Hubungan Nilai dan Norma Sanksi

Nilai terbentuk atas dasar pertimbangan-prtimbangan cipta,rasa, karsa, dan keyakinan  seseorang atau keyakinan seseorang atau sekelompok masyarakat/bangsa. Terbentuknya suatu nilai secara teoritis melalui proses tertentu dan atas dasar kesadaran dan keyakinan, jadi tidak dapat dipaksakan.

Nilai secara singkat dapat dikatakan sebagai hasil penilaian/pertimbangan “baik/tidak baik” terhadap sesuatu yang kemudian dipergunakan sebagai dasar alasan (motivasi) melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Norma (kaidah) adalah petunjuk tingkah laku (prilaku) yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, berdasarkan suatu alasan (motivasi) tertentu dengan disertai sanksi.

Sanksi adalah ancaman/akibat yang akan diterima apabila norma (kaidah) tidak dilakukan.

Dari hubungan nilai,norma,dan sanksi ini timbullah macam-macam norma dengan sanksinya, misalnya:

  1. Norma agama dengan sanksi agama
  2. Norma kesusilaan dengan dengan sanksi rasa susila
  3. Norma sopasn santun dengan sanksi sosial dari masyarakat
  4. Norma hokum dengan sanksi hokum dari pemerintah

 

Mengenai pembagian norma,masih ada cara-cara lain dalam pembagiannya.

Hubungan nilai, norma, dan sanksi karena penjelmaan nilai menjadi norma akan sangat mempengaruhi pelaksanaan dari nilai-nilai itu.

Mengingat bahwa nilai-nilai mempunyai sifat subjektif dan objektif sehingga hal ini juga mempengaruhi peralihan nilai menjadi norma dan sanksinya sehingga penerapan nilai-nilai dlam hidup sehari-hari diperlukan adanya kesrasian.Keserasian ini diperlukan terutama dalam hal penerapan nilai-nilai itu karena mengenai pembentukan  nilai itu sendiri adalah bebas meskipun dapat dipengaruhi.

Antar  nilai ada hubungan timbal-balik secara korelatif.Demikian pula hubungan antar norma juga saling mempemgaruhi.

Dalam huibungan dalam nilai-naila yang terkandung di dalam pancasila, pembukaan UUD 45 dan dalam pribadi bangsa Indonesia sehingga mempunyai kekuatan yang mengikat lebih tinggi dan nilai-nilai yang sedang hidup berkembang dalam masyarakat yang masih memerlukan kristalisasi. Meskipun dilihat dari segi hukum norma-norma hukum mempunyai kekuatan mengikat yang lebih tinggi dan sanksi yang lebih kuat (dapat memaksakan pelaksanaannya), dilihat dari segi kamanfaatan, norma hokum dan bukan norma hokum mempunyai hubungan timbal balik, saling dan mengisi.

Pengaruh timbal-balik ini, baik dalam pembentukan norma-norma hukum (penyusunan hukum positif) maupun dalam penerapannya dalam unsur-unsur penegak hukum (alat-alat dan badan-badan peradilan). Namun, demi kemanfaatan dan demi kepastian hukum, pada umumnya dalam pelaksanaannya norma-norma hukum, mempunyai peranan yang lebih menentukan.

Tentang Luxman Blog Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fak.hukuh. yang aktiv di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, gua oarang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah loe dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar & punya konsep masa depan. okee brayy..

Posted on Juni 10, 2013, in edukasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: