tokoh Mu’tazilah beserta pendapatnya

 

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Peristiwa Tahkim yang terjadi dalam perang Siffin antara pihak Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyyah merupakan tonggak munculnya perpecahan dikalangan kaum Muslim menjadi beberapa golongan (mazhab). Perpecahan terjadi pada pihak Ali hal tersebut didasarkan atas kekecewaan sebagian pengikut Ali atas sikap Ali yang menerima tipu muslihat ‘Amr al-As untuk mengadakan Arbitrasi, sungguhpun dalam keadaan terpaksa tidak boleh disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka yang tidak setuju berpendapat bahwa hal serupa tidak dapat diputuskan oleh arbitrasi manusia, putusan hanya dapat diambil dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Quran. Mereka yang menganggap Ali telah berbuat dosa keluar dari barisan Ali dan golongan tersebut dinamakan golongan Khawarij[1], serta golongan yang tetap setia dipihak Ali menamakan dirinya sebagai golongan Syi’ah

Perpecahan umat muslim di atas ternyata memberikan implikasi pada munculnya perbedaan pemikiran tentang akidah yaitu teologi (kalam), dan mereka telah membuat mazhab sendiri, mereka adalah mazhab Mu’tazilah, Jabbariyah, dan Ahlussunah[2]

Kaum mu’tazilah muncul sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dengan Murji’ah berkenaan tentang orang mukmin yang berdosa besar. Golongan ini membawa persoálan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan yang dibawa oleh kaum Khawarij dan Murji’ah. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama “kaum rasionalis Islam”[3]

Orang-orang mu’tázilah adalah pendiri yang sebenarnya ilmu kalam (teologi Islam). Mereka telah membahas sebagian dari problematika ilmu kalam ini pada tahun-tahun pertama abad ke-2.[4] Mu’tazilah merupakan aliran rasional dalam Islam yang paling banyak punya teori dan tokoh, diantara tokoh mu’tazilah yang terkenal adalah Abu Huzail Al-’Allaf (849M/228H), Al-Nazzam (845M/231H) dan Abu Hasyim al-Jubba’I (932M/321H)[5].

Mu’tazilah lahir pada masa bani Umayyah tanpa mendapatkan tantangan dari pihak penguasa, karena mereka tidak menimbulkan gangguan dan memerangi bani Umayyah akan tetapi bani Umayyah tidak memberikan bantuan serta dukungan. Keeksistensian golongan Mu’tazilah berlanjut sampai pada pemerintahan Bani Abbasiah, mereka membiarkan dan tidak membasmi bahkan merangsang golongan tersebut untuk mempertahankan pahamnya. Khalifah al-Ma’mun mengakui dirinya sebagai salah seorang penganut paham Mu’tazilah. Banyak tokoh Mu’tazilah yang diangkat sebagai pengawal dan menterinya. Ia mengadakan diskusi antara Mu’tazilah dengan para ulama’ fuqaha’ untuk mencari persamaan pandangan. Keadaan tersebut berjalan terus sampai wafatnya al-Ma’mun. Diskusi-diskusi ilmiah ini berubah menjadi arena ancaman penyiksaan yang pedih, yang dimaksudkan untuk menarik massa agar menganut paham Mu’tazilah[6]. Peristiwa tersebut muncul sebagai akibat dari pemberlakuan politik Al-Mihna (ujian keyakinan) terhadap para ulama’ fiqih dan hadits.

Pada waktu wahyu belum diturunkan Tuhan, Mu’tazilah beranggapan bahwa akal manusia dapat mengetahui baik dan buruk suatu perbuatan  dan akal dapat mewajibkan manusia mengikuti perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jelek, yang dianggap sebagai syari’at waktu itu. Konsep tersebut tidak ditemukan pada asy’ariyah yang hanya mengakui bahwa akal dapat mengetahui perbuatan baik dan buruk, namun tidak dapat mewajibkan atau melarang manusia tentang hal itu. Mu’tazilah lebih menghargai kemampuan akal dari pada asy’ariyah. Sehingga pendapat-pendapat Mu’tazilah bersifat lebih rasional dibanding pendapat-pendapat lainnya dalam menanggapi masalah-masalah teologi Islam.

  1. B.     POKOK PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis menformulasikan 3 pokok permasalahan,:

  1. Siapakah tokoh penting Mu’tazilah?
  2. Bagaimanakah proses terjadinya politik al-Mihnah (ujian keyakinan) aliran mu’tazilah?
  3. Bagaimanakah perkembangan Mu’tazilah sebagai ilmu kalam serta pengaruhnya di dunia Islam?


BAB II

PEMBAHASAN

 

Pada tahun 100H/781M telah muncul aliran baru dalam teologi Islam yang disebut aliran Mu’tazilah yang dibina oleh Watsil bin Atho’ murid Hasan Basri. Ciri utama yang membedakan aliran ini dari aliran teologi Islam lainnya adalah pandangan teologisnya banyak ditunjang dengan dalil-dalil aqliyah dan lebih bersifat filosofis, sehingga lebih sering disebut ‘aliran rasionalis Islam’. Selain nama Mu’tazilah, pengikut aliran ini juga sering disebut kelompok ahlut tauhid, kelompok ahlul adl, dan lain-lain. Sementara pihak modern yang berseberangan dengan mereka menyebut golongan ini dengan free act, karena mereka menganut prinsip bebas berkehendak dan berbuat[7].

Dalam hal ini kaum Mu’tazilah menerapkan doktrin yang dikenal dengan Ushus Al-Khamsah (Lima asas), Joseph Schacht (1974) mengatakan dalam bukunya:

“One of the first leader adopted the following plan for the presentation of Muslim doctrine, firstly predestination and (divine) attributes, secondly divine unity and attributes, thirdly eschatology (promise and threats), fourthly legal terms and states and fifthly ‘ordering the good and forbidding evil, the role of prophecy and caliphate”[8] 

 

(Salah satu dari pemimpin pertama yang mengadopsi rencana berikut  dalam mendoktrin orang Islam adalah, pertama takdir dan sifatnya, kedua Ketuhanan dan sifatnya, ketiga ilmu tentang akhirat (ancaman dan janji), keempat istilah hukum dan negara dan yang ke lima memerintahkan yang baik dan melarang kejahatan, peran kalifah dan kenabian)

 

Mu’tazilah merupakan aliran rasional dalam Islam yang paling banyak punya teori dan tokoh, diantara tokoh mu’tazilah yang terkenal adalah Abu Huzail Al-’Allaf (849M/228H), Al-Nazzam (845M/231H) dan Abu Hasyim al-Jubba’I (932M/321H)

  1. A.    Tiga tokoh Mu’tazilah yang terkenal beserta pendapatnya
    1. b.      Biografi Tiga Tokoh Muktazilah
      1. Abu Huzail al-’Allaf (849M/228H)

Nama lengkapnya adalah Abu Hauzail Hamdan ibn Huzail al-‘Allaf,[9] ia merupakan pendiri yang sebenarnya bagi aliran Mu’tazilah, Usman al-Thawil, murid Washil bin Atho’ adalah gurunya[10]. Kelebihan Al-’Allaf adalah ia mempunyai pengetahuan yang luas, pemikiran mendalam, lisan fasih, argumentasi kuat, pendebat alian dualisme dan rafidah. Banyak karangan dan tulisan yang dihasilkan olehnya akan tetapi karya tersebut tidak mampu terselamatkan. Al-’Allaf merupakan orang pertama di kalangan Muslimin yang serius terjun menggeluti problematika ketuhanan, yang dibalutnya dengan label filosofis.[11]

Al-’Allaf adalah pemimpin Mu’tazilah yang banyak berhubungan dengan filsafat Yunani. Banyak buku-buku Yunani yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Pada masa Harun ar-Rasyd telah dikirim orang-orang ke Eropa mencari manuskrip-manuskrip Yunani untuk dibeli dan dikumpulkan di Bagdad dan kemudian diterjemahkan,[12] oleh karenanya beberapa pendapatnya banyak yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan Nashrani. Dia juga mempunyai firqah yang dinamakan Huzailiyah[13].

 

  1. Al-Nazzam (845M/231H)

Nama lengkap Al-Nazzam adalah Ibrahim ibn Yasar ibnu Hani an Nazam.[14] Ia filosof pertama dari kalangan Mu’tazilah yang paling mendalam pemikirannya, paling berani, paling banyak berfikir merdeka, disamping orisinil pendapatnya diantara mereka. al-Nazzam merupakan anak saudara perempuan al-Allaf dan sekaligus muridnya. Dia dibesarkan di Basrah, kemudian mengembara di pusat-pusat peradaban Islam, dan akhirnya dia berdomisili di Bagdad.[15] Ia juga dikenal dengan pendapat-pendapatnya yang jauh dari adab[16]

  1. Abu Hasyim al-Jubba’I (932M/321H)

Abu Hasyim al-Jubba’I adalah tokoh muktazilah yang berguru kepada al-Syahham, salah satu murid dari Huzail al-Allaf[17] ia dilahirkan dan dibersarkan di Basrah. Ia belajar pada ayahnya. al-Jubbai dan al-Asyári pada awalnya merupakan sendi yang menopangnya, kemudian ia memisahkan diri darinya, berbeda pendapat darinya dan mendirikan kelompok khusus. Ia berpindah ke kota Bagdad. Di kota ini al-Jubbai mengenal gerakan filsafat, ia hidup sezaman dengan al-Farabi. Teori tentang kondisi-kondisi, al-Ahwal merupakan saksi terbaik yang membuktikan anggapan itu.[18]


  1. b.      Beberapa Pendapat dari Tiga Tokoh Muktazilah
    1. Tempat Tinggal Allah

Abu al-Huzail dan al-Jubbai sepakat bahwa Allah swt itu berada di setiap tempat yang berarti Dia mengatur sesuatu di setiap tempat, sehingga aturan-Nya pun berada di setiap tempat, sedangkan al-Nazzam berpendapat bahwa Allah swt tidak berada di setiap tempat, tetapi hanya bertempat pada diri-Nya sendiri

Adapun tentang firman Allah swt:

ß`»oH÷q§9$# ’n?tã ĸöyèø9$# 3“uqtGó™$# ÇÎÈ

Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy [QS. Toha, 20:5]

 

Para pengikut aliran muktazilah menafsirkan kata استوى ini (yang artinya bersemayam) dengan أأأأأأأأأاسيشيشيشستبهص ثبخسحيختبجاستولى yang artinya berkuasa[19].

  1. Tentang Allah Bersifat Tahu dan Kuasa

Abu Huzail berpendapat bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala ilmu dan ilmu-Nya adalah zat-Nya, Allah maha qudrah dan qudrah-nya adalah zat-Nya, dan Allah Maha Hidup, dan kehidupan-Nya adalah zat-Nya.[20]

Al-Nazzam mengatakan bahwa arti pernyataan Allah bersifat tahu itu ialah menisbatkan Dzat-Nya sebagai yang bersifat tahu dan menafikan Dia bersifat bodoh, Allah itu bersifat kuasa itu menisbatkan Dzat-Nya sebagai yang bersifat kuasa menafikan Dia bersifat lemah. Perbedaan nama-nama dan Dzat-Nya itu karena adanya faedah-faedah yang muncul terhadap nama-nama dan sifat-sifat itu sendiri. Sehingga apabila dinyatakan Allah itu Maha Tahu artinya pun dinisbatkan bahwa tidaklah dibolehkan Allah itu tidak mengetahui, bahkan dinafikan pula orang yang menganggap Allah itu bodoh, sebab pada Dzat-Nya terdapat pengetahuan.[21]

Al-Jubbai berpendapat bahwa Allah swt maha mengetahui dengan zat-Nya, yang dimaksud dengan zat adalah pengetahuan-Nya, kekuasaan dan kehidupan-Nya, bukan sifat yang berdiri sendiri, baik sifat maha mengetahui atau dalam keadaan mengetahui.[22] Lebih jelas dia menjelaskan bahwa Allah selalu bersifat tahu terhadap sesuatu, baik yang berupa substansi atau aksiden dan sesuatu itu sebenarnya telah diketahui dan dinamai sesuatu sebelum ia terjadi, begitupun dengan substansi, dia beranggapan substansi itu sudah diketahui dan dinamai substansi sebelum ia terjadi dan hal itu berlaku pula terhadap yang lain, seperti gerak, diam, warna, rasa bau, atau kehendak.[23]

Dari ketiga pendapat muktazilah diatas pada dasarnya mengalir ke titik yang sama, yaitu penafian sifat Allah dengan menisbatkan kepada zat-Nya, bukan sifat yang berdiri sendiri, karena mengukuhkan sifat berarti menjadikan zat-Nya berbilang dan bertentangan dengan qadim-Nya

  1. Sifat Iradah Allah

Abu Huzail berpendapat bahwa Iradah Allah tidak ada tempatnya, Allah hanya menghendakinya[24]

Al-Nazzam berpendapat bahwa pada dasarnya Allah tidak mempunyai sifat Iradah, sedangakan Iradah Allah yang dicantumkan di dalam al-Qur’an mempunyai arti Allah adalah pengatur dan pencipta sesuai dengan ilmu Allah[25]

Al Jubbai berpendapat bahwa Mengakui adanya keinginan (iradah) dari makhluk ini dan keinginan ini tidak mempunyai mahal (tempat). Karena itu Allah dikatakan maha berkehendak untuk mengagungkan-Nya namun kehendak-Nya demi mengagungkan zat-Nya maka  kehendak-Nya tidak mempunyai tempat[26]

 

  1. Tentang ketentuan (qadar) Allah atas perbuatan manusia

Abu Huzail berpendapat bahwa  Apa yang akan berlaku di akhirat adalah juga berdasarkan takdir Allah – Orang yang kekal di neraka adalah berdasarkan takdir Allah dan tidak ada seorangpun yang dapat mengelakkannya, karena semua merupakan ciptaan Allah bukan akibat dari perbuatan manusia,[27] ikhtiar manusia hanya ada di dunia saja, sebab di akhirat bukanlah tempat pembebanan syari’at dan disana tidak ada ikhtiar[28]. Secara umum pendapat Abu Huzail sejalan dengan tokoh muktazilah yang lain yakni mengakui adanya usaha manusia dan keadilan Tuhan hanya saja dalam pendapat di atas dia menspesifikkan usaha manusia yang hanya berlaku di dunia bukan di akhirat dan keadilan Tuhanlah yang akan menentukan kedudukan manusia ketika di akhirat, antara di surga atau di neraka.

Al Nazzam menambahkan pendapat muktazilah tentang ketentuan (qadar) baik dan buruk berasal dari manusia bahwa, Allah tidak kuasa untuk menciptakan keburukan dan maksiat karena hal itu tidak termasuk  dalam kehendak (qudrah) Allah.[29]

Al Jubbai berpendapat yang sama dengan Nazzam bahwa Manusia tidak melihat zat Allah di akhirat dan semua perbuatan yang lahir dari manusia dan maksiat semuanya disandarkan kepada manusia[30]

  1. Kedudukan Akal

Abu Huzail menyatakan  tentang Mukallaf sebelum diturunkan wahyu – Orang yang ada sebelum diturunkan wahyu wajib mengenal Allah dan seandainya dia mengabaikannya maka ia dikenakan dosa dan siksa. Orang yang ada sebelum diangkat Rasul  sudah megenal baik dan buruk, karenanya ia wajib berbuat demikian seperti berlaku benar dan adil. Dan menyingkir dari yang buruk seperti berbuat zalim dan berdusta.[31]

Al Nazzam melontarkan pendapat yang sama tentang kedudukan wahyu yaitu Orang yang mampu berfikir sebelum turunnya wahyu maka ia wajib mengenal Tuhan karena mengenal tuhan melalui akal adalah dalil ukuran baik dan buruk adalah akal[32]

Lebih ekstrim lagi al Jubbai memberikan argumentasinya tentang akal bahwa Mengenal yang baik dan buruk ditetapkan oleh akal, menurut dia dengan akal ditetapkan hukum-hukum dan waktu-waktu ibadah. Mereka tidak mengakui adanya ketentuan syari’at yang tidak bisa dijangkau dengan akal sesuai dengan ketentuan akal seorang yang berbuat berbuat taat wajib memperoleh pahala dan seorang yang berbuat maksiat akan mendapatkan siksa, wahyu hanya menetapkan dari sisi waktu dan kekalnya[33]


  1. B.     Politik Al-Mihna

Kedudukan Mu’tazilah semakin kokoh setelah al-Makmun[34] resmi menjadikan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara, hal ini disebabkan sejak kecil al-Makmun telah dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan ilmu pengetahuan dan filsafat. Dalam fase kejayaan itu Mu’tazilah sebagai golongan yang mendapatkan dukungan penguasa memaksakan ajarannya kepada kelompok lain. Pemaksaan ajaran ini dikenal dalam sejarah dengan peristiwa Mihna.

Mihnah itu timbul sehubungan dengan paham-paham khalqul qur’an. Mu’tazilah berpendapat bahwa al-Qur an adalah kalam Allah SWT yang tersusun dari suara dan huruf-huruf. Al-Qur’an itu makhuk dalam arti diciptakan Tuhan. Karena diciptakan berarti ia sesuatu yang baru, jadi tidak qadim.  Jika al-Qur’an itu dikatakan qadim maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang qadim selain Allah dan ini hukumnya musyrik.[35] Pada tahun 212H Khalifah al-Ma’mun yang secara terang-terangan mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk menginstruksikan Ishaq bin Ibrahim al-Khuzai anak paman Thahir bin al-Husain untuk dilaksanakan politik al-Mihna (pengujian keyakinan) terhadap para ulama’ tentang keyakinan mereka akan paham ini,[36] tetapi mereka tetap tabah dan sabar. Ketabahan para ulama’ dalam menjalani al-Mihna menimbulkan rasa simpati yang besar dikalangan masyarakat terhadap mereka dan sebaliknya menimbulkan kebencian kepada Mu’tazilah yang menjadi biang keladi timbulya al-Mihna.[37] Jelasanya para pembenci berpendapat bahwa kedudukan strategis Mu’tazilah di pemerintahan al-Makmun telah membuat mereka anarkis dan otoriter yaitu dengan memaksakan pemikiran-pemikirannya kepada pihak lain dan hal itu merupakan suatu bentuk pemikiran yang tidak bercirikan kebenaran.

Menurut al Ma’mun orang yang mempunyai keyakinan bahwa al-Qur’an adalah qadim tidak dapat dipakai untuk menempati posisi penting di dalam pemerintahan, terutama dalam jabatan Qadi. Dalam pelaksanaannya, bukan hanya para aparat pemerintahan yang diperiksa, tetapi juga tokoh-tokoh masyarakat. Sejarah mencatat banyak tokoh dan pejabat pemeritahan yang disiksa, diantaranya adalah Imam Hambali. Bahkan ada ulama yang dibunuh karena tidak sepaham dengan aliran Mu’tazilah, seperti al Khuzzai dan al Buwaiti. Peristiwa ini sangat menggoncangkan umat Islam dan baru berakhir setelah al Mutawakkil berkuasa pada masa 232-247 H menggantikan al Wasiq, khalifah pada masa 228-232 H. Dimasa al-Mutawakkil, dominasi aliran Mu’tazilah menurun dan menjadi semakin tidak simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakil membatalkan mazhab Mu’tazilah sebagi mazhab resmi negara dan menggantinya dengan aliran Asy’ariyah.[38]


  1. C.    Perkembangan al-Mu’tazilah sebagai ilmu kalam serta pengaruhnya di dunia Islam

Pada masa dinasti muawiyyah telah berkembang isu qadar yang menyatakan La Qadar (tidak ada takdir). Menurut laporan Muslim, orang pertama yang menyatakan isu ini adalah Ma’bad al-Juhani (w. 80 H/701). Isu ini lahir di Basrah sekitar tahun 70H/691M. Isu tersebut kemudian berkembang menjadi opini publik. Mengenai isu yang dinyatakan oleh Ma’bad, terdapat dua versi laporan yang berbeda tentang factor yang mempengaruhi Ma’bad.

Pertama dari Abd Jabbar. Dia menyatakan bahwa Ma’bad Al-Juhani memunculkan ide ini sebagai reaksi terhdap opini publik yang ditanamkan oleh penguasa bani Umayyah waktu itu, bahwa segala yang terjadi merupakan taqdir Allah sedangkan Ma’bad menyatakan bahwa nasib baik dan buruk manusia adalah karena mereka sendiri, bukana karena takdir Allah. Dari laporan ini dapat disimpulkan bahwa isu Qadar Ma’bad ini murni merupakan reaksi pandangan Jabbariyah penguasa Umayyah dan bentuk perlawanan terhadap kezaliman mereka.

Kedua, laporan ibnu Hajar mengenai Ma’bad. Menurutnya, mengutip laporan dari al-Awza’i (w. 157H/778M), ide qadar Ma’bad ini diambil dari Susan, orang kristen yang masuk Islam dan kemudian masuk kristen lagi. Dari kedua laporan di atas dapat disimpulkan bahwa sumber mu’tazilah cenderung menutup berbagai spekulasi mengenai adanya hubungan antara Ma’bad dengan orang kristen, sementara pihak lain sumber lain, baik ahli hadits ataupun pemerintahan saat itu, dalam kasus ini al-Awza’i, cenderung membenarkan spekulasi tersebut. Sebenarnya kedua laporan di atas dapat dikompromikan, tanpa menafikan kesahihan salah satunya. Antara lain bahwa, ide tersebut memang diambil dari orang kristen, tetapi hanya sebatas kulitnya saja, yaitu dimanfaatkan untuk membantah kezaliman penguasa waktu itu setelah mereka menjustifikasikan kezaliman mereka dengan takdir Allah. Menurut Ibnu hajar, ide Laa Qadar Ma’bad yang telah menjadi opini publik di kalangan penduduk Basrah dikembangkan oleh Ghaylan al-Damasqi (w + 126H/743M) di Syam, menurut laporan abd al-Jabbar dia adalah Hujjatullah bagi penduduk syam, kemudian Ghaylan dibunuh oleh Hisyam bin al-hakam, penguasa bani Umayyah. Langkah Ghaylan kemudian diikuti oleh Wasil bin ’Ata’ lebih lanjut ide ini dikembangkan oleh Wasil di tempat kelahirannya sebelum dia hijrah ke basrah dan opini publik penduduknya mendukung ide Qadar Ma’bad.[39]

Aliran Mu’tazilah melewati dua fase yang berbeda, fase Abbasiah (100H/237M) dan fase bani Buwaihi (334H/447M). Generasi pertama mereka hidup di bawah pemerintahan bani Umayyah untuk waktu yang tidak terlalu lama. Kemudian memenuhi zaman awal zaman Abbasiah dengan aktivitas, gerak, teori, diskusi dan pembelaan terhadap agama, dalam suasana yang dipenuhi oleh pemikiran yang baru dan pendapat internal. Dimulai di Bashrah. kemudian di sini berdiri cabang sampai ke Bagdad. Orang-orang Mu’tazilah Bashrah bersikap hati-hati dalam menghadapi masalah politik, kelompok Mu’tazilah Bagdad justru terlibat jauh. Mereka ambil bagian dalam menyulut dan mengobarkan api inquisisi bahwa al-Qur’an adalah makhluq hingga melahap mereka.[40]

Banyak teori yang dilahirkan oleh kaum Mu’tazilah dengan aliran rasionalnya, mereka membahas secara filosofis hal-hal yang tadinya belum diketahui melalui metode filsafat. Mereka memberikan pemecahan terhadap problematika-problematika pelik, semisal teori kammun, tafrah, dan tawallud, dengan menampilkan pemecahan-pemecahan yang baru. Dengan nama studi tentang akidah mereka membahas masalah moral, politik, fisika dan metafisika. Mereka membentuk suatu pemikiran filsafat yang berkonsentrasi membahas masalah tuhan, alam dan manusia, yang merupakan filsafat Islam itu.[41]

Timbulnya paham Mujassimah dan al-Rafidhah yang mengatakan  bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri para Imam tertentu. Kemudian timbul kaum Zindiq. Untuk menghadapai mereka dalam rangka membela Islam tampil sekelompok orang yang tidak hanya telah mempelajari ilmu-ilmu yang menggunakan nalar, tetapi memahami dalil-dalil naqli, itulah golongan Mu’tazilah yang semata-mata bertindak untuk membela agama. Lima dasar (al-ushul al-khamsah) paham Mu’tazilah yang mereka dukung dan pertahankan hanya merupakan hasil serangkaian perdebatan sengit yang terjadi antara mereka dan lawan-lawan mereka tersebut diatas. Prinsip tauhid yang dibawa mereka dimaksudkan untuk menolak paham al-Mujassimah dan al-Mushabbihah, prinsip keadilan dimaksudkan untuk menolak paham Jahmiyah, dan prisnsip al-Wa’d wa al-Wa’id untuk membantah paham Murjiáh. Adapun al-Manzilah bain al-Manzilatain untuk menolak paham Murji’ah dan Khawarij sekaligus.[42]

Jasa-jasa kaum Mu’tazilah terhadap Islam tersebut di atas memberikan simpati kepada khalifah pada masa bani Abbasiah, sehingga pada pemerintahan al-Makmun banyak ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan melahirkan beberapa pemikir Islam. Akan tetapi posisi strategis Mu’tazilah di pemerintahan al-Makmun membuat mereka bertindak sewenang-wenang dan anarkis sehingga menimbulkan munculnya politik Mihna sebagaimana penjelasan di atas. Lebih lanjut perbuatan Mu’tazilah tersebut memicu perlawanan dan permusuhan yang keras orang-orang yang membencinya, sehingga jatuhlah golongan Mu’tazilah. Buku-buku Mu’tazilah lenyap dari peredaran, pengetahuan ajarannya hanya dapat diperoleh dari karangan-karangan lawan mereka.[43]

Namun sejak awal abad 20-an berbagai karangan Mu’tazilah diketemukan lagi dan dipelajari di berbagai perguruan Islam, seperti di al-Azhar. NeoMu’tazilah, seiring dengan semakin gencar-gencarnya pemikiran barat (orientalis) mempelajari Islam dan menyuguhkannya kepada para pemikir-pemikir Islam modern seperti Hasan Hanafi, Nasr Ibn Zaid, Arkoun, dan lain-lain.[44]

Faham Mu’tazilah kini muncul dengan wajah barunya, bahkan kini sudah merambah ke tokoh-tokoh muslim Indonesia, kemudian melempar isu-isu yang nakal yang dapat merusak keimanan setiap muslim, betapa tidak beberapa dari mereka bahkan secara terang-terangan sudah mempertanyakan keotentikan Alqur’an dan menganggap semua agama benar (pluralisme agama). Masih segar dalam ingatan kita beberapa waktu yang lalu salah satu tokoh Islam liberal Ulil Abshar secara tegas menyatakan bahwa kaum Liberalis adalah penerus aliran mu’tazilah, bahkan kalau  melihat pemikiran-pemikirannya mereka justru melebihi aliran mu’tazilah, banyak pemikir Liberal mencoba merelatifkan nilai-nilai ajaran Islam dengan menyamakannya seperti budaya lain.[45]


BAB III

KESIMPULAN

 

  1. Kebebasan berpendapat yang diterapkan oleh faham Mu’tazilah adalah sangat tinggi sekali, mereka bebas berteori dan menkritik teori orang yang sefaham bahkan gurunya sendiri, akan tetapi beberapa perbedaan para tokoh Mu’tazilah pada dasarnya bermuara yang sama, yaitu kembali pada 5 ajaran dasar (al ushulul al  khamsah)
  2. Munculnya beberepa friksi dalam teologi Islam membuat mereka saling mengkafirkan – Mu’tazilah yang merupakan salah satunya. Demi keeksistensian ajarannya, mereka menggunakan beberapa cara yang diantaranya melalui kekuasaan pada pemerintahan bani Abbasiah yaitu dengan memaksakan ajarannya kepada semua masyarakat, sehingga memicu timbulnya al-Mihnah
  3. Faham Mu’tazilah yang diawalai oleh maha gurunya Wasil bin Atho’ telah melahirkan beberapa tokoh penting beserta pendapat-pendapatnya, dalam perjalannya, aliran yang selalu mengedepankan akal dalam memecahkan masalah-masalah teologi ini sering mendapatkan tantangan karena ide kontroversialnya, sehingga jatuhlah faham ini. Ajaran Mu’tazilah berkembang kembali setelah ajaran-ajarannya ditemukan dan dipelajari dari lawannya dan sampai sekarang ajaran itu terus dikembangkan dan dipelajari oleh para pemikir teologi di masa sekarang.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Asy’ari, Abu al-Hasan Ismail (Prinsip-Prinsip Dasar Aliran Theology Islam), CV Pustaka Setia, Bandung, 1998

 

Asmuni, Yusran, Ilmu Tauhid, PT Raja Grafindo, Jakarta, 1994

 

As-Suyuti, Imam, Tarikh Khulafa’, Pustaka al-Kausar Jakata, 2006

 

Asy-Syak’ak, Mustofa Muhammad, Islamu Bi Laa Madzaahib, Gema Insani Press, Jakarta, 1994

 

Http//nulibya.co.nr, didownload tanggal 18 September 2007 jam 14.14 wita

 

Madkour, Ibrahim, Aliran Dan Teori Filsafat Islam, Bumi Aksar, Jakarta, 1995

 

Maghfur, Muhammad . Koreksi atas Kesalahan Ilmu Kalam dan Filsafat Islam. Al-Izzah, Jakarta, 2002

 

Nasution, Harun, Teologi Islam. UI Press, Jakarta, 2006

 

_____________, Islam Rasional, Mizan, Bandung, 1998

 

Schacht, Joseph, the Legacy of Islam, Oxford at the Clarendon Press. 1974

 

Shahrastani, Muhammad Abd Al Karim, Al-Milal Wa Al-Nihal, PT Bina Ilmu, Surabaya, 2006

 

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam. Rajawali Press, Jakarta. 2006

 

Zahrah, Imam Muhammad Abu Aliran Politik Dan Akidah Dalam Islam. Logos Publishing House, Jakarta, 1996

 

TOKOH PENTING MUKTAZILAH, AL-MIHNA DAN

PERKEMBANGAN MUKTAZILAH SEBAGAI ILMU KALAM

 

MAKALAH REVISI

 

Dipresentasikan pada Seminar Kelas

Dalam Mata Kuliah Sejarah Pemikiran dalam Islam

Semester I

 

Oleh :

 

Ending Mumtazul Haq

80100207055

Dosen Pemandu :

 

Prof. Dr. Moch Kasim Mathar

Dr. H. Kamaluddin Abu Nawas, M. Ag.

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN

MAKASSAR

2007


[1] Harun Nasution, Teologi Islam. (Jakarta: UI Press, 2006) cet. ke-5, h.8

[2] Muhammah Maghfur W. Koreksi atas Kesalahan Ilmu Kalam dan Filsafat Islam. (Jakarta: Al-Izzah, 2002) cet, ke-1. h.37

[3] Harun Nasution, Teologi Islam. op. cit. hal. 40

[4] Ibrahim Madkour, Aliran Dan Teori Filsafat Islam (Jakarta: Bumi Aksar, 1995), cet, ke-1. h.45

[5] Ibid. h.53

[6] Imam Muhammad Abu Zahrah. Aliran Politik Dan Akidah Dalam Islam. (Jakarta: Logos Publishing House, 1996) cet, ke-1, h. 157-158.

[7] Http//nulibya.co.nr, didownload tanggal 18 September 2007 jam 14.14 wita

[8] Joseph Schacht, the Legacy of Islam, (Oxford at The Clarendon Press. 1974) h. 386

[9] Muhammad Abd Al Karim Shahrastani, Al-Milal Wa Al-Nihal diterjemahkan oleh Asywadie Syukur (Surabaya: PT Bina Ilmu, 2006) h. 42

[10] Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1994), cet ke-2.  h. 118

[11] Ibrahim Madkour, op. cit, h.54

[12] Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1998), cet ke-5. h. 131

[13] Mustofa Muhammad Asy-Syak’ak, Islamu Bi Laa Madzaahib, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994) cet., ke-1. h. 317

[14] Muhammad Abd Al Karim Shahrastani, op., cit, h. 45

[15] Ibrahim Madkour, op. cit. h. 55

[16] Mustofa Muhammad Asy-Syak’ak, op, cit., h.318

[17] Yusran Asmuni, op, cit. h. 119

[18] Ibrahim Madkour, op. cit. h. 58

[19] Abul Hasan Ismail Al-Asy’ari (Prinsip-prinsip Dasar Aliran Theology Islam) Alih Bahasa oleh Nasir Yusuf dan Karsidi Ningrat (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998) h.221-222

[20] Mustofa Muhammad Asy-Syak’ak, op., cit. h. 317

[21] Ibid. h. 231-232

[22] Muhammad Abd Al Karim Shahrastani, op.,cit h. 67

[23] Mustofa Muhammad Asy-Syak’ak, op., cit. h. 225-226

[24] Muhammad Abd Al Karim Shahrastani, op.cit.,h. 43

[25] Ibid. h. 46

[26] Ibid. h. 65

[27] Ibid. h. 43

[28] Mustofa Muhammad Asy-Syak’ak, Op. , Cit. h. 317

[29] Muhammad Abd Al Karim Shahrastani. Op., Cit. h. 45

[30] Ibid. h. 66

[31] Ibid. h. 44

[32] Ibid. h. 49

[33] Ibid. h. 66

[34] Al-ma’mun adalah Khalifah bani Abbasiyah ke VII yang dikenal sebagai pencinta ilmu pengetahuan, pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah Bait al-Hikmah. Lih. Badri Yatim, sejarah peradaban Islam. (Jakarta: Rajawali Press,.2006). hal. 53

[35] Imam Muhammad Abu Zahrah. Op. cit., h. 162

[36] Imam as-Suyuti, Tarikh Khulafa’, (Jakata: Pustaka al-Kausar, 2006) cet ke-6. h. 376-377

[37] Imam Muhammad Abu Zahrah. op. cit., h. 162

[38] Http//nulibya.co.nr, didownload tanggal 18 September 2007 jam 14.14 wita

[39] Muhammad Maghfur, op. cit., h. 16-21

[40] Ibrahim Madkur. op. cit., h. 46

[41] Ibid., h. 45

[42] Imam Muhammad Abu Zahrah. op, cit., h. 157

[43] Harun Nasution, Islam Rasional, op. cit. h. 137

[44] Http//nulibya.co.nr, didownload tanggal 18 September 2007 jam 14.14 wita

[45] Ibid

About Luxman Blog Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fak.hukuh. yang aktiv di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, gua oarang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah loe dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar & punya konsep masa depan. okee brayy..

Posted on Mei 24, 2013, in Kumpulan makalah-makalah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: