung
_____. 2005. Al-Qur’an Dan Terjemahnya. Jakarta: PT Syaamil Cipta Media

  1. Asal Usul Istilah
    Periode ini dimulai sejak tahun 656 H, ketika kota Baghdad jatuh ketangan tentara mongol dan berakhir pada akhir abad ketiga belas.
    Perkembangan fiqh pada periode ini merupakan lanjutan dari perkembangan fiqh yang semakin menurun pada periode sebelumnya. Pada era ini kondisi perjalanan fiqih islam sangat buruk sekali, karena pada periode ini para ulamanya sudah beralih profesi menjadi taqlid buta, padahal mereka memiliki kemampuan untuk menempuh jalan para pendahulunya. Selain itu, semangat untuk menulis buku juga menurun sehingga hasil karya ilmiah para fuqoha juga sangat minim dan hanya terbatas pada apa yang sudah mereka temukan dalam kitab-kitab terdahulu.
    b. Faktor-faktor Penyebab Kemunduran
    Ada beberapa sebab terjadinya kemunduran ilmu fiqh pada zaman ini, diantaranya sebagai berikut,
    • Pergolakan politik dalam tubuh Negara Islam, hal tersebut menyebabkan Negara Islam menjadi lemah, yang berdampak pada lemahnya perkembangan ilmu pengetahuan dan diantaranya adalah fiqh Islam.
    • Pada periode ini, para fuqoha lebih memperhatikan warisan fiqh mazhab dan mengajak masyarakat untuk mengikutinya, berfanatik dan menghujat orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka.
    • Para fuqoha membatasi ruang geraknya dan tidak mau berijtihad.
    • Munculnya beberapa buku yang sarat dengan rumusan yang perlu dipecahkan, sehingga masyarakat melupakan buku-buku warisan yang sangat berharga, gaya bahasanya mudah dipahami, dan penjelasannya mudah untuk dicerna.

About Luxman Dialektika

seorang lulusan fakultas Hukum Universitas Islam Negeri Malang dan meneruskan di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Brawijaya yang aktif di pergerakan dan nyantri di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda MALANG, saya orang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting dalam hidup ialah sederhana, santun, jujur, gaya terserah kalian saja, yang terpenting jangan berhenti belajar dan punya konsep di masa depan. okee :)

Posted on Januari 15, 2013, in Kumpulan makalah-makalah. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Admiring the persistence you put into your site and
    in depth information you present. It’s nice to come across a blog every once in a
    while that isn’t the same old rehashed information.
    Excellent read! I’ve bookmarked your site and I’m adding your RSS feeds to my
    Google account.

  2. For that totality of facts ascertains what is the case,
    and also anything is not the case.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: