HAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Judul : HAM DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Penerbit : Nuansa Madani Jakarta
Tahun : 2002

 

Pembahasan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam perspektif Islam menarik untuk dicermati, karena ada preseden historis otentik semasa pembentukan masyarakat awal di madinah yang telah mempergunakan “kontrak sosial” dalam menata sistem sosial saat itu. Persamaan dan kebebasan sebagai fundamen yang menyangga HAM Barat, waktu itu sebenarnya telah diakomodir secara memadai dalam apa yang kita kenal dengan “Piagam Madinah”. Begitu pun al-Qur’an dan Hadits, dalam batas tertentu telah meletakkan kedua hal tersebut sebagai intrumen yang diberikan kepada manusia sejak lahir untuk menjadi khalifah di  muka bumi.

 

Penegakan HAM yang selama ini hadir di permukaan, sedianya dilihat dalam perspektif Islam tersebut, mengingat kungkungan hegemoni Barat dengan peran politik, ekonomi, budaya, dan penguasaan media informasi cetak maupun elektronik, telah berjalan secara sistemik. Ketegangan konseptual yang mengitari diskusi HAM Barat vis a vis Islam akan menemukan bentuknya yang sempurna, jika internalisasi nilai yang diserap dari HAM Barat diwujudkan dengan proses penyaringan nilai.

 

Buku yang ditulis oleh Eggi Sudjana, seorang tokoh pergerakan Islam dan sekarang kerap jadi pembela golongan Islam yang diduga telah melanggar HAM, terlihat urgensinya. Senada dengan ini, saran Umar Kayam, nilai budaya lokal akan berperan banyak dalam mendukung penegakan HAM jika digali secara seksama. Tidak lain, agar pelaksanaannya nanti disangga oleh kesadaran yang berangkat dari masyarakat sendiri, tanpa menimbulkan ketegangan konseptual dan operasional.

 

Misi yang dibawa buku ini adalah menjernihkan basis nilai HAM yang selama ini bekembang dengan kacama mata pandangan Islam. Beberapa definisi yang diutarakan oleh pemikir HAM Barat seperti John Locke, Jan Materson, Rousseau, Habermas, dan Thomas Jefferson yang kemudian membidani lahirnya Magna Charta, The France Declaration, The Four Freedom-nya D. Roosevelt dan memuncak dengan lahirnya The Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Di sini konstruksi nilai HAM Barat dianalisa dengan mempergunakan al-Qur’an, hadits, perkataan sahabat, dan beberapa pendapat dari intelektual muslim.

 

Penulis buku ini hendak memperingatkan tentang cara infiltrasi HAM Barat yang telah terjadi secara perlahan tapi pasti, dengan piranti hegemoni kultural pasca kolonialisasi. Ini sedianya tidak diterima begitu saja (taken for granted), yang pada gilirannya kita tidak sadar akan basis nilai Islam yang sebenarnya tidak lebih jelek dari HAM Barat itu. Bukankan Islam merupakan gugusan nilai yang datang untuk menciptakan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia (rahmatan lil âlamîn)?

 

Eggi juga menuturkan signifikansi HAM Barat dan Islam pada posisi akhir dari sekian banyak varian nilai yang disuguhkan keduanya. HAM Barat meletakkan manusia sebagai sentral dari setiap perumusan nilai yang dikembangkan untuk memuliakan manusia an sich. Sementara dalam Islam, manusia hanya unit kecil mikrokosmis dari susunan besar makrokosmis yang meliputi seluruh alam semesta. Keduanya berusaha untuk menjadikan manusia sebagai hamba yang mengabdi kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta.

 

Dalam sistematikanya, buku ini dibingkai dengan penjelasan awal tentang HAM dalam perspektif yang selama ini berkembang, itu yang pertama. Kedua, komparasi antara The Universal Declaration of Human Right (UDHR) yang dilahirkan PBB pada tahun 1948 sebagai representasi dari nilai HAM Barat pada satu sisi dan Cairo Declaration pada tahun 1990 sebagai representasi HAM Islam (baca: Timur) pada sisi lain.

 

Ketiga, membicarakan tentang implementasi dalam kehidupan masyarakat, yang pembahasannya meliputi masalah HAM, hukum dan masyarakat, HAM dan kehidupan sosial politik kenegaraan, komitmen HAM dan kejahteraan sosial-ekonomi, jaminan HAM dalam kehidupan beragama, dan terakhir tentang HAM dalam lintasan budaya bangsa-bangsa di dunia.

 

Keempat, membicarkan tentang Islam dan perlindungan nilai-nilai asasi manusia, yang dipecah dalam beberapa bagian, yakni darah dan nyawa, sanksi hukum qishash, harta benda, dan harga diri.

 

Kelima, menakar harapan dan kenyataan antara Hukum dan HAM. Runutan materinya, dimulai dengan menjelaskan tentang hegemoni Barat dalam menyebarakan versi HAM-nya. Dilanjutkan dengan penegasan tentang HAM Barat yang pada kenyataannya telah memicu sentimen sara, evaluasi pelaksanaan HAM di Indonesia, kemungkinan penegakan syariat Islam, dan model HAM ideal dalam perspektif Islam.

 

Pada bagian akhir buku ini dilampirkan beberapa dokumen penting tentang Pernyataan Semesta Hak Asasi Manusia 1918, Pernyataan Kairo Mengenai Hak-Hak Asasi Islam 1990, Khutbah Rasulullah Saw. di Padang Arafah pada Haji Wada’, Piagam Madinah, dan Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

 

Ditulis oleh Muhtar Sadili, Staf PSQ.

About these ads

Tentang Luxman Blog Dialektika

seorang yang masih belajar di Universitas Islam Negri malang fak.hukuh. yang aktiv di pergerakan dan nyantri di Pesantren NH MALANG, gua oarang lampung yang nyasar ke malang, yang terpenting hiduplah sederhana,santun,jujur, gaya terserah loe dah,, yang terpenting jangan berhenti belajar & punya konsep masa depan. okee brayy..

Posted on Mei 9, 2013, in Kumpulan makalah-makalah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: